Ketika Kematian Menjadi Hal Biasa

Bismillahirrahmanirrahim….

Hari ini salah satu tetanggaku meninggal. Aku nggak denger pengumumannya, pagi-pagi, di masjid. Aku terlalu lelap. 33 tahun, stroke. Istrinya ditinggalkan, menikah 7 tahun belum punya keturunan. Entah ini hal yang bagus atau tidak. Malam ini sama seperti malam lainnya. Mungkin karena gang tempat kami tinggal berbeda.

KKN. Karangkemiri. Satu setengah bulan.
Sekitar 7 orang tercatat meninggal selama aku KKN di sana. Awalnya tidak biasa, lama-lama biasa. Awalnya aku heran, kenapa harus setiap hari aku melayat? Kanker, Diabetes, DBD. Penyakit-penyakit itu mengambil nyawa mereka. Awalnya takut. Tapi akhirnya, dengan jam mengajar kami yang tiap malam, harus melewati rumah-rumah mereka, itu jadi hal biasa.

Suatu pagi. Kami mencari Warga Belajar, Warga Buta Huruf. Aku dan temanku menghampiri rumahnya. Sang kakek sedang duduk di samping rumah, aku lupa sedang apa, mengerjakan sesuatu yang membuat waktunya tidak terbuang sia-sia. Istrinya, duduk di sofa di dalam rumah, di samping pintu, mendampingi sang suami. Tampak tak sehat. Seperti ada penyakit kronis dalam dirinya. Belakangan ku tahu dia mengidap Diabetes. Beberapa hari kemudian beliau meninggal. Saat aku ke rumahnya, melayat, aku begitu ingin melihat wajah sang kakek. Aku trenyuh. Aku ingin melihat ketabahan pada dirinya. Tapi aku terlanjur bergabung dengan para wanita di belakang, sekilas aku melihat kerandanya. Malam-malam setelah itu, aku sering lewat depan rumahnya, anak-anaknya kusapa, aku tetap ingin melihat sang kakek.

Di lain hari aku mengajar. Di rumah salah satu perangkat desa. Sang kakek meminta untuk menyalakan lampu. Hanya sekali itu kami melihatnya. Beberapa hari kemudian, sebuah ambulans kencang melaju ketika aku sedang berjalan menuju rumah tinggal. Kemudian selanjutnya kabar duka.

Kesedihan keluarga-keluarga yang ditinggalkan, aku melihatnya di sana. Keranda. Aku melihatnya di sana. Tangisan. Aku melihatnya di sana. Dan lama-kelamaan menjadi biasa… Apakah ini baik atau buruk?

Advertisements

16 thoughts on “Ketika Kematian Menjadi Hal Biasa

  1. wennyrad said: sepakat ama ai

    iyah…. kematian adalah hal yang biasa. 12 hari saya koas di neuro.. ada hampir belasan juga kematian saya liat didepan mataku..saking banyaknya sampau tak terhitung lagi ^^kemarin juga waktu jaga…… hmm… perasaaan itu benar2 meluap….. bingung mau bikin gimana. memang ngak bisa ngapa2in lagi kalo KU nya udah buruk sekali…… kematian tanpa berdarah2…

  2. berry89 said: bener…di sana ada setan ga may?hehe

    hayyyyyyyyah… jangan sebut2 itu dunk haya. nih lagi sendiri dikamar. jaganya berdua sih sama kakak senior malaysia. cowok. jadi bubunya diluar…. hahahaha…..ok2…. tapi sampe jam 9 malam aja jaganya…hehehe… 😀 😀 😀 hari ini ngak jaga sampe bermalam kok.. ^^

  3. berry89 said: bener…di sana ada setan ga may?hehe

    ngak lagi tidur2an di kamar koas sambil ngenet…hehehe…… paling asyik memang jaga ma cowok.. ada pasien baru/keluhan/followup.. cowok2 biasanya langsung gerak..hehehe…. baru aja tadi ada pasien trauma kapitis. anak kecil umur 2 tahun….syukurnya sih kondisinya ngak kritis.. cuman ada hematoma…

  4. berry89 said: iyalah, kamunya ngumpet di kamar… kesian amat, masih kecil…. knapa tu anak?

    hehehe… iya.disini pasien yang masuk ngak banyak2 banget.. beda banget waktu minggu lalu di WS…jadi nongkrongnya cukup dikamar aja.. tunggu ada telpon dari UGD, ICU atau bangsal baru bergerak…selama deringan itu ngak ada… bubu aja..hahaha

Komen dong yuukkkzz :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s