[Cerpen] Divine Love

Divine Love

Najwa berjalan menunduk, jilbabnya bergoyang tegas ke kanan-kiri. Di matanya kini hanya ada bayangan langkah kakinya. 2 meter ke depan berdiri Yusuf, sedang berbincang dengan Aldi, tampak serius.

Huuff, akhirnya lewat juga. Najwa bergumam lega setelah melewati sosok Yusuf.

Sudah lama di hati Najwa memendam sebuah rasa yang tak terlukiskan. Rasa yang mencengkeram erat hatinya, sampai-sampai hanya wajah Yusuf yang terbayang di benaknya. Dalam kondisi apapun.

Saat makan. Saat belajar. Bahkan saat shalat. Ini memang tidak dapat dibiarkan. Sangat berbahaya. Saat-saat seperti inilah cinta dikatakan sebagai virus, meski ia fitrah. Tapi Najwa belum bisa berbuat sesuatu yang dapat menghalanginya dari rasa itu. Rasa yang demikian kuat.

š

“Naj, ane minta proposal acara kemarin segera jadi, ane nggak enak kalau nunda terus.” Yusuf berkata sambil membolak-balik agendanya, selalu begitu caranya untuk menjaga pandangan.

Najwa yang juga memandang ke arah lain hanya mengangguk tersipu. Belakangan, karena dia sedang berusaha menghindari perasaan tak terdefinisi itu, ia senantiasa menghindar untuk berhubungan dengan Yusuf. Baik itu di kelas, maupun di organisasi. Akhirnya malah begini, tugasnya berantakan.

Huwaa! Kenapa dada ini nggak bisa berhenti berdetak kencang? Aku takut Yusuf melihat segala gerak-gerikku yang salah tingkah saat di dekatnya. Bisa jatuh pamor!

Saat itu juga Najwa berjalan cepat ke masjid kampus, shalat dhuha. Ia wudhu dengan sebaik-baiknya, menciptakan kekusyukan, menahan jantungnya yang seakan ingin jebol.

Dari banyak buku yang dibacanya, ia selalu menemukan bahwa menikah muda adalah hal terbaik yang dapat dilakukannya sekarang. Ha! Mudah saja berpikiran bahwa Yusuf akan melamarnya untuk dijadikan istri, tapi itu hanya angan.

Yusuf adalah sosok lelaki yang tidak terlalu tegap. Kacamata bingkai hitamnya mewakilkan sosoknya yang tegas dan tanpa basa-basi. Di kelas, ia selalu menduduki ranking pertama untuk tiap mata kuliah. Kegiatannya bejibun, membuatnya dikenal oleh banyak orang. Ia juga sering mengikuti lomba esai, terutama yang berhubungan dengan jurusannya, ekonomi manajemen. Entah kenapa, ia membuat Najwa tertarik. Mungkin pengaruh magnet.

š

“Taaa… aku nggak ngerti harus gimana.” Najwa menggelosor di lantai, di samping Sita yang sedang menyetrika jilbab ungunya. Akhirnya setelah lama memendam perasaannya sendiri, ia mencurahkan perasaannya pada sahabatnya, Sita.

“Yusuf?” tanya Sita, lalu memutar-mutar bola matanya.

Najwa mengedip-ngedipkan matanya. Tangannya mempermainkan kabel setrikaan, memaksa Sita berhenti menyetrika. “Aku harus gimana doong.”

“Udah puasa, kamu?”

“Daud! Tapi tetep aja…. Pikirannya nikaaah, mulu. Ahh, sampe bete sendiri.”

Sita mengikik. Sita, yang belum pernah merasakan perasaan yang sekarang sedang dialami oleh Najwa agak bingung juga menyikapi tembakan-tembakan pertanyaan Najwa.

“Yang mikirin nikah cuman kamu! Yusuf-nya mah mikirin kuliah kelar cepet, cum laude.”

Najwa menggebuk Sita dengan bantal, “Iye! Lagian siapa yang pengen nikah sama dia!”

“Halah, kamu. Kalo sekarang dia dateng ke rumah kamu, terus ngelamar kamu, emang kamu mau nolak?”

Pipi Najwa bersemu merah, lalu menggeleng.

“Naj, aku bilang kamu dengerin ya.”

Najwa mengedip lagi, berkali-kali. Kali ini Sita yang menggebuknya dengan bantal.

“Dengeriin. Kamu jalanin aja terus puasa kamu, tar kita cari kegiatan bareng buat setidaknya bikin kamu nggak mikirin dia terus. Gimana?”

“Bantuin aku yaaa….”

Sita mengangguk. “Pasti Naj.”

š

Sepeninggal Najwa pulang, Sita kembali meneruskan pekerjaan anak kosnya. Menyetrika.

Najwa, Najwa, aku baru pernah ngeliat ada cewek segitunya jatuh cinta sama cowok. Sita berpikir sendiri, sambil bolak-balik melipat pakaian dan jilbab yang sedang disetrikanya.

Sita memang belum pernah mengalami hal yang demikian parah, seperti Najwa. Parah? Hehehe. Enggak sih. Cinta itu kan fitrah ya? Sita juga pernah ketiban cinta.

Atau bukan?

Sita geli sendiri, menyadari bagaimana selama ini dia menghilangkan buru-buru bila rasa mirip cinta mampir di hatinya.

Cinta, ia gambarkan seperti kupu-kupu. Yang memiliki serbuk yang memabukkan. Ia akan menahan napas untuk menghalau serbuk-serbuk memabukkan itu masuk ke inhalasinya.

Ya, maka dari itu, dia belum pernah jatuh cinta sampai guling-guling begitu. Tapi dia pikir wajar kok, untuk perempuan usia 20-an memikirkan seseorang.

