[Xenophobia] Aku Si Penakut Ulung

Bismillahirrahmanirrahim…

Ini cerita tentang aku. Bertahun-tahun lalu, perjalanan menemukan keindahan bernama ukhuwah islamiyyah.

Hidup di desa, sekolah di desa, dengan orang-orang desa. Orangtuaku sengaja menyekolahkan aku di sekolah yang paling dekat dari rumah. Kalau tidak salah, jumlah anak perempuan waktu itu hanya 5-6 orang. Beberapa di antaranya dari kalangan ekonomi ke bawah. Yang aku ingat, aku tidaklah secerewet sekarang, bahkan cenderung pendiam. Ada sesosok guru killer yang membuatku hampir gila, aku takut sekali, pada dia. Pernah suatu kali, karena bangun terlambat, aku lebih baik mengurung diri di kamar mandi supaya waktu masuk sekolah terlewati dan aku tak usah pergi.

Kepribadian penakut masih terbawa, sampai ke SMP. Awal masuk SMP kala itu, aku dan ibuku berdua mendaftar. Mencoba mengajak bicara orang lebih dulu? Tidak mungkin aku yang melakukannya. Ibu, yang mengenalkanku pada teman-teman sebayaku, yang berasal dari SD dari yayasan yang sama, dengan kemampuan agama jauh di atasku.

Dan aku melihatnya, sosok tinggi besar menurut ukuranku. Sangar, kataku sih. Padahal dia perempuan, sama sepertiku, calon siswa baru pula, tapi kenapa tampak begitu menakutkan? Mungkin sesuatu dalam diriku menolak semua hal yang tampak menakutkan untukku. Dan dia berjalan ke arah teman-teman yang baru saja menjadi teman baruku, aku mundur teratur. Menjauh.

Aku tahu, aku salah meninggalkan kelompok mereka, teman baru yang pertama kali kukenal, tapi aku lebih baik pergi dan mencari teman lain yang kupikir setara denganku. Apa karena aku terbiasa berteman dengan kalangan bawah? Lantas aku menjadi menjauh dengan kalangan yang sama denganku bahkan di atasku? Entah, mungkin aku merasa otakku hanya setara dengan orang-orang yang kukenal kemudian.

Aku berteman dengan anak penjual jajanan keliling, dan teman-teman yang hampir setara dengan itu. Aku di-sengiti. Aku dibilang sombong, oleh sekelompok teman pertama tadi. Hampir sepanjang tahun pertama, aku tak berani bicara bahkan menatap mereka.

Tapi semua memudar, tampaknya berawal dari kelas 2 SMP. Dengan penduduk satu kelas seluruhnya perempuan, kami melakukan apa pun bersama. Kami tergolong kelas paling kompak. Aku rajin mengisi mading, dan mendapat award penulis produktif. Aku mulai berbicara dengan kelompok teman pertama, sedikit demi sedikit. Aku mulai melebarkan sayap, berteman dengan setiap orang. Ustadz dan ustadzah bukan lagi guru, tapi kawan. Aku mulai berubah menjadi ceriwis. Mungkinkah percaya diri itu baru mulai tumbuh?

Di kelas 3, kami langganan mendapat piala bergilir. Buku diari-ku yang berisi biodata, terisi oleh semua penghuni kelas, termasuk teman yang pertama ku kenal, dan kutakuti. Kami selalu bersama dari kelas 1 -3. Bahkan hampir semua dari mereka pernah bermain ke rumah, karena jarak rumahku memang tidak terlalu jauh. Sampai sekarang kami kompak, saling bertukar kabar, dan sering reuni. Bahkan dengan kelompok teman pertama tadi. Psst.. anak yang kutakuti sekarang sudah punya anak, yang lucu dan gendut dan aku suka sekali menggendong si gendut itu. Mungkin hanya masalah waktu, dan kepercayaan diri… Dan semua tak pernah sama lagi.

Ini hanya sebagian kisah dari sisi yang lain, bahkan mungkin tak terlalu menyentuh tema utama. Tulisan ini dibuat untuk mengikuti Lomba Menulis tentang Xenophobia yang diadakan mbak Wayan Lessy.

Ket. Foto: Dokumen Pribadi. Kelulusan Kami.

Advertisements

41 thoughts on “[Xenophobia] Aku Si Penakut Ulung

  1. berry89 said: haha..belum ada digital tuh.. masih pake pilem..mahaaal.. nggak mungkin kubagi-bagi kalo ga terpaksa ;P

    aku yakin mba kum pasti jadi bu guru yang baik dan disayang murid ;))

  2. berry89 said: haha..belum ada digital tuh.. masih pake pilem..mahaaal.. nggak mungkin kubagi-bagi kalo ga terpaksa ;P

    wahh..ada lagunya ya mbak?? enak.. caranya gimanaa? *kok jadi dengerin lagu sambil baca yaa??

  3. wayanlessy said: Kisah yg indah mbak..Waktu memang ampuh mengubah banyak hal ya mbak..termasuk rasa takut.Makasih banyak atas partisipasinya, mbak Haya.

    hehew…khawatir nggak sesuai tema mbak..sama2 mbak lessy

  4. jinggaituorange said: berarti… sekarang filly dah berubah jadi pemberani yaa.. ceriwis pulaaa..betewe,, HSmu itu loohh… bikin aku ngiler ajahhh..itu khan buah favoritqu… huahahaha.. ^o^v

    iya nih yan ;psamaaa doong… always laff orange fruit

  5. intan0812 said: salam kenal….sekarang sudah pemberani kan… nice story

    kebanyak anak kalu dari kecil udah trauma ditakut2i apalagi punya guru galak, pastinya engga pede.. itu ku lihat pada ponakanku.. begitu pindah sekolah, pedenya naik.. waktu dan pengalaman yang mengubahnya..salam kenal ya..

  6. tintin1868 said: kebanyak anak kalu dari kecil udah trauma ditakut2i apalagi punya guru galak, pastinya engga pede.. itu ku lihat pada ponakanku.. begitu pindah sekolah, pedenya naik.. waktu dan pengalaman yang mengubahnya..salam kenal ya..

    iyakah? hum, hum, ternyataa..salam kenal kembali ;)))

Komen dong yuukkkzz :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s