[Pindah Rumah] Sekali dalam 21 Tahun Terakhir

Bismillahirrahmanirrahim..

Kalau ditanya berapa kali pindah rumah, jawabannya sama sekali nggak keren. 1 kali saja dan masih di kota yang sama. Itupun sudah lama, ketika aku masih kelas 1 SD.

Dulu, keluargaku belum punya rumah milik sendiri, jadi kami pakai rumah Pakde yang tidak ditinggali. Rumahnya sederhana saja, khas jaman dahulu. Ada dua pintu depan, pintu pertama, ruang tamu, pintu kedua, ruang tengah, dapur. Ada pintu samping yang langsung menuju halaman. Kamar mandi dan WC di paling belakang, di sanalah konon tempat para jin yang suka membuatku menangis waktu bayi *horor*.

Lantainya tegel, lantai jaman dulu yang dingin. Isi rumah? Tak banyak. Untuk mengisi ruang tamu, orangtuaku hanya mampu beli seperangkat kursi bambu. Ibuku membuat bantal warna-warni untuk mempercantiknya. Meja makan lipat, kursi lipat. Serba simpel. Di halaman belakang, ditanami sayur-mayur, sekadar menghemat uang belanja. Aku kecil bahkan pernah pergi sendiri ke rumah tetangga sebelah, hanya untuk menunggui kulkas dibuka, aku ingin es! Aku suka es. Tiap sore, aku tunggu tukang es tungtung di depan rumah, sambil menunggu bapak pulang dengan vespanya.

Saat ibu hamil adikku, *usiaku dan adikku berbeda 5 tahun* rumahku sekarang mulai dibangun. Ibu yang hamil besar harus bolak-balik ke pasar, membawa banyak belanjaan, memasak, dan mengirimkannya ke calon rumah. Menu sambel, jadi menu wajib para tukang. Sebetulnya dulu bapak mengajukan untuk membeli mobil dulu daripada rumah. Percakapan mereka antara lain begini.

“Nanti kalau beli mobil, kita mau tidur di mana?”
“Ya tidur di mobil, mandi di masjid.”
“Terus tiap malam pindah-pindah gitu ya?”

Mungkin hanya guyonan, tapi begitulah, pasangan muda, keluarga kecil, impian segudang, dana pas-pasan. Terasa sekali. Sampai saatnya kami pindah, meski jendela belum diplitur, ada beberapa bagian rumah masih belum rapi, belum ada pagar, tapi aku tahu senangnya punya rumah pribadi. Tak susah pindah ke rumah baru kami, barang kami tak banyak. Adikku masih bayi saat itu, aku kelas 1 SD.

Perumahan kami masih belum ramai, makanya kami merasakan dari mulai rumah tetangga kosong, sampai ada yang menempati. Mulai dari taman kecil depan rumah kosong, sampai terisi berbagai tanaman. Mungkin sekitar 14 tahun sudah kami tinggal di sini. Mulai dari sepi barang, sampai tak muat lagi saking banyaknya pernak-pernik. Sekarang rumah tempat tinggal kami dulu sudah renovasi total, jadi nostalgia hanya ada di otak dan beberapa foto yang tersisa. Hehe, tentang pindahannya malah sedikit ya? Maklum, masih kecil. Orangtua sedang mengepak pun aku malah asyik makan kacang telur buatan ibu. 😛

Tips en trik ala Haya Najma yang minim pengalaman :

1. Satu hal yang paling aku sesalkan adalah, buku-buku dongengku hilang entah ke mana sejak kepindahan itu. Oke, cinderella masih ada. Tapi yang lain? Pinokio, Armadilo, Putri Salju… hiks, aku sayang bukuku. Jadi, jangan lupa pak buku-buku di kardus tersendiri, kalau perlu list isinya. Buku sangat berharga, hehe.

2. Sekitar beberapa bulan, sekolahku masih belum pindah dari sekolah yang lama, alhasil aku harus naik becak dulu untuk sampai ke sekolah lama. Cukup jauh juga. Jangan lupakan, kalaupun sekolah anak tidak dipindah, pikirkan akomodasi dan ketepatan waktu sampai di sekolah.

3. Pindahan juga waktu yang tepat untuk pilah-pilih barang. Kalau pindahan tipe aku, yang memang nggak banyak barang, itu gampang sekali. Tapi kalau barang sudah bejibun? Inilah saatnya untuk memisahkan barang yang masih akan dipakai, dan barang yang akan disimpan di gudang. Atau mungkin diserahterimakan kepada tetangga atau saudara yang membutuhkan?

