Aku Benci Jadi Dokter (Muda)

Bismillahirrahmanirrahim…

Oke.. stase IKM berjalan lancar. Meski ada beberapa kali kecelakaan mengenaskan, bukan aku yang menyaksikan. Mentoknya hanya kecelakaan yang mengakibatkan muntah darah dan percobaan bunuh diri, sama-sama nggak meninggal kan?

Stase THT… , menyenangkan, meski tiap kebagian follow up bangsal atau operasi, kebanyakan mereka adalah kanker.

Stase Radiologi. Belum ada yang lebih menyenangkan. Tidak banyak interaksi dengan pasien.

Stase Kulit. Sama menyenangkannya. Jarang menemukan keganasan. Paling-paling kusta, atau kegawatan penyakit kulit seperti SSJ.

Stase Interna. Stase besar pertama. Dengan jaga full pertama. Dua kali jaga, berjalan normal, menyenangkan, dan sepi…. Jaga ketiga. Ramai. Saat mengecharge energi dini hari kemarin, teriakan datang, panik. Temenku lebih dulu menyambangi, sebenarnya aku sedang memanipulasi hatiku, berharap tidak akan ada giliran RJP untuk pasienku malam itu. Ternyata benar! Sial. Padahal setengah 2 dini hari, aku dan temanku baru follow up dia. RJP. Aku pegang ambu bag. Berharap setengah mati akan ada nafas spontan. Aku tak tahan mendengar keluarga nya menangis, tolong! EKG… datar… Pupil midriasis total. Reflek Cahaya negatif. Perawat-perawat keluar, sambil berbisik mengamanahi untuk mengabarkan berita ini pada keluarga.

Temenku, hanya orang yang salah waktu dan tempat. Dia seharusnya jaga IGD, tapi sedang numpang tidur di ruko bangsal. Dan dia laki-laki, jadi tenaganya untuk RJP sangat berguna. Dan di akhir kesempatan, dia masih kuberi kerjaan untuk mengabarkan berita duka ini. Karena jujur saja, hatiku remuk redam saat itu, sesak. Bapak, maafkan kalau kami punya salah…. Kami doakan Bapak diampuni dosanya, diterima amal perbuatannya, dihapuskan siksa kuburnya, dan keluarga yang ditinggalkan dapat menerima dengan lapang dan ikhlas. Sungguh, bagian seperti ini yang paling kubenci.

Dan dini hari itu kulanjutkan dengan bersepeda dengan hati lebur menuju IGD, meminta tanda tangan surat kematian.

Perbanyaklah mengingat kematian. Seorang hamba yang banyak mengingat mati maka Allah akan menghidupkan hatinya dan diringankan baginya akan sakitnya kematian. (HR. Ad-Dailami)

Advertisements

45 thoughts on “Aku Benci Jadi Dokter (Muda)

  1. sedih ya..:(jadi dokter memang pekerjaan yang berat..dan hanya orang2 terpilih yang bisa melakukannya..insya Allah adik termasuk org terpilih itu, mudah2an selalu diberi-Nya kekuatan utk menjalankan amanah Allah ini..

  2. andiahzahroh said: Harus tegar ya PhilDokter ga boleh ikut nangis2 saat nemuin kejadian kayak gitu 🙂

    Be strong bu ‘dokter muda’! Anda beruntung sekali karena bekerja di lingkungan dimana anda memiliki kesempatan sangat luas untuk senantiasa bersyukur dan merefleksi diri. Majulah wahai bu dokter muda! *kalimat terakhir ditulis dengan irama nasyid ‘mujahid muda’* ^_^

  3. andiahzahroh said: Harus tegar ya PhilDokter ga boleh ikut nangis2 saat nemuin kejadian kayak gitu 🙂

    sama :-(belum pernah 1 pun pasien yang di-RJP ngga meninggal T_Tapalagi di melati nanti, bayi2 kecil yang belum tau apa itu hidup, sudah harus kembali pada yang menghidupkannya#sad

  4. andiahzahroh said: Harus tegar ya PhilDokter ga boleh ikut nangis2 saat nemuin kejadian kayak gitu 🙂

    lama lama tumpul juga perasaan ini karena sering melihat hal hal seperti diatas,apa daya memang seperti itulah di ugd.semangat ya dokter Haya harus kuat mental

  5. bundakirana said: sedih ya..:(jadi dokter memang pekerjaan yang berat..dan hanya orang2 terpilih yang bisa melakukannya..insya Allah adik termasuk org terpilih itu, mudah2an selalu diberi-Nya kekuatan utk menjalankan amanah Allah ini..

    terimakasih doanya bunda… doakan terus ya..

