Guru, beri kami senyummu, jangan marahmu

Bismillahirrahmanirrahim….

Tadi ngeliat salah satu tv swasta, tentang pedalaman Papua, well….

Apa yang bisa dibayangkan dari : ‘pedalaman Papua’? Alhamdulillah udah pada pake baju, walaupun lusuh.

Tadi ada sekelumit kisah tentang sekolah.
Sekolah hanya bangunan kayu reyot dengan fasilitas sangat seadanya. Guru honorer hanya 1. Kelas tidak diadakan setiap hari. Hanya seperti kumpul-kumpul bocah. Satu kelas berisi anak seumuran kelas 1 hingga SMP, barangkali. Mengajar berhitung, menyanyi. Bahkan untuk menghapus kapur saja menggunakan kardus. Ironis. Tapi memang demikian adanya.

Guru honorer tidak mengejar materi. Dia dan penduduk lain sama ‘sederhana’nya. Pahlawan tanpa tanda jasa…

Sungguh indah. Jauh di sana, profesi mulia masih berjalan. Kadang ada perasaan ingin seperti mereka, tapi bukankah Allah punya banyak rencana?

Ngeliat perut-perut buncit anak-anak kecil. Kehidupan mereka yang dekat dan erat bagai saudara dengan babi dan hewan ternak lain. Bukan tidak mungkin dalam tubuh ringkihnya terdapat penyakit, semoga nantinya bisa berkembang pesat kesehatan di pedalaman papua.

Beda sama stasiun tv lain yang menghadirkan selebriti menggantikan guru untuk mengajar. Lucu pasti. Keterbatasan mereka sebagai ‘bukan guru’ menjadikannya lawakan alami.

Masa SD saya bukan masa yang sangat menyenangkan. Bahkan banyak yang saya lupakan, kenangan di sana. Saya banyak lupa nama teman2 saya. Hanya ingat beberapa, karena kami tidak pernah bertemu lagi. Kebanyakan dari mereka sudah menikah, bekerja. Itulah SD pinggiran. Bahkan saya punya mimpi buruk dengan salah satu guru. Mungkin itu yang menyebabkan saya jadi pendiam. Tidak akan ada yang percaya, kalau saya mengatakan itu sekarang ini.

SMP. Saya masuk di SMP yang tidak terduga sebelumnya. Angkatan pertama IT, sebelumnya bukan IT (Islam Terpadu) setelahnya pun bukan IT karena tahun berikutnya sudah dihapus.

Full day school. Awalnya hanya sampai jam 3 sore. Lama kelamaan sampai ashar dulu di masjid depan sekolah. 3 tahun bersama teman yang semua perempuan, dari berbagai latar belakang sosial. Intrik, tangis, tawa, cinta, persahabatan, ada di sana. Ustadz/ah fresh graduate, maupun yang sudah malang melintang di dunia dakwah.

Keluar dari sana, saya lebih berani, lebih cerewet, lebih ceria. SMA saya terpuruk lagi. Kaget dengan suasana yang ada. Bersikap tak acuh dan cenderung galak pada ikhwan. Guru-guru berbagai versi. Bukan SMP banget.

Paling seneng pas kapan? Dengan mantap saya menjawab SMP. Dengan ustadz/ah yang membaur dengan kami, menjadi sahabat, menjadi orang tua. Tidak akan pernah terlupakan dari sejarah kehidupan. Tidak akan. Berbahagialah para guru, yang dicintai muridnya, sampai nanti…

Dari Abi Musa Radhiallahu Anhu, katanya Nabi Shalallahu Alaihi wa sallam bersabda, “Perumpamaan petunjuk dan ilmu pengetahuan, yang oleh karena itu Allah mengutus aku untuk menyampaikanya, seperti hujan lebat jatuh ke bumi; bumi itu ada yang subur, menyerap air, menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan rumput-rumput yang banyak. Ada pula yang keras tidak menyerap air sehingga tergenang, maka Allah memberi manfaat dengan hal itu kepada manusia. Mereka dapat minum dan memberi minum (binatang ternak dan sebagainya), dan untuk bercocok tanam. Ada pula hujan yang jatuh kebagian lain, yaitu di atas tanah yang tidak menggenangkan air dan tidak pula menumbuhkan rumput. Begitulah perumpamaan orang yang belajar agama, yang mau memanfaatkan sesuatu yang oleh karena itu Allah mengutus aku menyampaikannya, dipelajarinya dan diajarkannya. Begitu pula perumpamaan orang yang tidak mau memikirkan dan mengambil peduli dengan petunjuk Allah, yang aku diutus untuk menyampaikannya.”Abu Abdillah berkata, bahwa Ishaq berkata,” Dan ada diantara bagian bumi yang digenangi air, tapi tidak menyerap.” (Arti dari Hadits No 79 – Kitab Fathu Bari)

