Persiapan Menikah

Bismillahirrahmanirrahim…


Baru saja membahas tentang ini…. Lewat sambungan telepon, bersama seorang sahabat…

Berapa lama mempersiapkan pernikahan?
Tadinya saya pikir konsep menikah sangat sederhana. Ta’aruf, lalu menikah. Tapi tentunya tidak semudah itu melaksanakan ta’aruf kan? (Kalo ada yang udah pernah, bolehlah kami ni dibagi, hihi)

Apakah ta’aruf itu hanya sekedar berbagi CV, bertanya kelebihan dan keburukan kepada orang-orang yang mengenalnya?

Tidak sedikit kasus yang ternyata kedua belah pihak tidak cocok, lalu bercerai, bahkan teman saya sendiri mengalaminya sebelum akhirnya menemukan pasangan yang sesungguhnya. Mengidentifikasi calon pasangan memang bukan hal yang mudah, apalagi kalau belum tahu sifat-sifatnya.

Dari perbincangan kami, mempersiapkan pernikahan rata-rata butuh waktu lama, meskipun ada juga yang singkat. Ada yang butuh waktu 2 tahun, berapa usia saya nanti kalau harus selama itu mempersiapkan pernikahan?
Seberapa penting mengenal calon pasangan hidup lebih jauh? Bagaimana caranya? Cara yang masih terlindung agama?

Apakah dengan bertanya pada seseorang yang kenal baik dengannya, yang jujur dan tidak memihak, yang tidak membencinya, itu cukup?

Istikharah sudah pasti. Lalu apa lagi?
Ikhwan mudah saja melamar, tapi bagaimana dengan akhwat? Bukankah tidak semudah membalik telapak tangan bagi akhwat untuk menikah dengan yang ia kagumi?

Hehe, ilmu saya masih cetek, sharing ya fren!

Advertisements

31 thoughts on “Persiapan Menikah

  1. lussysf said: Coba googling aja… Hehehehe *meminjam jwbnmu tempo hari :D*

    kali ini mau komen serius :)yg lazim biasanya, proses ta’aruf itu tdk perlu lama2, krn semakin lama melakukan prosesnya akan semakin bnyk masalah yg kemudian muncul, akhirnya tdk sedikit yg melakukan proses dg syar’ipun harus kandas ditengah jalan, krn mempertemukan dua isi kepala yg sma2 baru mengenal itu tdk mudah, apa lg jk kdua keluarg sudah ikut ambil bagian utk memberikan ide2 dan lain sebagainya.tapi, kembali kepada niat awal menikah, apakah mnikah hnya sekdar menggugurkan kewajiban yg sifatnya sunnah , atw kah krn ada kepentingan lain, wallahu’alam.sebaiknya, jk sudah melakukan ta’aruf, yg hrs lebih tegas adalah kedua calon yg akan menikah, jk sudah yakin maka hrs disegerakan, mskipun org tua masing2 jg sgt penting, tp jk mrka terlalu dalam interfensi,maka hasilnya tdk sdikit yg gagal, padahal undangan sudah hmpir disebar (hati2lah).jika akhwat mengagumi seorang ikhwan, (maka istighfarlah), meminta pertolongan Allah agar perasaannya itu dibina, sehingga tdk timbul zina hati,krn itu riskan sekali terjadinya kotornya hati dan iman, kl memang kita mampu seperti siti khadijah, maka lamarlah sang ikhwan itu, meski konsekwensinya bisa jadi kita di tolak jg sama sang ikhwan,tp itu resikoknya. jk tidak maka berdoalah dan puasalahketika sudah saling memegang CV masing2, biasanyakan petemuan utk kali pertama, lalu disitu saling ta’aruf yg bnr2 ditel,hingga permasalahan2 di keluarga masing, lalu pertemuan berikutnya sudah ke tahap yg lbh serius, misalnya pertemua kedua (masih dg murrobi masing2), membicarakan teknis sang ikhwan datang ke rumah sang akhwat, setalh terjadi Khitbah, maka sudah masuk ke urusan dua keluarga, dan sang murrobi biasanya memantau, begitu hingga acara walimah berlangsungwallahu’alam bishawab, moga bisa dimengerti

