[Cerpen] Ya, Namaku Siti!

Aku berusaha, berusaha. Tapi tidak bisa!

“Yu, apa hidup kita bakal begini terus?” tanyaku pada Mbakyu Imah, kakak tertuaku, dari balik buku tulis matematikaku.

Dia mengangguk, mengencangkan jarit yang digunakannya untuk mengemban anaknya, “Kecuali…”

“Apa?” potongku sigap.

“… kowe belajar yang rajin, dapet biaya sendiri, kuliah, kerja, mapan.”

Aku mencibir. Apa mungkin semulus itu? Bagaimana bisa kuliah kalau sampai detik ini aku belum dapat beasiswa? Mustahil, mustahil.

“Siti! Ambilin minum!” bapakku pulang bau sampah, duduk di dipan kayu kalba dan mengipas diri dengan koran bekas yang sedikit basah.

Aku berlari ke dapur, menuangkan air dari kendi tanah dan membawanya ke Bapak. Bapak berterima kasih.

“Ibu mana Pak?” tanyaku, mencari-cari.

“Masih di atas, nunggu truk satu lagi,” jawab Bapak, baru meneguk satu tegukan air dingin dari gelas belimbingnya.

Aku mengangguk paham.

Bapak dan ibuku pemulung. Ya, jangan terlalu kaget, karena memang begini keadaannya. Rasanya itu pekerjaan paling rendah ya? Tapi… ah tidak, pekerjaan haram pasti punya nilai lebih rendah.

Malu? Tentu. Bahkan belum pernah ada satu pun temanku yang kuperbolehkan main ke rumah. Bagaimana kalau mereka tahu kehidupan kami yang begitu dekat dengan sampah?

Memang, hanya orangtuaku yang bekerja memulung sampah. Mbakyu Imah kakak tertuaku menjahit, Mas Tiyo—kakak keduaku—kerja di bengkel, aku sendiri masih sekolah. Hanya aku yang punya kesempatan sekolah lebih lama. Yu Imah putus sekolah ketika kelas 4 SD, tidak betah hitung-hitungan. Mas Tiyo hanya lulus SD, tidak ada biaya untuk meneruskan. Aku? Dibantu oleh sekolah karena prestasiku lumayan, pernah juga mendapat beberapa hadiah lomba yang kupakai untuk biaya sekolah.

Aku ingin menghentikan kebodohan keluargaku. Cukup sampai aku.

Tapi meskipun prestasiku tergolong gemilang dan beasiswa mengiringiku, bukan berarti rasa minderku usai.

Tahu kan? Orangtuaku, ya. Rumahku. Keluargaku. Pendidikan mereka.

Aku berusaha, berusaha. Tapi tak bisa. Entah usahaku yang kurang keras atau niat kurang kuat.

“Siti, boleh ke rumahmu? Ayo dong, masak dari kelas X gitu aja jawabannya?” tanya Aresta, tangannya meraih jilbabku.

Mendengar namaku disebut, ada sedikit keinginan untuk meminta-paksa Aresta diam. Siti. Siapa sih yang punya nama itu zaman sekarang? Eh, atau ada? Ya, meskipun teman-temanku sama sekali tidak menampakkan rasa aneh terhadap namaku, aku tetap malu.

Bodoh sih memang, kalau cuma karena nama, keluarga, harta, minder? Tapi gimana? Emang rasanya gitu.

“Ti!” panggil Eta—panggilannya—lagi.

Aku terkesiap, otakku buru-buru mengingat pertanyaan Eta tadi, “Eh? Rumah? Main ke rumah?” tanyaku tergeragap. Sayangnya Eta mengangguk kuat.

Aku menggeleng keras, “Ke rumahmu aja. Kita ngerjain tugas di rumahmu.”

Mata Eta menatapku. Aku tahu sebenarnya Eta memiliki sebuah pemikiran ‘kenapa aku tidak pernah mau mengajak temanku ke rumah’. Dan aku tahu hasil pemikirannya sedikit-banyak ada yang benar. Tapi itu tidak membuatku mengizinkannya menginjakkan kaki di rumahku.

