[Flash Fiction] Intan yang Tak Sempat jadi Berlian

Arga berdengus kesal, ditendangnya koper yang menempel di kakinya. Ia di kereta sekarang. Terusir. Liburan ini dia tak bisa kongkow bareng teman-temannya seperti yang biasa ia lakukan. Orangtuanya mengusirnya ke rumah neneknya, Cilacap. Alasannya simpel, supaya ia berubah. Bahkan tempat itu saja ia sudah lupa, terakhir ia ke sana, tidak ada aliran listrik. Tuhaaaan, semoga PLN sudah merambah desa nenekku! teriaknya dalam hati.

Arga menonjok kaca jendela kereta, baru disadarinya, ia tidak membawa semua barang elektronik miliknya. Lalu 5 jam Jakarta – Kroya ia lalui hanya dalam diam? Sial!

Sampai di Kroya, seseorang yang dikenalnya lamat-lamat menghampirinya. Pakde Daryo, dengan motor bututnya, akan mengantarnya ke rumah nenek. Sepanjang perjalanan ia hanya terbatuk, asap motornya tebal sekali.

Here i am! Teriak hati Arga, melempar koper ke pojok ruangan berdebu, dengan jendela kayu tanpa kaca. Ia berbaring di sprei bersih, menatap sentir yang ada di pojok ruangan. Apa kerja PLN? Listrik belum sampai!

Ia keluar rumah, gemerisik daun bambu bernyanyi riang. Tiba-tiba terdengar bunyi debum dari arah belakang. Ia menoleh, sesosok perempuan sebayanya, sedang meringis mengusap pinggangnya.

Mulut Arga melongo melihat tingginya pohon kelapa di sisi perempuan tadi. “Kamu? Memanjatnya?”

Intan, anak perempuan itu, mengangguk. Ia berdiri lalu membenahi bergo tipisnya. “Aku Intan, rumahku di seberang, kamu pasti lupa aku, tapi aku tidak.”

Arga mengerutkan kening. Ia memang lupa. “Hei, antarkan aku ke tempat yang menyenangkan.”

Intan nyengir, “Nanti sore, tunggu aku.” Lalu ia pergi.

Arga nyengir, paling tidak, ada yang bisa dilakukannya di sini.

Sorenya Intan mengayuh sepeda tuanya, Arga pun demikian, ia mengikuti Intan dengan sepeda kakeknya. Pantai Ayah, tujuan mereka. Sunset indah membentang di depan mereka.

“Ah, sayang aku tidak bawa kamera.” Arga mendengus, bahkan ponsel saja tidak dibawanya.

“Kamu kan punya mata. Simpan saja di otakmu, bila ini kenangan indah, maka ia akan ada di kepalamu selamanya.”

Arga menoleh ke arah Intan, jilbab putihnya disinari cahaya jingga. “Bisa saja kamu bicara begitu.” Intan menjawab dengan senyuman.

Esok harinya mereka tetap bersama, mengambili telur bebek milik nenek Arga, bermain layangan di sawah bekas dipanen, meminum es air nira, berjualan kelomang, membantu mencari kerang remis dan yutuk untuk dijual Intan. Arga melupakan kekesalannya pada orangtuanya. Ia bersyukur, ada tempat yang begitu indah di bumi ini.

Intan duduk di batang jambu yang menjulur rendah, ia tak rela Arga pulang demikian cepat. “Aku merasa tidak akan bertemu denganmu lagi.”

“Jangan bicara begitu! Aku akan sering ke sini, aku rela duduk berjam-jam di kereta asal kamu bisa mengajakku keliling lagi.” Arga tampak seperti umur 10 tahun, bukan 16 tahun.

“Jangan lupa bawa oleh-oleh!” teriak Intan ketika motor Pakde Daryo sudah membawa Arga keluar pekarangan.

18 Juli 2006

Arga duduk terpaku di depan pusara, Intan Purwaningsih, nama itu tertulis di nisan di hadapannya. Kemarin, Intan mencari kerang seperti biasa, dan tsunami membawanya ke tengah lautan.

“Kukira kamu pintar, tapi ternyata kau bodoh! Kenapa tidak lari! Bodoh!”

Arga meraup tanah merah di hadapannya. “Aku merasa tidak akan bertemu denganmu lagi.” Kalimat itu terngiang di telinganya, berdenging miris.

“Kau tahu? Aku bawa kamera, aku ingin memotretmu, agar aku tidak pernah lupa wajahmu.”

Tuhan, mengapa kau tidak memberinya waktu untuk berubah menjadi berlian?

~dulu pernah bikin cerpen ini, judulnya Sekeras Intan, tapi file-nya rusak, kubuat jadi FF, tapi ga ada space buat jelasin Intan yang keras ;p~

Advertisements

6 thoughts on “[Flash Fiction] Intan yang Tak Sempat jadi Berlian

Komen dong yuukkkzz :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s