Pijat Jantung!

Bismillahirrahmanirrahim…

Jum’at sore, waktu setempat, aku duduk membelakangi lorong, mengerjakan draft2an..

“Neng! Kamar 5!” perawat laki-laki berjalan cepat sembari sibuk entah apa.

Serta-merta aku bangkit, mengajak 2 juniorku menuju kamar tersebut. Tahulah aku, ini pasti gawat… Benar saja, waktu aku lewat ruang peralatan, perawat sedang mencari-cari ambu bag *sebuah benda penting yang kadang entah kenapa begitu susah dicari*…

“Mas, RJP!” Aku, pada juniorku yang sebenarnya lebih tua. Terlihat memerintah. Haha… Maaf, tapi kalau ada pria, lebih baik ia yang melakukan pijat jantung itu…

Isak tangis sudah mulai bermunculan. Tapi tak pilu. Karena usia sang pasien memang sudah senja, 93 tahun.

Aku tetap mencoba mengepaskan ambu bag di pipi kempot kakek. Ada denyut kecil muncul. EKG menunjukkan adanya denyut lemah. RJP lagi!

1, 2, 3… Yo! Begitu terus. Tapi kami belum lelah. Sempat dilakukan suction *sedot cairan* karena tampaknya banyak lendir di saluran pernafasannya.

“Sudah, sudah, sudah cukup…” Salah satu keluarga berkata. Tak rela kami mengutak-atik sang kakek.

EKG lagi. Flat. Midriasis Total. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un

Tahukah siapa yang kupikirkan kala itu? Almarhum Eyangku sendiri, karena mereka begitu mirip. Dan mereka sama-sama perokok.

“Kami sudah ikhlas, memang sudah waktunya. Kemarin Bapak bilang, belum waktunya meninggal, ingin ikut jum’atan dulu. Memang sudah waktunya… Betul….” Kata salah satu putranya.

Advertisements

26 thoughts on “Pijat Jantung!

  1. susie89 said: rumah sakit: rumah banyak ibroh…ajal-sabar-ikhlas…

    sepertinya ga perlu RJP….”Setelah dimulai resusitasi, ternyata kemudian diketahui bahwa pasien berada dalam stadium terminal suatu penyakit yang tidak dapat disembuhkan atau hampir dapat dipastikan bahwa fungsi serebral tidak akan pulih (yaitu sesudah ½ – 1 jam terbukti tidak ada nadi pada normotermia tanpa RJP).”keberhasila RJP sangat berkaitan dengan kecepatan penolong dan keterampilannya ketika memulai RJP. batas waktunya cuma 3-4 menit dari sejak terjadi kegagalan napas atau henti jantung.lebih lengkap baca di http://idmgarut.wordpress.com/2009/01/29/resusitasi-jantung-paru/btw, innalillahi wa inna ilaihi raaji’uun….btw, saya baru sekali berhasil mengmbalikan “hidup” pasien, itu pun pasien masih usia bayi….

  2. subhanallahu said: sepertinya ga perlu RJP….”Setelah dimulai resusitasi, ternyata kemudian diketahui bahwa pasien berada dalam stadium terminal suatu penyakit yang tidak dapat disembuhkan atau hampir dapat dipastikan bahwa fungsi serebral tidak akan pulih (yaitu sesudah ½ – 1 jam terbukti tidak ada nadi pada normotermia tanpa RJP).”keberhasila RJP sangat berkaitan dengan kecepatan penolong dan keterampilannya ketika memulai RJP. batas waktunya cuma 3-4 menit dari sejak terjadi kegagalan napas atau henti jantung.lebih lengkap baca di http://idmgarut.wordpress.com/2009/01/29/resusitasi-jantung-paru/btw, innalillahi wa inna ilaihi raaji’uun….btw, saya baru sekali berhasil mengmbalikan “hidup” pasien, itu pun pasien masih usia bayi….

