BULAN DI AIR

Sebuah sketsa pensil, lelaki tua tertunduk melengkung di tumpukan sampah. Mulutnya disumpal kain. Seluruh tubuhnya terlilit tali.

Semua tak lebih hanya sampah. Kata-katanya, perlakuannya, gerak-geriknya, semua. Dia, pria yang seharusnya kupanggil Ayah. Tapi tidak sudi aku berbuat yang menipu diriku sendiri. Tidak ada kata yang benar-benar mengena untuk menggambarkan dirinya. Kalaupun ada, tak akan kuucapkan sekarang, terlalu kotor.

Tulisanku, lebih berani mengungkapkan pikiran-pikiran yang terselip di sela-sela otakku. Karena bicara pun tidak akan ada yang mau mengerti, sepenuhnya. Aku bisu. Sekaligus tuli. Sejak lahir, sejak yang dinamakan Tuhan menghukum kehidupanku, mengutukku.

Entah salah apa ibuku dulu, sampai Tuhan pun nampaknya ingin membalas perbuatannya. Tidak ada hentinya, derita itu. Tuhan. Benarkah Ia adil? Kenapa aku diperlakukan tak adil?

Diibaratkan roda, rasanya terlalu sulit untukku naik ke atas, karena aku selalu tergelincir.

Aku tidak berguna, selalu itu umpat Ayah. Aku bisa membaca bibirnya yang hitam, karena setiap kali hanya itu yang ia lontarkan. Biar saja semua orang sekalian mengasihaniku, atau bahkan mencaciku, menyumpahiku.

Aku bisu dan tuli salah siapa? Seharusnya tidak ada yang salah. Tapi yang seharusnya kupanggil Ayah membuatnya seakan aku dan Ibu yang salah.

Lihat ibuku, dianiaya setiap aku melihatnya. Bulir air mata seperti dari kutub utara, membeku. Garis-garis merah di sekujur tubuh. Tidak ada yang bisa kulakukan, karena detik selanjutnya aku pun bernasib sama.

Kupingku selalu memerah, seluruh tubuhku selalu memanas, tapi apa yang bisa kulakukan? Menjerit? Balas memaki? Kabur? Bukan hal yang mudah dengan keadaanku yang begini. Berontak? Memukul? Menendang? Akan semakin sakit siksaku, perih…

***


Adi membaca blog di depannya sedikit miris, sebentar ia menelengkan kepalanya, meletakkan dagunya di antara jemari tangannya.

Pasti ada, seseorang di dunia ini yang bernasib seperti dia. Meskipun itu bukan aku, pikir Adi. Lalu Adi mulai menulis. Untuk seseorang yang menulis blog di hadapannya dengan latar belakang benci yang sangat besar.

Aku tidak tahu nama aslimu, tapi izinkan aku memanggilmu Api. Namaku Air. Sepertinya butuh banyak aku untuk memadamkanmu. Mungkin tidak banyak yang dapat dipercaya di dunia ini, terutama bagimu. Aku tidak peduli akan rasa percaya itu, tapi kuharap kamu mau membaca pesanku.

Banyak angin di sekitarmu rupanya, sehingga kamu semakin ‘besar’. Aku sadar aku hanya salah satu orang yang kamu anggap mengasihani atau mencaci atau menyumpahi, tapi izinkan aku mengalirkan tetes demi tetes air untukmu.

Aku hidup dengan ibuku yang berdagang di pasar. Aku tidak bisa membantunya, tak banyak yang bisa kuperbuat. Hanya menemaninya bangun jam 2 pagi, mengantarnya ke depan rumah, dan sudah. Atau aku malah akan merepotinya.

Sejak aku lahi,r ayahku merantau ke samudra luas, tak pernah kembali. Aku tak berani menduga-duga apa pun tentangnya. Ayahku jelas tidak tahu bahwa aku, terlahir bisu, dan terlahir tuli. Ya, tapi jangan samakan aku denganmu.

Ibuku selalu berkata, “Tak layak hanya memandang bulan, tanpa melihat bayangannya.”

Bertahun-tahun aku memikirkan artinya, menanyakannya pada Ibu hanya membuatnya tersenyum dan menggeleng. Ia menyuruhku memutar otak sendiri.

Akhirnya aku tahu, ketika melihat bayangan sang wulan di sungai belakang rumahku, aku sadar bahwa saat manusia hidup, tak selamanya harus melihat ke atas, tetapi juga ke bawah.

Di usia 10 tahun sebuah mobil menabrakku. Aku merasa ingin mati saat itu juga setelah mendapati kakiku yang tinggal sebelah, amputasi. Sampai kering air mataku meratapi hilangnya penumpu tubuhku. Tapi ibuku? Wanita tegar. Tidak setetes pun air mata dan peluh yang kulihat saat bersamanya, aku pun tersipu.

