Bulan 7, Tahun Lalu [Side A]

Bismillahirrahmanirrahim…

Juli tahun lalu. Keharusan menjalani KKN. Wajib.
Apa yang terbayangkan ketika itu? Banyak. Salah satunya adalah: seberapa nderik*-nya desa yang akan aku sambangi?
Sekitar 3 hari menuju hari H, aku dan temanku menyusuri jalanan menuju Purbalingga, yang sebenarnya hanya berjarak 1 jam perjalanan. Tapi menjadi lebih dari 1 jam, karena: kami tidak tahu alamat jelasnya!

Alamatnya adalah: ada masjid, belok, rumah besar. Well! Bisa dibayangkan, banyak sekali masjid yang kami temui sepanjang perjalanan! Dan, tiap kali kami melihat kubahnya, kami berhenti, bertanya, kemudian jalan lagi. Ketika sampai di persimpangan, kami berdebat harus melewati jalan A atau B. Huff, membayangkannya saja melelahkan.

Sampai! Rumah besar di depan sawah yang terbentang luas. Kami masuk takut-takut,

“Assalamu’alaikum, permisi Pak, mau cari Pak Lurahnya ada?” “Wah, di sini nggak ada Pak Lurah, adanya Bu Lurah,” sahutnya sambil tersenyum.

“Ah, iya Pak, maksudnya Bu Lurah.” Lantas kami diajak masuk, pria yang kami temui tadi, suami Bu Lurah. Ya, Lurah desa ini seorang ibu, jadi jangan panggil suaminya dengan Pak Lurah.

Kami menunggu, ternyata Bu Lurah baru tidur karena semalam habis menjaga air. Di musim kemarau, air jarang, sehingga untuk mengairi sawah yang berhektar-hektar, beliau berkeliling tiap malam untuk mengawasi pembagian air. Wonderful woman!

Sosok itu keluar, dengan kaos dan celana pendek, rambut shaggy pendek awut-awutan. Wajah tak bersahabat, sangar! Ya, ya! Kami sadar kami telah melakukan kesalahan besar, kami membangunkan singa tidur! Tingkah kami setelah itu seperti di depan penguji SOCA, ujian lisan, dengan 1 dosen killer di depan kami. Setelah menunggu beliau ganti baju, kami menuju rumah kader PKK yang akan menjadi basecamp kami selama KKN. Bu Endang.

Penuh tawa. Bu Endang terlihat periang, dan tipe orang Jawa yang sangat terbuka, ambooy… senangnya hati karena beliau yang akan jadi induk semang kami selama KKN. “Kalian, sekarang malu-malu, nanti pasti malu-maluin.” Bu Lurah berujar, sambil mencomot buah nangka yang disajikan Bu Endang. Kami nyengir kuda, memang, pada dasarnya kami orang yang gokil, tapi entahlah kalau Lurah kami begini.

Hari H! Penerimaan di Kecamatan, Lurah kami datang terlambat! Wah, beliau dengan seragam dinasnya, satu-satunya wanita di antara Lurah lainnya yang semua lelaki, dan beliau sama sekali tidak lembut. Sebenarnya Bu Lurah berlatar pendidikan ekonomi, karena menikah dengan sesama pegawai Bank, maka ia mundur, dan ternyata diserahi jabatan sebagai Lurah. Hmm, kurasa wibawanya memang terlihat, auranya memancar kuat. Aku bisa membayangkan seperti apa marahnya.

Hari pertama KKN, pencarian warga buta aksara, kami diberitahu sebuah rahasia, bahwa rumah yang kami tempati berhantu. Aku nyengir sambil bergidik, menenangkan dalam hati, di semua tempat pasti banyak jin, tidak hanya di rumah kami. Minggu pertama, penuh kesibukan, benar-benar deh, rasanya ingin pulaaang, tidak betah! Rindu kasur di rumah. Tapi, hey… KKN ini semakin lama semakin menyenangkan!

Bu Lurah ternyata orang yang gokil abis! Aduh, jangan tanya ramenyaa. Ceriwis dan suka cerita. Tim KKN dari kelurahan sebelah saja ikut nimbrung ke rumah Bu Lurah kalau kami sedang kumpul, untuk sekadar curhat atau menumpang makan. Dua anaknya, Arel dan Dito, menggemaskaan. Kadang kami ngobrol sampai malam selepas mengajar, di teras yang sunyi, dengan pemandangan sawah gelap.

Pulangnya? Kalau hanya aku berdua kawanku perempuan, kami bernyanyi-nyanyi kecil sampai tiba di rumah Bu Endang. Gelap, dan… horor. Sering kami diajak pelesir ke kota Purbalingga, menjenguk Dito yang sedang pesantren kilat, mencari jajanan berbuka, menikmati malam minggu di alun-alun, ditraktir wedang jahe, bermain kembang api setelah tarawih, diundang berbuka. Yang terakhir itu menyebabkan perut kami melembung, karena makan di dua tempat berbeda. bersambung ke SIDE B.

Postingan ini dalam rangka mengikuti lomba BERBAGI CERITA DENGAN KATA.

Mohon Maaf bila pembagian postingan ini mengurangi kenyamanan membaca, semata-mata hanya untuk mereduksi kelelahan membaca akibat cerita yang terlalu panjang.

Advertisements

26 thoughts on “Bulan 7, Tahun Lalu [Side A]

  1. wicakz said: jare sopo?… :p

    keren jas KKNnya hay? diunhas, pakai rompi..*serasa tukang ojek dan tukang parkir saja.. hahahay ^^tapi lumayan, modal sempritan dan bisa survive di pasar tempat KKN.haha

  2. aya06fkuh said: keren jas KKNnya hay? diunhas, pakai rompi..*serasa tukang ojek dan tukang parkir saja.. hahahay ^^tapi lumayan, modal sempritan dan bisa survive di pasar tempat KKN.haha

    model jaket may, enak..haha.. nggak lah, keyak sukarelawanhah? kerjaanmu di sana ya may?

Komen dong yuukkkzz :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s