4. Aku selalu membayangkan bagaimana kalau bayi dan anak kecil ada di rumah yang barangnya sudah terlalu banyak. Keselamatan jangan dilupakan. Inilah saatnya untuk mendesain ulang karena belum banyak tatanan. Stopkontak dengan tinggi yang cukup aman, tutup bila perlu. Ujung-ujung meja yang tajam, jauhkan. Undakan yang terlalu tinggi, kalau bisa diberi alat bantu, misal tangga atau turunan.

5. Kalau belum punya banyak perabotan, saranku buatlah lemari atau tempat tidur yang multiguna, misal dengan laci-laci untuk mengisi kolong yang lowong. Manfaatnya besar untuk diisi pernak-pernik kecil, kertas, majalah, tabloid, dan sebagainya yang pasti akan sangat banyak bermunculan di sana-sini seiring berjalannya waktu.

6. Ooh, dan satu lagi. Rumahku sekarang tak punya gudang, barang-barang tak dipakai ditaruh di bawah atap. Mungkin bisa diadaptasi, dengan membuat gudang yang mudah diakses, dengan penerangan yang cukup? Hehe.

Hosh, jangan ngos-ngosan ya bacanya, hehe.

Diikutsertakan dalam lomba YANG INI LOH

Advertisements

23 thoughts on “[Pindah Rumah] Sekali dalam 21 Tahun Terakhir

  1. sama ceritanya ama keluarga saya..awalnya ayah ama ibu numpang di rumah sodara, dia punya mp juga ko, hhe,, dan saat itu masa kecil saya ada di rumahnya (sampai2 klo malam minggu saya nginep d sana mulu walau udah gede, betah soalnya, tapi dia udah pindah dan rumahnya ada di depan rumah yang saya huni sekarang), saat ibu hamil adik saya yang ke 2, rumah udah mulai mau jadi, dan saat lahir rumah udah jadi dan kami pun tinggal di rumah yang jadiitu, hanya saja kayu kursi ga ada, lantai masih tanah, pokoknya serba pas2an lah, hha….(ikut curcol)

  2. tengkyu ya untuk keikutsertaannya… childproofing memang penting banget biar gak repot2 njaga anak terus2an, tapi problemnya muncul kalo masih ngontrak, apalagi barang2nya nyewa juga.. 😀

  3. night16 said: sama ceritanya ama keluarga saya..awalnya ayah ama ibu numpang di rumah sodara, dia punya mp juga ko, hhe,, dan saat itu masa kecil saya ada di rumahnya (sampai2 klo malam minggu saya nginep d sana mulu walau udah gede, betah soalnya, tapi dia udah pindah dan rumahnya ada di depan rumah yang saya huni sekarang), saat ibu hamil adik saya yang ke 2, rumah udah mulai mau jadi, dan saat lahir rumah udah jadi dan kami pun tinggal di rumah yang jadiitu, hanya saja kayu kursi ga ada, lantai masih tanah, pokoknya serba pas2an lah, hha….(ikut curcol)

    hihi, berasanya rumah masa kecil ya yor, jadi ngangenin :Dhu um, begitulah serunya kehidupankamu ikutan lombanya aja yor, masih ada waktu looh

  4. trewelu said: tengkyu ya untuk keikutsertaannya… childproofing memang penting banget biar gak repot2 njaga anak terus2an, tapi problemnya muncul kalo masih ngontrak, apalagi barang2nya nyewa juga.. 😀

    betul skali mbak, kalo di sana ada barang sewaan juga ya? hoo, i see 😀

  5. berry89 said: hihi, berasanya rumah masa kecil ya yor, jadi ngangenin :Dhu um, begitulah serunya kehidupankamu ikutan lombanya aja yor, masih ada waktu looh

    iya, beda ama rumah sekarang mah, hha…lomba apa mba?

  6. berry89 said: mba siin, HSnya lucu bangeett… :OJiah, pindahnya waktu bayi ya mbak? hihihi

    hihihi…itu ponakan, ganteng yak? :Pgak sih, pas masih SD,… tapi koq aku lupa ya, cuman inget letak rumahnya doank 😀

  7. sinthionk said: hihihi…itu ponakan, ganteng yak? :Pgak sih, pas masih SD,… tapi koq aku lupa ya, cuman inget letak rumahnya doank 😀

    iyaaaaa… luculuculucuuuuuujedotin kepala dulu mbak, ngumpet kali, hihi

  8. berry89 said: di klik atuh, link yang paling bawaaah

    udah saya lihat, ternyata ada lomba ya, hhe,,, saya malas ngetiknya mba, hhe,, ga jadi ikut ah, hem klo mba menang, berati saya juga menang, hha 😀 ceritanya mirip soalnya…

  9. night16 said: udah saya lihat, ternyata ada lomba ya, hhe,,, saya malas ngetiknya mba, hhe,, ga jadi ikut ah, hem klo mba menang, berati saya juga menang, hha 😀 ceritanya mirip soalnya…

    huu dasaar 😛

Komen dong yuukkkzz :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s