  2. ikhwatiislam said: kali ini mau komen serius :)yg lazim biasanya, proses ta’aruf itu tdk perlu lama2, krn semakin lama melakukan prosesnya akan semakin bnyk masalah yg kemudian muncul, akhirnya tdk sedikit yg melakukan proses dg syar’ipun harus kandas ditengah jalan, krn mempertemukan dua isi kepala yg sma2 baru mengenal itu tdk mudah, apa lg jk kdua keluarg sudah ikut ambil bagian utk memberikan ide2 dan lain sebagainya.tapi, kembali kepada niat awal menikah, apakah mnikah hnya sekdar menggugurkan kewajiban yg sifatnya sunnah , atw kah krn ada kepentingan lain, wallahu’alam.sebaiknya, jk sudah melakukan ta’aruf, yg hrs lebih tegas adalah kedua calon yg akan menikah, jk sudah yakin maka hrs disegerakan, mskipun org tua masing2 jg sgt penting, tp jk mrka terlalu dalam interfensi,maka hasilnya tdk sdikit yg gagal, padahal undangan sudah hmpir disebar (hati2lah).jika akhwat mengagumi seorang ikhwan, (maka istighfarlah), meminta pertolongan Allah agar perasaannya itu dibina, sehingga tdk timbul zina hati,krn itu riskan sekali terjadinya kotornya hati dan iman, kl memang kita mampu seperti siti khadijah, maka lamarlah sang ikhwan itu, meski konsekwensinya bisa jadi kita di tolak jg sama sang ikhwan,tp itu resikoknya. jk tidak maka berdoalah dan puasalahketika sudah saling memegang CV masing2, biasanyakan petemuan utk kali pertama, lalu disitu saling ta’aruf yg bnr2 ditel,hingga permasalahan2 di keluarga masing, lalu pertemuan berikutnya sudah ke tahap yg lbh serius, misalnya pertemua kedua (masih dg murrobi masing2), membicarakan teknis sang ikhwan datang ke rumah sang akhwat, setalh terjadi Khitbah, maka sudah masuk ke urusan dua keluarga, dan sang murrobi biasanya memantau, begitu hingga acara walimah berlangsungwallahu’alam bishawab, moga bisa dimengerti

    emang ini yang diharapkan….coba lebih paanjang lagi, *Serius*

  3. ikhwatiislam said: moga bisa dimengerti

    emang lagi persiapan jg? yakin sudah siap? karena menikah itu sungguh bukan untuk main2 dan untk senang2 saja, krn nantinya akan bnyk konsekwensi2nya, tp jk sudah yakin maka bnr2 harus disegerakan,krn hukumnya sudah menjadi wajib jk memang keinginan menikah itu sudah sangat tinggi.dan menikah itu adalah mnyatukan dua perbedaan2 bukan menyatukan dua persamaan2, jd nantinya sudah hrs siap mnerima apa2 yg enak dan apa2 yg tdk enak. knp akhir2 ini bnyk pasangan2 ikhwan akhwat yg malah kandas meskipun usia perkawinan merka sudah sgt lama bhkan ada kasus yg sudah memiliki anak, tp jgn salahkan prosesnya, krn biasanya itu terjadi permasalah2n dlm kluarga yg seharusnya sudah di sadari dr awal, shingga ktika trjdi ketidak cocokan makah sudah bs antisipasi dari awal, jgn menyesal di akhir, mnyesal di awalpun kdg tdk baik,tp jk memang fili sudah sgt siap,ataw pun tdk siap, jk keinginan menikah sudah sgt kuat, maka tdk boleh di tunda2 lagi, bicarakan dg org tua, lalu murrobi (tp ini pun sbg perantara), yg kewajiban mncarikan pasangan anak2 gadisnya adalah org tua mereka

  4. ikhwatiislam said: moga bisa dimengerti

    kelewat serius mami ahh…iya, emang itu berdasar fakta2 yang terlihat aja…ada pertanyaan besar, apakah ta’aruf yang singkat cukup?karena sekarang hanya berdasar status ikhwan saja ternyata tidak cukup….hihilagiii lagiiii…. ma keju ma keju ma kejuu