Seandainya pun aku mau mengajaknya ke sana, bukan tak mungkin setelah itu dia memecatku jadi temannya kan? Itu kan gawat.

Mata Eta menyelidik, kemudian ia menarikku ke bangku tepi lapangan basket. “Sebenernya kenapa sih kamu selalu nolak kalo aku mau main ke rumahmu?”

Bola mataku bolak-balik gelisah. “Eng… gak pa-pa sih, tapi kan lebih enak main ke rumahmu, gede, hihihi,” aku tertawa jengah.

Mulut Eta manyun, alisnya menyatu ke tengah, “Oke, kalo gitu nanti ke rumahku.” Tiba-tiba matanya bersinar, seperti ada senter di dalamnya.

Aku lega… sekali, akhirnya Eta tidak menuntutku lagi.

Setelah itu, sepulang sekolah aku main ke rumah Eta. Naik motor, dibonceng.

Rumah Eta di perumahan, besar. Kamarnya juga luas, rapi. Kalau kamarku sih nggak mungkin rapi, di dalamnya kan ada tempat setrikaan yang penuh baju-baju menumpuk. Apalagi sepeda karatan Bapak yang ngendon di pojok kamar, sudah dilibat jaring laba-laba pula.

Suguhan di rumah Eta sepertinya nggak pernah habis. Mamanya tuh jago masak, tiap hari pasti ada aja menu yang unik. Hari ini aku disuguh puding pisang susu, entah gimana buatnya, yang jelas itu enak.

Kami mengerjakan tugas makalah bahasa Indonesia. Nggak sepenuhnya ngerjain tugas sih, setelah selesai aku minta diajarin main komputer. Aku kan asing sama yang namanya komputer, jadilah hari itu aku kesorean pulang.

“Ya udah deh, pulang dulu ya, daah!” Aku melambai pada Eta setelah memasukkan kaki yang dibalut kaos kaki bolongku ke sepatu hitam yang sudah sedikit mengelupas.

Eta balas melambai, dia belum juga masuk meski aku sudah jauh.

Dari rumah Eta, aku harus naik angkot dua kali agar bisa berhenti tepat di depan rumahku. Matahari terik sudah lama kuanggap teman, hasilnya kulitku tak seputih Eta. Entah bagaimana meskipun tiap pulang dia bermotor ria tetap saja kulitnya putih bak pualam.

Zzt… Aku berbalik cepat, sepertinya ada yang mengikutiku dari tadi. Hii, jangan-jangan preman. Aku buru-buru naik angkot dan bisa bernapas lega di sana. Selain kosong, angkotnya langsung jalan pula. Bisa pulang lebih cepat deh.

“Lik Siti! Lik Siti! Riski nakal!” Anggun, keponakan kecilku menghambur menjauh dari kakak laki-lakinya yang sepertinya baru merebut lolipopnya ketika kaki kananku baru menginjak bumi.

Ya wis, lik Siti nduwe premen neng omah, yuh dijukut!” Lagi-lagi aku merasa ada yang mengawasi, segera kututup pintu yang dicat dengan kapur itu keras, lupa kalau Riski masih di luar. Akibatnya ia menangis keras, duh, gawat.

Esoknya aku berangkat seperti biasa, selalu menjadi yang pertama menduduki bangku di kelas. Aku habiskan waktu untuk membuka-buka buku cetak Biologi yang rencananya mau kukembalikan nanti ke perpustakaan.

Aku melirik Eta, yang menunduk di atas buku cetaknya, di pelajaran terakhir sebelum istirahat siang. Seharian Eta tidak banyak bicara. Entah kenapa. Aku menulis di buku notesku yang kubuat dari sisa-sisa buku tulis lamaku saat pelajaran Pak Kamal.

Kenapa diem? Sariawan ya?

