Teman Kecil

Bismillahirrahmanirrahim….

“Mba Lintaang *, Mba Lintaang.”

Aku mendengar suara kecil. Tapi kuabaikan. Sampai beberapa lama, ternyata teman kecilku menunggu di depan rumah, yang gelap.

Sejak kemarin kami berangkat bersama ke mushala, berbagi sajadah karena dia kelupaan bawa sajadah. Lalu pulang, ikut menunggu budhenya kembali dari mushala, karena rumah kosong. Lalu aku ikut menemaninya mengambil beras untuk dibawanya ke sekolah hari ini. Aku tahu, dia berani berjalan gelap2an sendirian, tapi masak aku mau ninggalin?

Dan hari ini, dia berjalan sendirian di kegelapan malam, untuk menjemputku ke mushala. Umurku ketika sama dengan dia? Mana berani. Lalu aku yang tadinya bimbang antara berangkat ke mushala atau shalat di rumah saja karena sisa-sisa pembantaian migren di kepalaku, menyambanginya, dan berjalan bersama, ditemani aroma minyak pala yang kuoles di sekeliling kepalaku.

Aku berdua dengan dia? Seperti ibu dan anak, tampaknya.

Kemarin, tetanggaku yang lain iseng bertanya, “Sama siapa Mbak? Adeknya ya?”

“Anakku nih.” Lalu kami ngikik bersama.

Obrolan kami didengar, dan ditimpali tetangga yang lain, “Wah,  udah pengen ya Mbak.”

Biasa, biasa. Usia 20an, pasti tentang ‘itu’. *smile*

*Bukan nama sebenarnya, tentu 🙂

si pencuri bintang

Advertisements

4 thoughts on “Teman Kecil

Komen dong yuukkkzz :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s