Semakin ke sini aku semakin malu, setelah aku tahu hutang-hutang ibuku demi menyelamatkan nyawaku. Kerja kerasnya untukku, yang tak akan terbayar meski peluhku habis.


Dan aku tak bisa berdiam lagi, tidak sanggup, terlalu malu. Dan inilah aku sekarang, dengan nama penaku, Jupiter Pluvius, ingin menghidupi kehidupan kering sepertimu.

Datanglah ke rumahku, akan kuajari bagaimana menjadi api yang dapat mematangkan jiwa mentah.

Mata Desi melalap semua tulisan yang ada di depannya.

Air? Bagaimana mungkin dia menganggap dirinya lebih baik daripada aku? Hei, apa aku seburuk itu?

Bisu, tuli, buntung. Dan dia bilang tidak sama denganku? Ah ya, tentu, aku masih bisa berjalan. Ibuku bukan pedagang di pasar. Ayahku masih ada.

Hei, kenapa sepertinya aku memiliki lebih banyak keberuntungan dari dia? Ah tidak, tentu tidak punya seorang Ayah lebih baik daripada kau punya Ayah tetapi tiap kali ia hanya memukuli kan?

Aku akan pergi ke rumahnya, melihat sebagaimana bahagianya dia. Huh, bahagia? Pasti tidak akan lebih bahagia daripada aku—paling tidak sama. Dia tidak pernah dimaki ayahnya, dipukul sampai babak belur, dihajar, ditendang.

***

Desi masuk ke mobil ibunya, bukan menyetir sendiri, sopir mamanya yang akan mengantar. Tentu tanpa sepengetahuan ayahnya, hal kecil apa pun kalau sudah menyangkut dirinya akan membakar daun kering di otak ayahnya.

Di pinggir jalan besar ia turun dari mobil, meminta Bang Mamat menunggunya di mobil karena jalan yang dituju terlalu sempit. Alamat pinggiran.

Ia menuruni jalanan kecil yang menurun tajam, berusaha tetap stabil dan kakinya mengerem pakem. Disusurinya gang sempit di mana banyak tahi ayam bertebaran, basah dan kering. Desi hati-hati menjejakkan kakinya di jalan, matanya menyusuri rumah-rumah sederhana di kanan-kiri.

Ketemu. Rumah kecil dengan dominasi warna hijau pupus yang sudah memudar. Atap berlumut bergabung dengan seng. Tapi taman kecil di balik pagar bambu yang tingginya sepinggang itu memberi sentuhan kehidupan. Manis. Jejeran mawar di pot ember cat ukuran sedang yang dicat warna pelangi ditata rapi di ambalan kayu buatan tangan. Rumput jepang menutupi seluruh tanah yang terhampar di taman kecil itu kecuali jalan setapak yang penuh batu kali yang sejajar dengan pintu masuk. Asri.

Jemarinya mengetuk berirama kaca bening jendela rumah bernomor 11 itu. Masih belum ada tanda-tanda akan dibukanya pintu kayu warna cokelat tua yang mulai dimakan rayap. Dia tidak ingin pulang dengan tangan hampa. Desi memutuskan untuk duduk di risban bambu kecil di depan tembok samping jendela.

Sepi. Ya, tentu, selalu sepi. Meskipun di luar sana banyak berlarian anak-anak kecil yang pasti suaranya lantang, tetap sepi baginya.

Seorang lelaki datang dari luar rumah, dengan kruk menyangga di lengan kanan. Wajahnya bersih, berseri. Matanya bersinar tapi teduh tidak lepas dari mata Desi.

Desi buru-buru berdiri, menggerakkan tangannya, mengisyaratkan bahwa dia adalah perempuan di internet. Si lelaki langsung paham, mengangguk-angguk, memutar kunci dan membuka pintu. Mempersilahkan Desi duduk. Ia memperkenalkan dirinya dengan nama Adi.

Adi membuatkan secangkir teh dengan sedikit gula untuk Desi, kemudian duduk dengan antusias di sofa bolong. Desi sedikit tidak nyaman. Tapi di luar itu, mereka berbicara, dalam sepi.

Desi mengambil secarik kertas dari tasnya, menulisinya.

Apa hakmu memanggilku dengan nama Api? Aku tidak segarang itu—dengan tampilanku yang seperti ini.

Adi balas menulis.

Tulisanmu, menakutkan. Aku terbakar karenanya.

Jadi, apa yang ingin kamu pamerkan padaku? Tulimu? Bisumu? Atau kakimu?

Semuanya.

Jelaskan padaku.

Apa kau tahu, semua tulisanmu itu buta, hatimu buta, dan aku tahu kamu hanya diam di tempat. Kamu lebih buruk dari aku—jangan tersinggung, aku memang bisu, tuli, dan buntung. Kamu? Bisu, tuli, buta, dan tidak bisa berjalan.

