Surat Untuk (Calon) Anakku : Semua Mimpiku Tentangmu

Anakku, apa kabar di sana? Aku merindumu, tahukah kau? Seperti apa dirimu ketika nanti lahir ke dunia? Tapi aku serahkan semua pada-Nya, tak ingin menerka.

Sekarang aku sedang bimbang. Aku begitu mendambakanmu, tapi belum saatnya, karena calon ayahmu pun belum kucari. Hei, jangan kau tertawakan calon ibumu ini ya. Kata calon eyang putrimu, aku ini belum pantas, belum anggun. Jadi seorang istri harus anggun, apalagi nantinya akan jadi seorang ibu. Yah, tapi itu kan proses, ya Nak? Hehe. Kamu harus setuju.

Kamu tahu? Sekarang aku baru mendapat gelar untuk memanjangkan namaku, gelar sementara. Butuh waktu minimal 2 tahun untuk menggantinya menjadi huruf d dan r. Dan internship setelahnya, untuk mendapat Surat Ijin Praktek. Dan mungkin kuliah lagi, sebelum rasa malas menghampiri bila terlalu giat bekerja. Lalu bila itu terjadi saat dirimu sudah ada, bagaimana nasibmu?

Aku betul-betul ingin bersamamu setiap hari. Mengikuti perkembanganmu. Mengajarimu berkata-kata. Menemanimu bermain. Mengajarimu berjalan. Mengembangkan otak kanan dan otak kirimu. Mengajarimu mengaji. Betul-betul ingin. Aku sangat ingin menjadi full time mother hanya untukmu. Kadang aku berpikir, lebih enak masuk di fakultas non eksak, lantas mencari pekerjaan yang tak menyita waktu, untuk menemanimu. Itu wajar kan Nak? Aku tak ingin kau lebih dekat dengan bibik, daripada denganku.

Tapi aku sadar Nak, semua ada konsekuensinya. Semua orang berjalan sesuai track-nya. Baik ia adalah orang yang sibuk maupun tidak. Tapi aku ingin mencari pekerjaan yang tidak terlalu menyita waktuku. Aku tidak ingin berlama-lama di luar rumah. Apalagi saat kau masih sering berada di rumah. Karena saat kau beranjak remaja, pasti kau akan lebih sering berada di luar rumah. Aku akan kesepian.

Aku sudah sering menggendong anak-anak temanku, sampai pegal dibuatnya lenganku ini Nak. Jadi kupikir aku sudah siap bila nanti aku menggendongmu—yang aku harap status gizimu cukup baik. Aku akan mengabadikanmu di sebuah blog, yang bercerita tentang kita—aku sudah memulainya. Tentang aku, ayahmu, dan kamu, bahkan mungkin adikmu. Aku akan mulai dari perjalanan mencari siapakah yang akan menjadi ayahmu kelak. Masih terlalu jauh? Tidak juga.

Calon eyang kakung dan eyang putri-mu menyimpan surat cinta mereka di koper atas lemari. Aku belum pernah melihatnya, rahasia kata mereka. Tapi nanti, kamu bisa membaca tulisanku ketika kamu sudah bisa memahaminya. Akan ada fotomu di sana, perkembanganmu. Ah, semoga saja aku tidak pernah kelewatan meng-capture perkembanganmu, meski hanya dengan lensa mata ini.

Hmmm… Sounds great. Apakah terlalu mendahului kekuasaan-Nya bila aku sudah mulai membayangkanmu? Mencoba mencari sebuah nama, dengan unsur bintang di dalamnya? Membayangkan rumah yang akan menjadi rumah kita? Membayangkan akan bermain apa nanti kita? Membayangkan dongeng apa yang akan kubacakan untukmu?

Setiap kali aku menyambangi toko buku, aku hampir selalu mampir ke bagian buku cerita anak. Berharap nanti aku punya cukup uang untuk membelikanmu itu, Nak. Mulai dari cerita nabi, sampai buku menghafal jus amma dan artinya. Harus kuakui, aku akan membuatmu jadi gila membaca. Oh, maafkan aku Nak, itu penting sekali, haha. Kita akan menjaga buku-buku kita, di sanalah sumber ilmu kita.

Ya ampun, Nak… Belum apa-apa aku sudah begini? Maafkan aku Sayang, maafkan. Seandainya itu bisa kulakukan, maka akan kulakukan, seandainya pun tidak, maka kita akan mencari jalan yang lain. Begitu kan?

Doakan calon ibumu ini, supaya jalan menujumu dipermudah oleh Sang Khalik. Meskipun tak ada kepastian waktu, semoga kita akan bertemu. Lalu kau akan memanggilku ibu, saat bibirmu sudah mampu menyuarakannya. Dan kami—aku dan ayahmu—akan tersenyum bahagia, dan membalas, ”Ya, Sayang, ini ibu dan ayahmu.” Dan, semoga, kami dapat menjadi orangtua terbaik sesuai tuntunan Nabi kita Muhammad shalallahu ’alaihi wa sallam…

Cintailah anak-anak dan kasih sayangi lah mereka. Bila menjanjikan sesuatu kepada mereka tepatilah. Sesungguhnya yang mereka ketahui hanya kamulah yang memberi mereka rezeki. (HR. Ath-Thahawi)

____________
Surat ini akan kusimpan, hingga saatnya kau membacanya
Lihat, betapa romantisnya calon ibumu ini…

Dibuat untuk diikutsertakan dalam lomba Surat Untukmu, Nak. Dari Calon Ibumu/Ayahmu
Advertisements

32 thoughts on “Surat Untuk (Calon) Anakku : Semua Mimpiku Tentangmu

  1. luvummi said: kalau aku akan menyimpannya untukku sendiri, dan membukanya kelak…hei Phiel..Diah jg kangeeeen banget sama anak Diah 😀

    prikitiw… aku juga mau bikin yang pribadiiikayak yang di poto yaa? 😛 *image-nya mba di banget

  2. dysisphiel said: prikitiw… aku juga mau bikin yang pribadiiikayak yang di poto yaa? 😛 *image-nya mba di banget

    hehehe, jadi malu :”>yang di poto itu fans berat Diah,hihihimakasihhhh..*seneng*

Komen dong yuukkkzz :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s