  6. afriantodaud said: Be strong bu ‘dokter muda’! Anda beruntung sekali karena bekerja di lingkungan dimana anda memiliki kesempatan sangat luas untuk senantiasa bersyukur dan merefleksi diri. Majulah wahai bu dokter muda! *kalimat terakhir ditulis dengan irama nasyid ‘mujahid muda’* ^_^

    doanya 🙂

  7. hidayahseeker said: sama :-(belum pernah 1 pun pasien yang di-RJP ngga meninggal T_Tapalagi di melati nanti, bayi2 kecil yang belum tau apa itu hidup, sudah harus kembali pada yang menghidupkannya#sad

    iya mba… sedih kalo ga bisa nolong

  8. nia12vein said: lama lama tumpul juga perasaan ini karena sering melihat hal hal seperti diatas,apa daya memang seperti itulah di ugd.semangat ya dokter Haya harus kuat mental

    kalo tumpul jangan lah, smoga, aamiin….iya mbaaa, aamiin, makasih banyak doanya

  9. nia12vein said: lama lama tumpul juga perasaan ini karena sering melihat hal hal seperti diatas,apa daya memang seperti itulah di ugd.semangat ya dokter Haya harus kuat mental

    sama haya..di anak ini aku sering mendapatkan yang seperti itu..sekali mengabarkan kekrititsan dan meminta ketenangan dari pihak keluarga..sekali benar-benar menyaksikan kematian, dan menatap mata orang tuanya yang berkucuran air mata, sekali menghadapi apnue, kemudian sempat muncul lagi napasnya, walaupun akhirnya tidak tertolong, waktu saya keluar orang tuanya menangis mpe selonjotan di lantai..berkali-kali harus membagging pasien..yang kemudian diikuti kabar kematiannya di hari setelahnya..innalillahi..apa lagi yang akan terjadi..dan kapan giliranku..”kita tak akan pernah tahu apa yang akan terjadi esok, lusa, dan berikutnya..”

  10. imadr said: sama haya..di anak ini aku sering mendapatkan yang seperti itu..sekali mengabarkan kekrititsan dan meminta ketenangan dari pihak keluarga..sekali benar-benar menyaksikan kematian, dan menatap mata orang tuanya yang berkucuran air mata, sekali menghadapi apnue, kemudian sempat muncul lagi napasnya, walaupun akhirnya tidak tertolong, waktu saya keluar orang tuanya menangis mpe selonjotan di lantai..berkali-kali harus membagging pasien..yang kemudian diikuti kabar kematiannya di hari setelahnya..innalillahi..apa lagi yang akan terjadi..dan kapan giliranku..”kita tak akan pernah tahu apa yang akan terjadi esok, lusa, dan berikutnya..”

    iya ima… kadang jadi pengen profesi lain aja..

  11. imadr said: sama haya..di anak ini aku sering mendapatkan yang seperti itu..sekali mengabarkan kekrititsan dan meminta ketenangan dari pihak keluarga..sekali benar-benar menyaksikan kematian, dan menatap mata orang tuanya yang berkucuran air mata, sekali menghadapi apnue, kemudian sempat muncul lagi napasnya, walaupun akhirnya tidak tertolong, waktu saya keluar orang tuanya menangis mpe selonjotan di lantai..berkali-kali harus membagging pasien..yang kemudian diikuti kabar kematiannya di hari setelahnya..innalillahi..apa lagi yang akan terjadi..dan kapan giliranku..”kita tak akan pernah tahu apa yang akan terjadi esok, lusa, dan berikutnya..”