Apa hakmu mengatai aku seperti itu?

Aku tahu kamu kesepian, terkoyak, sedih yang begitu dalam, dan kamu selalu mendambakan kehidupan harmonis, bahagia, nyaman. Kamu hanya memandang mereka yang sedikit sempurna, sedikit lebih baik dari kita. Kamu tidak berpikir tentang hal terburuk yang terakhir kamu inginkan terjadi padamu.

Mungkin kematian orang yang dicintai, kehilangan harta benda, kehilangan kepercayaan. Percayalah padaku. Banyak orang-orang yang sama dengan kita—bahkan lebih buruk, tapi kualitas hidupnya lebih baik. Maukah kamu menjadi temanku?

Suara sentuhan lembut bolpen pada kertas yang tidak terdengar oleh mereka berdua berhenti menyebar dalam udara sunyi. Kali ini mata Adi bertanya pada Desi. Mengharap sebuah jawaban logis dari permintaan seorang teman.

Desi tidak berhenti menatap lelaki di depannya. Sedikit terkesima karena tidak tampak di guratan wajahnya, kesedihan. Justru sebaliknya.

Biar dia menggambarnya di benak. Lelaki di depannya memiliki mata bening yang bersinar, ada binar di sana, seakan tak punya beban. Di bibirnya tersungging sebuah senyum tulus penuh pengertian.

Adi kembali menulis. Cepat.

Berhenti menatapiku seperti itu. Mana jawaban pertanyaanku?

Desi buru-buru meraih bolpen yang diacungkan Adi.

Apa untungnya menjadi temanmu?

Boleh kukatakan? Aku seorang penulis, percaya atau tidak. Kalau kau tidak tahu, itu berarti kamu benar-benar berhenti di tempat. Hanya meringkuk di kamar meratapi nasib.

Desi yang mengikuti tulisan Adi mengembangkan cuping hidungnya, bersiap membela diri tapi urung.

Ya, sekarang aku penulis yang cukup diperhitungkan. Dengan berteman denganku kamu akan tahu, bahwa orang seperti kita tidak pantas hanya meratapi nasib. Banyak manusia bernasib lebih buruk dari kita. Tapi itu tidak boleh jadi alasan. Kita harus tetap hidup, merangkak naik, memutar roda kehidupan kita sendiri agar berada di puncak.

Jangan bilang kamu adalah Adi Wiraguna. Penulis trilogi Janur Milik Bulan?

Adi mengangguk menjawab tulisan Desi.

Ini gila. Buku itu tidak berhenti dia ulang-ulang. Belum menemukan arti besar yang tersembunyi di sana. Best seller. Dan penulisnya ada di hadapan? Desi membelalak.

Desi merenungi dirinya sendiri. Bodoh juga kalau kali ini dia tidak mencoba keluar dari kungkungan derita yang dibuatnya sendiri. Ia ingin ayahnya tahu kalau dirinya pantas diperhitungkan. Dirinya ada dan diketahui oleh banyak orang. Meski dengan keterbatasan yang ia miliki.

Desi mengangguk. Kemudian ujung-ujung bibirnya menarik diri, membentuk senyum manis. Memancing senyum Adi. Mereka teman, kini.

***

PURWOKERTO– Desi Atarina, pelukis muda berbakat tahun ini yang berhasil menembus pasar dunia. Lukisan perdananya yang berjudul Tidak Buta berhasil dijual dengan harga tiga ratus juta rupiah dan seluruh hasil penjualannya disumbangkan pada beberapa Sekolah Luar Biasa di seluruh pelosok Jawa Tengah.

Penghargaan tak henti-hentinya ditujukan padanya. Dengan segala kekurangan yang ia miliki, Desi mampu melebihi pelukis-pelukis yang lebih dulu muncul. Wanita yang memiliki hobi melukis sejak berumur lima tahun ini selalu menyebut-nyebut Adi Wiraguna yang lebih dikenal dengan nama penanya: Jupiter Pluvius, penulis trilogi Janur Milik Bulan sebagai orang pertama yang menyadarkannya.

Hal ini membuktikan bahwa sesungguhnya seluruh makhluk Tuhan telah diberi kekurangan dan kelebihan yang seimbang. Semua tergantung pada diri masing-masing individu. Tidak ada yang mustahil di dunia ini.fly


Advertisements

6 thoughts on “BULAN DI AIR

  1. topenkkeren said: eh? Pili nulis cerpen juga? keren, Pil. sungguh. tapi sayang, terlalu cepat. coba diperpanjang lagi nafasnya. 🙂

    haha, emang, itu dulu mo kukirim lomba, tapi udah mentok halaman maksimal, jadi kupendekin…

Komen dong yuukkkzz :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s