Advertisements

12 thoughts on “Guru, beri kami senyummu, jangan marahmu

  1. berry89 said: lah kalo artinya gitu, menurutmu pas atau enggak sama konteks kalimatnya?

    well, untuk pedalaman papua, aku gk berharap kalau mereka punya alat tulis lengkap gitu.. jd irony-nya gk dapetcomment by Flippy

  2. berry89 said: lah kalo artinya gitu, menurutmu pas atau enggak sama konteks kalimatnya?

    buat dunia pendidikan, yg diharapkan salah satunya kelengkapan fasilitas belajar mengajar, tapi di papua nggak ada…. itu kan ironis… mereka harusnya punya hak belajar sama, tapi kita belum bisa

  3. berry89 said: buat dunia pendidikan, yg diharapkan salah satunya kelengkapan fasilitas belajar mengajar, tapi di papua nggak ada…. itu kan ironis… mereka harusnya punya hak belajar sama, tapi kita belum bisa

    oo.. ngomong belajarnya ya.. ehhehe.. he em he em.. ck ck ck.. kapan ya bisa setara semua?comment by Flippy

  4. berry89 said: buat dunia pendidikan, yg diharapkan salah satunya kelengkapan fasilitas belajar mengajar, tapi di papua nggak ada…. itu kan ironis… mereka harusnya punya hak belajar sama, tapi kita belum bisa

    kamu mau ga jadi guru di sana? keren kan?

  5. berry89 said: buat dunia pendidikan, yg diharapkan salah satunya kelengkapan fasilitas belajar mengajar, tapi di papua nggak ada…. itu kan ironis… mereka harusnya punya hak belajar sama, tapi kita belum bisa

    jadi ingat wkt tinggal di Ternate 10 th lampau, di sebuah TK yg didirikan para akhwat. Ibu2 Ternate saling melongokkan kepalanya di jendela utk melihat anak2nya belajar. Ibu2 tsb tampak gemas melihat kesabaran para guru muda tsb dlm menghadapi polah tingkah anak2 . Komentar2nya yg bikin ketawa: “bu guru, siram saja anak itu dengan air” , “Pukul saja sudah, ibu”……(lho jadi ibu biologisnya lebih tega kepada anaknya daripada gurunya, nih)

  6. berry89 said: buat dunia pendidikan, yg diharapkan salah satunya kelengkapan fasilitas belajar mengajar, tapi di papua nggak ada…. itu kan ironis… mereka harusnya punya hak belajar sama, tapi kita belum bisa

    biasanya emang gitu kan dok? klo ada hubungan darah lebih berani ngelakuin hal2 yang menyakiti… kalo ga kenal mah, tar digampar ama bapaknya 😛

  7. berry89 said: buat dunia pendidikan, yg diharapkan salah satunya kelengkapan fasilitas belajar mengajar, tapi di papua nggak ada…. itu kan ironis… mereka harusnya punya hak belajar sama, tapi kita belum bisa

    Berniat jadi guru di pedalaman Papua?

  8. berry89 said: buat dunia pendidikan, yg diharapkan salah satunya kelengkapan fasilitas belajar mengajar, tapi di papua nggak ada…. itu kan ironis… mereka harusnya punya hak belajar sama, tapi kita belum bisa

    pengen sih Yang, kayaknya seru, tapi banyak faktor yg harus diperhitungkan 🙂

  9. berry89 said: buat dunia pendidikan, yg diharapkan salah satunya kelengkapan fasilitas belajar mengajar, tapi di papua nggak ada…. itu kan ironis… mereka harusnya punya hak belajar sama, tapi kita belum bisa

    saya bener2 bercita2 ke sana.. =)pengen…i hope so

  10. berry89 said: buat dunia pendidikan, yg diharapkan salah satunya kelengkapan fasilitas belajar mengajar, tapi di papua nggak ada…. itu kan ironis… mereka harusnya punya hak belajar sama, tapi kita belum bisa

    iya ke? baguslah, semoga berhasil! 😛

Komen dong yuukkkzz :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s