    Dulu pernah nonton film dengan setting RS. Ada dokter muda yg ditarik ke luar ruang rawat oleh dokter senior gegara menunjukkan raut sedih di depan keluarga pasien. Katanya, “Kamu lebih baik nggak usah jadi dokter kalo nggak bisa mengendalikan emosimu.”

  12. akuai said: Dulu pernah nonton film dengan setting RS. Ada dokter muda yg ditarik ke luar ruang rawat oleh dokter senior gegara menunjukkan raut sedih di depan keluarga pasien. Katanya, “Kamu lebih baik nggak usah jadi dokter kalo nggak bisa mengendalikan emosimu.”

    makanya aku keluar mba 🙂 temenku jadi tumbal

  13. akuai said: Dulu pernah nonton film dengan setting RS. Ada dokter muda yg ditarik ke luar ruang rawat oleh dokter senior gegara menunjukkan raut sedih di depan keluarga pasien. Katanya, “Kamu lebih baik nggak usah jadi dokter kalo nggak bisa mengendalikan emosimu.”

    aamiin..Hak Allah, dan kita memang hanya perantara. semangat, dek!

  14. liesemargaretha said: aamiin..Hak Allah, dan kita memang hanya perantara. semangat, dek!

    lama-lama nanti juga “kebal” kok, maksudnya ekspresi muka kita lebih bisa dikontrol. Saya sebagai laki-laki saja, waktu koas juga pernah nangis, gara-gara over estimate, harusnya pasien itu meninggal sesuai apa kata konsulen, tapi saya bilang ke keluarga ga apa-apa, akan membaik kok…memang, kita harus bersyukur dengan diberinya kita “dunia” yang seperti ini dan semakin care dengan pasien, bayangkan bila kita ada di posisi mereka sebagai pasien juga, tentu kita ingin yang terbaik, berikanlah yang terbaik itu kepada pasien kita….

  15. subhanallahu said: lama-lama nanti juga “kebal” kok, maksudnya ekspresi muka kita lebih bisa dikontrol. Saya sebagai laki-laki saja, waktu koas juga pernah nangis, gara-gara over estimate, harusnya pasien itu meninggal sesuai apa kata konsulen, tapi saya bilang ke keluarga ga apa-apa, akan membaik kok…memang, kita harus bersyukur dengan diberinya kita “dunia” yang seperti ini dan semakin care dengan pasien, bayangkan bila kita ada di posisi mereka sebagai pasien juga, tentu kita ingin yang terbaik, berikanlah yang terbaik itu kepada pasien kita….

    iya dok, sering dengar yang begituan, jadi sampai sekarang belum berani menjanjikan macam2ya dok, kadang terpikir, apakah mampu? hehe.. khawatir

  16. subhanallahu said: lama-lama nanti juga “kebal” kok, maksudnya ekspresi muka kita lebih bisa dikontrol. Saya sebagai laki-laki saja, waktu koas juga pernah nangis, gara-gara over estimate, harusnya pasien itu meninggal sesuai apa kata konsulen, tapi saya bilang ke keluarga ga apa-apa, akan membaik kok…memang, kita harus bersyukur dengan diberinya kita “dunia” yang seperti ini dan semakin care dengan pasien, bayangkan bila kita ada di posisi mereka sebagai pasien juga, tentu kita ingin yang terbaik, berikanlah yang terbaik itu kepada pasien kita….

    Saya paling miris melihat polah keluarga pasien yang sama sekali keliatan ga sedih liat keluarganmya yang meninggal,bahkan ada sudah capek2 kita RJP dari kondisi flat sampai SR pake intubasi pula,ealah keluarganya minta dicabut saja intubasinya yo wes menyaksikan eutanasia berlangsung,jan semremet rasanya. ya bukan kita sih yang berhak menilai tapi kalo kejadian ma keluarga sendiri kok ya setega itu*ngacak ngacak kertas

  17. nia12vein said: Saya paling miris melihat polah keluarga pasien yang sama sekali keliatan ga sedih liat keluarganmya yang meninggal,bahkan ada sudah capek2 kita RJP dari kondisi flat sampai SR pake intubasi pula,ealah keluarganya minta dicabut saja intubasinya yo wes menyaksikan eutanasia berlangsung,jan semremet rasanya. ya bukan kita sih yang berhak menilai tapi kalo kejadian ma keluarga sendiri kok ya setega itu*ngacak ngacak kertas

    waduh… kok ada yaaaa???? hiks…mungkin udah nggak tega kali ya? dilepas aja gtu..

