Hani [Chicken Soup for the College Soul]

Bismillahirrahmanirrahim…

Ini aku ambil dari Chicken Soup for the College Soul, yang dibeliin bapakQ 11 Oktober 2003, aku masih kelas X. Belum ada pikiran tentang kuliah.

Perbedaan antara yang mustahil dan yang tidak mustahil terletak pada tekad seseorang. [Tommy Lasorda]

Pada hari aku bertemu Hani Irmawati, ia adalah gadis berusia 17 yang pemalu, berdiri sendirian di tempat parkir sekolah internasional di Indonesia, tempatku mengajar Bahasa Inggris. Sekolah itu mahal dan tidak menerima murid orang Indonesia. Ia menghampiriku dan bertanya apakah aku dapat membantunya memperbaiki kemampuan Bahasa Inggrisnya. Aku tahu bahwa dibutuhkan keberanian besar untuk gadis Indonesia yang berbaju lusuh ini menghampiriku dan meminta bantuanku.

“Mengapa kau ingin meningkatkan Bahasa Inggrismu?” aku bertanya padanya, benar-benar menduga ia akan mengatakan ingin mencari kerja di hotel setempat.

“Aku ingin kuliah di Amerika,” katanya dengan percaya diri. Impiannya yang idealis membuatku ingin menangis.

Aku setuju mengajarinya seusai sekolah setiap hari atas dasar sukarela. Untuk beberapa bulan berikutnya, Hani bangun setiap pagi pada pukul lima dan naik bis kota ke SMU-nya. Selama 1 jam perjalanan itu, ia belajar untuk pelajaran biasa dan menyiapkan pelajaran bahasa Inggris yang kuberikan sehari sebelumnya. Pada jam 4 sore, ia tiba di kelasku, lelah tapi siap belajar. Semakin hari, saat Hani berjuang dengan bahasa Inggris tingkat universitas, aku semakin menyukainya. Ia belajar lebih giat daripada kebanyakan siswa ekspatriatku yang kaya-kaya.

Hani tinggal di rumah berkamar dua bersama orangtuanya dan 2 saudaranya. Ayahnya adalah penjaga gedung dan ibunya pembantu rumah tangga. Saat aku datang ke lingkungan mereka untuk bertemu, aku baru tahu bahwa pendapatan tahunan mereka bersama adalah $750. Itu tidak cukup untuk membayar biaya sebulan di universitas di Amerika. Semangat Hani meningkat seiring dengan meningkatnya kemampuan bahasanya, tapi aku main patah semangat.

Suatu pagi di bulan Desember 1998, aku menerima pengumuman kesempatan beasiswa untuk universitas besar di Amerika. Dengan bersemangat aku merobek amplopnya dan mempelajari syaratnya, tapi tak lama kemudian aku pun menjatuhkan formulirnya dengan putus asa. Tak mungkin, kupikir, Hani memenuhi syarat ini. Ia belum pernah memimpin klub atau organisasi, karena di sekolahnya tak ada hal-hal seperti itu. Ia tak memilihi pembimbing dan nilai tes standar yang mengesankan karena tes semacam itu tidak ada.

Namun, ia memiliki tekad lebih kuat daripada murid mana pun yang pernah kulihat. Waktu Hani masuk ke kelas hari itu, aku menceritakan tentang beasiswa itu, aku juga mengatakan kepadanya bahwa kurasa tak mungkin ia bisa mendaftar. Aku mendorongnya agar, dalam kata-kataku sendiri, “realistis” tentang masa depannya dan tidak terlalu gigih berencana ke Amerika. Bahkan setelah ceramahku yang pesimis, Hani tetap teguh.

“Maukah Anda mengirim namaku?” ia bertanya.

Aku tak tega menolak. Aku mengisi pendaftaran, mengisi setiak titik-titik dengan kebenaran yang menyakitkan tentang kehidupan akademisnya, tapi juga dengan pujianku tentang keberanian dan kegigihannya. Kurekatkan amplop itu dan mengatakan kepada Hani bahwa peluangnya untuk diterima itu tipis, mungkin nihil.

Pada minggu2 berikutnya, Hani meningkatkan pelajarannya dalam bahasa Inggris, aku mengatur agar ia mengambil TOEFL di Jakarta. Seluruh tes terkomputerisasi akan menjadi tantangan besar bagi seseorang yang belum pernah menyentuh komputer. Selama 2 minggu kami mempelajari bagian-bagian komputer dan cara kerjanya. Lalu, tepat sebelum Hani ke Jakarta, ia menerima surat dari asosiasi beasiswa itu. Inilah saat yang kejam. Penolakan, pikirku. Mencoba mempersiapkannya untuk menghadapi kekecewaan, aku membuka sirat dan mulai membacakannya. Ia diterima.

Aku, yang kaget, meloncat-loncat sekeliling ruangan dengan gembira. Hani berdiri, tersenyum samar, tapi hampir pasti bingung melihat keterkejutanku. Bayangan wajahnya pada saat itu teringat olehku berulang-ulang di minggu berikutnya. Aku akhirnya menyadari bahwa akulah yang bari memahami sesuatu yang sudah diketahui Hani sejak awal: bukan kecerdasan saja yang membawa sukses, tapi juga hasrat untuk sukses, komitmen untuk bekerja keras, keberanian untuk percaya akan dirimu sendiri.

Jamie Winship

Pengen nonton kegigihan seseorang meraih impiannya? Aku suka Denias, senandung di atas awan. Dan menunggu King, secara aku suka bulutangkis juga. Hmm.. coba.

OST Denias – Senandung Dibalik Awan –

Advertisements

10 thoughts on “Hani [Chicken Soup for the College Soul]

  1. bukan kecerdasan saja yang membawa sukses, tapi juga hasrat untuk sukses, komitmen untuk bekerja keras, keberanian untuk percaya akan dirimu sendiri.setujuuuu bgt, apalagi ditambah DOA:)

  2. ajengprimastiwi said: bukan kecerdasan saja yang membawa sukses, tapi juga hasrat untuk sukses, komitmen untuk bekerja keras, keberanian untuk percaya akan dirimu sendiri.setujuuuu bgt, apalagi ditambah DOA:)

    ikhtiar dan doa, soooooo… hmmmhh

Komen dong yuukkkzz :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s