Dokter Bersuamikan Non Dokter?

Bismillahirrahmanirrahim….

Wacana baru untuk lulusan dokter 2010 ke atas (nggak semua univ sih, tapi salah satunya ada UNSOED!) adalah, adanya program internship. Program ini pengganti PTT (Pegawai Tidak Tetap) yang sebelumnya sudah dijalankan, namun tidak wajib. Program Internship ini nantinya direncanakan, 4 bulan di puskesmas dan 8 bulan di RS dengan pengawasan dokter senior. Wacananya lagi, ada banyak desa terpencil yang butuh dokter untuk semakin meningkatkan kesehatan. Setuju banget ini sih.

Saya secara pribadi sebenernya seneng aja kalo ditempatin di desa, karena sebenernya saya juga orang desa. Walaupun bukan desa yang sangat terpencil. Tapi dari pengalaman dokter-dokter yang pernah PTT di tempat terpencil (semua yang cerita dokter laki-laki), banyak banget pengalaman yang didapat.

Tapi gimana kalau perempuan? Fine2 aja sebenernya sih, tapi khawatir juga kan, kalo desanya ekstrim. Tanpa lampu. Meskipun dulu rumah embah nggak ada lampu juga sih, tapi tetep aja seremmm… huehehe.

Sebenernya sih mau disangkutin soal ini:

Nggak tahu kenapa, menurutku kok lebih gampang jadi dokter laki-laki ya, daripada dokter perempuan? Apa pasal? Dokter laki-laki lebih cuek, lebih strong, lebih ke ‘nggak papa nikahnya nanti’ dan lebih mudah cari istri juga. Seandainya, dokter2 laki-laki ini ditempatkan di desa terpencil untuk internship, dia dengan mudah bisa menikah dulu dengan pasangan yang bukan dokter, atau justru menunggu sampai waktu dia selesai internship.

Kalau perempuan? Ada sih, sebenernya cerita. PTT di Sulawesi, nanti setelah nikah bisa minta balik lah… Tapi susah juga sih. Apalagi kalau mau nikah atau sudah nikah sebelum internship. Nanti ninggalin suami dong? Iya kalau bisa ikut suaminya, kebanyakan kan nggak bisa ikut karena punya gawe sendiri.

Tapi pikiran di atas sih cuma pikiran pendek aja, Allah pasti punya rencana indah buat setiap umatnya. Ga ada guna takut atau menyesal untuk saat ini.

Cuma, aku mo nanya, gimana menurut pendapat kalian, tentang BERSUAMIKAN NON DOKTER, karena non dokter bisa jadi jadwal kerja lebih teratur, lebih senggang, atau bahkan lebih sibuk, yang jelas pasti berbeda. Ada yang berpendapat, lebih baik punya suami non dokter karena biar ada yg lebih dekat dengan anak nanti, ada yang sebaliknya karena nggak pengen suami lebih dekat sama anak. Pro-Kontra nggak masalah, karena ini kan cuma sharing… Yang jelas, jangan berdebat. Jangan menyalahkan.

Advertisements

62 thoughts on “Dokter Bersuamikan Non Dokter?

  1. topenkkeren said: bener! coba sih disurvey.

    kata orang, yang bisa mengerti dokter ya cuman dokter…entahlah.. apa ada yah pria yang bisa memahami kalo istrinya jaga malam.. tidak pulang-pulang berhari2.pulang capek.. langsung bobo..trus gimana kalo ditempatkan didaerah yang berbeda… belum bisa membayangkannya hay.. ^^dokter perempuan memang harus jadi wonder women.. mengurusi keluarga dan pasien. jadi sering kagum sendiri sama dokter2 perempuan yang sukses berumah tangga dan berkarier…pa lagi kalo anaknya juga sukses… kagum ^^

  2. berry89 said: bener banget may.. makanya itu, kalo abis nikah terus kepisah karena intership pegimane ceritanye?

    wah.. tapi jangan disepelekan juga.. bny pasangan dokter pisah gara2 sama2 masuk ppds. bny jg yang bisa sukses ditemenin laki yang nonmedis. itu semua tergantung kita m pasangan aja lah pren

  3. berry89 said: bener banget may.. makanya itu, kalo abis nikah terus kepisah karena intership pegimane ceritanye?

    hehehehe… iya mbak…. tergantung kesetiaan dan kepercayaan kayaknya… ^^dan keikhlasan pastinya.. 😀

  4. berry89 said: bener banget may.. makanya itu, kalo abis nikah terus kepisah karena intership pegimane ceritanye?

    uhuk2..aku boleh komen gak ya?*secara bukan calon dokter*kalo aku jadi dirimu Hay..dokter atau engga dokter sama aja kok.yap!jawabannya udh kamu simpulkan. rencana Alloh lebih indah, Hay..cuma inget satu hal belakangan ini..Alloh memberi yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan, yang terbaik bagi kita belum tentu yang terbaik bagi Alloh. namun yang terbaik bagi Alloh pasti yang terbaik bagi kita.

  5. menjadiyanglebihbaik said: uhuk2..aku boleh komen gak ya?*secara bukan calon dokter*kalo aku jadi dirimu Hay..dokter atau engga dokter sama aja kok.yap!jawabannya udh kamu simpulkan. rencana Alloh lebih indah, Hay..cuma inget satu hal belakangan ini..Alloh memberi yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan, yang terbaik bagi kita belum tentu yang terbaik bagi Alloh. namun yang terbaik bagi Alloh pasti yang terbaik bagi kita.

    itu udah pasti sayaanggg…. makasi yaa

  6. suami non dokter? angkat tangan 🙂
    suami berprofesi apa saja sama..kalau sudah ditakdirkan Allah. banyak juga yang bukan dokter harus pisah sama suaminya karena masih terikat kontak dsb. cinta memang butuh kesabaran. hehehe 🙂

  7. nikah selama internship? Sudah ada 2 orang teman anak yang begitu. Habis nikah ya balik lah ke tempatnya masing2, karena suami mereka non dokter. Dari beberapa penelitian, jumlah dokter perempuan trendnya meningkat. Sekarang ini 40% dokter adalah perempuan.

Komen dong yuukkkzz :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s