  18. nia12vein said: Saya paling miris melihat polah keluarga pasien yang sama sekali keliatan ga sedih liat keluarganmya yang meninggal,bahkan ada sudah capek2 kita RJP dari kondisi flat sampai SR pake intubasi pula,ealah keluarganya minta dicabut saja intubasinya yo wes menyaksikan eutanasia berlangsung,jan semremet rasanya. ya bukan kita sih yang berhak menilai tapi kalo kejadian ma keluarga sendiri kok ya setega itu*ngacak ngacak kertas

    saya kira kita perlu membudayakan selalu informed consent mba, meski itu dilakukan sambil lalu dan secepat kilat. Saya mengalami sendiri contoh yg bagus saat di RS Margono Purwokerto ketika ibu mertua saya sekarat di ICU. Perawatnya bertindak cepat namun tetap meminta izin kepada kami apakah mau di RJP ulang dan dilakukan injeksi emergensi atau tidak….

  19. subhanallahu said: saya kira kita perlu membudayakan selalu informed consent mba, meski itu dilakukan sambil lalu dan secepat kilat. Saya mengalami sendiri contoh yg bagus saat di RS Margono Purwokerto ketika ibu mertua saya sekarat di ICU. Perawatnya bertindak cepat namun tetap meminta izin kepada kami apakah mau di RJP ulang dan dilakukan injeksi emergensi atau tidak….

    akhirnya gimana dok?

  20. berry89 said: akhirnya gimana dok?

    @dok Berry n dok Widodo:alhamdulillah di RS saya terbudaya dengan informed consent dok,terutama tindakan RJP ,Intubasi,ventilator kalo ga mau tandatangan status pasien tersebut jadinya pasien DNR ( Do not Resuscitation) ya udah tinggal kasarnya bantu doa saja.kalo kasus pasien yang dah terintubasi dan keluarga minta di cabut bukan perawat ato dokter yang melakukan tetapi keluarga sendiri dihadapan keluarga yang lainnya dok waktu itu.*itu juga rasanya ga rela

  21. berry89 said: Sungguh, bagian seperti ini yang paling kubenci.

    nanti setelah jadi dokter yang tidak muda lagi aka dokter beneran…saat-saat seperti ini akan selalu teringat. Sesungguhnya dengan menjadi dokter kita akan banyak membaca ayat-ayat Allah. Semoga hal ini tetap menjaga idealisme dokter dari kelunturan akibat godaan dunia

  22. nia12vein said: @dok Berry n dok Widodo:alhamdulillah di RS saya terbudaya dengan informed consent dok,terutama tindakan RJP ,Intubasi,ventilator kalo ga mau tandatangan status pasien tersebut jadinya pasien DNR ( Do not Resuscitation) ya udah tinggal kasarnya bantu doa saja.kalo kasus pasien yang dah terintubasi dan keluarga minta di cabut bukan perawat ato dokter yang melakukan tetapi keluarga sendiri dihadapan keluarga yang lainnya dok waktu itu.*itu juga rasanya ga rela

    kalo saya mah masih jadi (ko)dok mbaa, ;dpastinya ada rasa nggak rela ya mbaaa..

  23. drprita said: nanti setelah jadi dokter yang tidak muda lagi aka dokter beneran…saat-saat seperti ini akan selalu teringat. Sesungguhnya dengan menjadi dokter kita akan banyak membaca ayat-ayat Allah. Semoga hal ini tetap menjaga idealisme dokter dari kelunturan akibat godaan dunia

    aamiin, mohon doanya selalu dokter prita :d

Komen dong yuukkkzz :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s