Aku menggeser notesku ke depan Eta, ia menulisinya setelah matanya bergerak membacanya..

Iya, gede banget. Setampah!

Walah, gawat tuh. (Mulut aja cuma semangkok)

^_^

Kenapa?

Kemaren, aku ngikutin kamu pulang…

Aku sepertinya baru berhenti bernapas. Jadi rasa seperti diawasi itu karena…

Maaf Ti, aku nggak ngerasa sahabatmu kalo belum pernah tahu rumahmu.

Aku masih membeku, bagai patung es. Sepertinya Pak Kamal tahu ada yang aneh padaku, dia menyuruhku membaca artikel yang sudah ditugaskan pada kami untuk mencarinya sebelum ini. Aku membacanya terbata.

Seselesainya aku membaca, sudah ada selembar kertas penuh tulisan rapi Eta di atas meja.

Apa kamu berhak malu untuk hal yang Allah kasih buat kamu?

Kepintaranmu. Sifat supelmu. Perilaku sopanmu. Semua lebih berharga dibanding harta benda yang bisa hilang sekejap atas perintah-Nya.

Allah melihat hamba-Nya bukan dari hartanya, tapi dari sifatnya.

Maaf karena aku nggak izin dulu ke kamu. Tapi semoga kamu nggak terlalu marah.

NB: Bukannya rumah kita yang sesungguhnya ada di surga?

Saat istirahat, aku duduk termangu dengan tangan memegang notes. Eta duduk di sampingku, tidak berani bicara sepertinya.

Aku menghelakan napasku pelan, berpikir bahwa apa yang ditulis Eta memang benar. Tapi aku benar-benar belum bisa, sekeras apa pun aku mencoba untuk tidak peduli dengan keadaanku. Yang miskin, miskin, dan miskin.

Eta bergerak, wajahnya mengarah padaku. “Siti.”

Aku sedikit berjengit, mungkin aneh, tapi seandainya bisa aku ingin mengubah namaku menjadi lebih bagus.

Eta melotot. “Jangan-jangan kamu juga minder sama namamu?”

Aku menelan ludah. Bola mataku bergerak ke kanan-kiri. Cuping hidungku mengembang sedikit.

Eta menepuk meja, kesal mungkin. “Denger ya, Raja Ptolomeus II yang pernah merintah Mesir dari kapan sampai kapan aku lupa, nama aslinya itu Philadephus, artinya penyayang saudara. Tapi semasa hidupnya dia udah mbunuh dua saudara laki-lakinya.

“Raja Ptolomeus IV, nama aslinya Philopator, artinya penyayang ayah, tapi dia malah bunuh ayahnya. Apa sih arti sebuah nama? Lagipula Siti kan nggak jelek,” ungkap Eta, sedikit putus asa.

Mataku melebar. Benar juga. Kenapa pula namaku yang Siti ini jadi masalah? Siti Nurhaliza terkenal di mana-mana. Siti Hadjar? Siti Khadijah? Ya, ya, harusnya aku membuktikan, Siti yaitu aku, dan aku akan menjadi orang besar.

Dan setelah namaku, rumahku yang jelek seharusnya bukan halangan, begitu kan?

“Semalam aku browsing internet, aku nemuin ini.” Eta merogoh tasnya, mengambil segepok kertas dalam plastik bening.

Mataku melebar. Ada informasi beasiswa di sana, lengkap. Dan itu artinya, peluangku untuk bisa kuliah sangat besar!

Aku menghambur ke Eta, memeluknya, aku tidak berhenti melepas pelukanku ke Eta sekitar lima menit. Sampai teman-temanku ramai, menyoraki kami. Aku-tidak-peduli. Di pelukanku ada teman yang sangat baik. Siti? Ya, namaku Siti, tapi bukan berarti aku anak rendah!

ž

Advertisements

15 thoughts on “[Cerpen] Ya, Namaku Siti!

Komen dong yuukkkzz :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s