š

“Puasa? Hari ini?” tanya Sita.

Najwa mengangguk kecil, ia sedang serius membaca novel yang dibawa Sita.

“Tar malem ada kajian di masjid At-taubah, dateng?”

Najwa mengangguk, agak kencang. “Aku jemput kamu ya, entar malem….”

Sita mengangguk, lalu melirik jam tangannya. “Eit, jam sembilan, ke masjid dulu yuk, dhuha.”

Najwa beranjak cepat. Ia tidak ingin menyia-nyiakan semua usahanya untuk melupakan Yusuf.

“Naj, kamu harus berusaha, kalo di deket Ucup, anggap dia kayak laki-laki yang lain.”

“Tapi dia kan ikhwan tulen.”

Sita mengikik, “Emang sama semua ikhwan kamu kayak gitu? Coba deh, kamu atur napas, insya Allah kamu bisa.”

“Tapi susaaah. Jantungku tuh gerak-gerak sendiri Saay….!”

“Emang jempol? Gerak-gerak sendiri?”

“Dag-dig-dug-der!”

Mereka tersenyum sendiri, menyadari tingkah mereka.

Setelah mengambil air wudhu, jiwa terasa tenang dan nyaman. Dhuha membuat mereka lebih baik, terutama Najwa.

Sosok Yusuf terlihat sedang shalat di shaf depan, terhalang tabir sedikit. Jantung Najwa mulai main ayunan di dada. Zat feromon mulai bekerja. Perutnya mendadak seperti digelitiki kaki capung.

Sita mencengkeram tangan Najwa. “Kamu tahan ya. Anggap dia pohon.”

Najwa menahan tawa. “Bweeh, masak pohon? Pohon apaan? Rambutan? Hehehe.”

“Shhh, jangan kenceng-kenceng. Udah yuk, kita terusin lagi ngajinya. Abis ini kan kuliah sekali, abis itu kita ke Kharisma yuk.”

“Ayuuk, aku mau cari jilbab juga.”

“Aku beliin juga doong.”

“Duit dauuun kali! Mending beli buat sendiri….”

Angin bertiup pelan, menaikkan ujung-ujung jilbab mereka. Mentari tersenyum malu di balik awan desember.

š

“Najwa, udah selese?”

Suara berat yang bernada itu milik Yusuf. Sontak Najwa membenahi jilbabnya.

“Udah kok, nih.”

“Syukran. Lain kali kalau bisa tepat waktu ya.” Yusuf menerima bendel kertas proposal dari Najwa, lalu berbalik dan keluar kelas.

“Oraaang sibuuuk, seliweran mulu. Dia calon lulus tepat waktu,” Sita bergumam kecil.

Najwa hanya mengangguk, mengusap-usap hatinya sendiri dengan tangan tak terlihat. Setidaknya ia merasa, perasaannya pada Yusuf mulai berkurang perlahan. Dia menyadari, bahwa apabila Yusuf sudah menjadi takdirnya, maka itulah yang akan terjadi. Bila tidak, maka waktu yang selama ini ia buang untuk memikirkan Yusuf adalah sia-sia.

Najwa ingat sekali perkataan Sita sewaktu pulang dari kajian kemarin. Sita bilang, jangan sampai cintanya pada Yusuf membuatnya melupakan cintanya pada Sang Khalik.

Waktu itu, Najwa beristigfar berkali-kali di tengah angin malam yang menusuk tulang. Selama ini ia hanya sibuk untuk mencari cara bagaimana menghilangkan rasa cinta yang meradang di hatinya. Radang yang merusak shalatnya, merusak ngajinya.

Najwa kembali meneruskan kegiatannya. Menulis. Sejak merasakan cinta pada Yusuf, Najwa menjadi lebih sering menuliskan perasaannya di dalam diari. Dan itu menimbulkan ketertarikan pada dunia tulis-menulis. Hmm… membawa berkah juga rupanya.

Najwa sering menggubah puisi, atas dasar perasaannya. Dan, tidak terlalu buruk hasilnya. Malahan ia mulai merambah dunia ini semakin jauh. Ia bergabung dengan tim jurnalistik Rohani Islam fakultasnya. Mencoba menjadi penulis lepas di majalah bernuansa islami. Ini sih hikmah sampingan, selain dia juga memahami arti cinta yang sesungguhnya. Cinta yang abadi. Tanpa cela. Cinta pada Allah SWT.

š

“Assalamu’alaikum, Ukhti, ini ada undangan, undangan untuk bersama. Kasih tau akhwat yang lain ya. Syukran.”

“Oh iya, afwan.” Sita mengulurkan tangannya, menerima sepucuk undangan pernikahan berwarna hijau pupus yang diberi pita warna cokelat susu. Cantik.

Sita segera melihat isi undangan itu, dan…. Hmmm. Ia melirik ke samping.

Najwa bolak-balik menggaruk jilbabnya. Kejar setoran, ia sedang dikontrak mengisi cerita bersambung di koran Islam. Kemana ia pergi sekarang, pasti ada notebook di dalam tasnya.

“Naj, ada berita bahagia dari teman kita.”

“Alhamdulillah, siapa yang menikah?” tebaknya.

“Yusuf Ardhi Wiraguna sama Aisya Nagari, ahad depan, datang bareng ya.”

“Alhamdulillah. Oke, oke, sip,” jawabnya, sambil terus mengetikkan ide-ide kreatifnya yang berbobot.

Sita mengangkat bahunya. Ya, ya, nampaknya rasa itu tergantikan dengan rasa cintanya dengan dunianya sekarang. Menulis untuk kebaikan. Menulis karena Allah….

š

Advertisements

2 thoughts on “[Cerpen] Divine Love

Komen dong yuukkkzz :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s