  5. ikhwatiislam said: moga bisa dimengerti

    iya, yg jelas ta’arufnya itu dilakukan scara syar’i, jgn dilakukan sendiri (bnyk kasus terjadi) mereka skdar tau kalo si dia itu ikhwan dia itu ngaji, dia itu baik, dia itu kawan nya kawan saya, dan bla,,bla dah, tp yg ttp lebih baik adalah dilakukan dg perantara, baik itu ayah kita atau paman2 kita, atau keluarga kita atau muhrim kita, atau Murrobiyah kita, yg pasti, ketika melakukan ta’aruf ada yg pendampingan, tidak dilakukan sendiri, atau hnya berdua saja, atau cukup dg chatting (iih enggak banget dah)!!!ta’aruf singkat jk hasilnya maksimal itu yg diharapkan, mksutnya dg ta’aruf singkat krn dg niatan mnghindari masalah2 yg timbul lbh banyk, atw utk mnjaga hati , itu bnyk jg yg mngalami dan baik2 saja hingga sudah kakek2 nenek2 (itumah ibuku hehhe).yg jelas, jgn mnyalahi syari’at islam, nah dari tadi bilang syari’at2 islam terus sih, emang yg syar’i itu gimana?1. ta’arufnya di niatkan krn Allah, dan sudah melalui istikhrah, *jd ketika ada biodata masuk itu, sudah memutuskan bdasarkan solat, bukan asal dtp CV lngsung aja bilang Lanjut,,,,,*2. hemm,,,takut salah, mending nanti ku posting ttg ta’aruf yg syar’i dah , heheh,,,fili kecewa dah 😀

  6. ikhwatiislam said: iya, yg jelas ta’arufnya itu dilakukan scara syar’i, jgn dilakukan sendiri (bnyk kasus terjadi) mereka skdar tau kalo si dia itu ikhwan dia itu ngaji, dia itu baik, dia itu kawan nya kawan saya, dan bla,,bla dah, tp yg ttp lebih baik adalah dilakukan dg perantara, baik itu ayah kita atau paman2 kita, atau keluarga kita atau muhrim kita, atau Murrobiyah kita, yg pasti, ketika melakukan ta’aruf ada yg pendampingan, tidak dilakukan sendiri, atau hnya berdua saja, atau cukup dg chatting (iih enggak banget dah)!!!

    setuju, setuju

  7. ikhwatiislam said: ta’aruf singkat jk hasilnya maksimal itu yg diharapkan, mksutnya dg ta’aruf singkat krn dg niatan mnghindari masalah2 yg timbul lbh banyk, atw utk mnjaga hati

    betul, ini yang diharapkan, dan penting… jaga hatinya itu

  8. ikhwatiislam said: hemm,,,takut salah, mending nanti ku posting ttg ta’aruf yg syar’i dah , heheh,,,

    ^ ^ So…?? Sekarang sudah tahu jawabannya?Kalau sudah, Alhamdulillaah.. semoga Alloh mempermudah urusan Filli.Kalau belum, ntar hubungan Mbak lagi, ya… Tapi jangan di FB, coz sekarng sdg jarang main di sana. ^ ^

  9. ikhwatiislam said: hemm,,,takut salah, mending nanti ku posting ttg ta’aruf yg syar’i dah , heheh,,,

    hwhwhw… semakin jelas kok mba.. tapi kalo mau ditambahin lagi ya seneng, tambahin hadits2 yang lain dari yang biasa ada di buku2 yg bahas ta’aruf, karena hampir semuanya sama ;p

  10. ikhwatiislam said: hemm,,,takut salah, mending nanti ku posting ttg ta’aruf yg syar’i dah , heheh,,,

    menyimak percakapan Mbak Suly dan Fili…Mantep dah ^_^Mmg perjalanan menuju kesana tdk semudah membalik telapak tangan.. harus terus bersabar ketika menghadapi lika-likunya.

Komen dong yuukkkzz :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s