    Tapi kalo udah 93 taun sihmau diapain lagi ya?

  3. subhanallahu said: sepertinya ga perlu RJP….”Setelah dimulai resusitasi, ternyata kemudian diketahui bahwa pasien berada dalam stadium terminal suatu penyakit yang tidak dapat disembuhkan atau hampir dapat dipastikan bahwa fungsi serebral tidak akan pulih (yaitu sesudah ½ – 1 jam terbukti tidak ada nadi pada normotermia tanpa RJP).”keberhasila RJP sangat berkaitan dengan kecepatan penolong dan keterampilannya ketika memulai RJP. batas waktunya cuma 3-4 menit dari sejak terjadi kegagalan napas atau henti jantung.lebih lengkap baca di http://idmgarut.wordpress.com/2009/01/29/resusitasi-jantung-paru/btw, innalillahi wa inna ilaihi raaji’uun….btw, saya baru sekali berhasil mengmbalikan “hidup” pasien, itu pun pasien masih usia bayi….

    Innalillahi wainnilaihi rodjiun..

  4. subhanallahu said: sepertinya ga perlu RJP….”Setelah dimulai resusitasi, ternyata kemudian diketahui bahwa pasien berada dalam stadium terminal suatu penyakit yang tidak dapat disembuhkan atau hampir dapat dipastikan bahwa fungsi serebral tidak akan pulih (yaitu sesudah ½ – 1 jam terbukti tidak ada nadi pada normotermia tanpa RJP).”keberhasila RJP sangat berkaitan dengan kecepatan penolong dan keterampilannya ketika memulai RJP. batas waktunya cuma 3-4 menit dari sejak terjadi kegagalan napas atau henti jantung.lebih lengkap baca di http://idmgarut.wordpress.com/2009/01/29/resusitasi-jantung-paru/btw, innalillahi wa inna ilaihi raaji’uun….btw, saya baru sekali berhasil mengmbalikan “hidup” pasien, itu pun pasien masih usia bayi….

    Kalau memang mau melakukan RJP hi quality dngn algoritma AHA 2010, maka jawaban untuk irama asystole atau PEA hnya pijat jantung : VTP dngn prbndingan 30:2, itupun harus dbrengi dngn epi 1mg IV flash 20cc NS..oh ya, Vasoppresin 40IU ama Sulfas atropin 1mg uda ga dipake lagi..dan lagi sbnre filly ga usah ngelakuin RJP jg gpapa, slh satu indikasi tdk melakukan RJP kan jika keluarga menolak atau jika px sdang diterapi pnyakit stad. Terminal hehehe..

  5. subhanallahu said: sepertinya ga perlu RJP….”Setelah dimulai resusitasi, ternyata kemudian diketahui bahwa pasien berada dalam stadium terminal suatu penyakit yang tidak dapat disembuhkan atau hampir dapat dipastikan bahwa fungsi serebral tidak akan pulih (yaitu sesudah ½ – 1 jam terbukti tidak ada nadi pada normotermia tanpa RJP).”keberhasila RJP sangat berkaitan dengan kecepatan penolong dan keterampilannya ketika memulai RJP. batas waktunya cuma 3-4 menit dari sejak terjadi kegagalan napas atau henti jantung.lebih lengkap baca di http://idmgarut.wordpress.com/2009/01/29/resusitasi-jantung-paru/btw, innalillahi wa inna ilaihi raaji’uun….btw, saya baru sekali berhasil mengmbalikan “hidup” pasien, itu pun pasien masih usia bayi….

    Oh ya, lupa nyantumin sumber”handbook of emergency cardiovascular care for healthcare providers, AHA 2010″

  6. subhanallahu said: btw, innalillahi wa inna ilaihi raaji’uun….btw, saya baru sekali berhasil mengmbalikan “hidup” pasien, itu pun pasien masih usia bayi….

    kayaknya di sini protapnya masih begitu apa ya pak.. meski kadang memang nggak perlu, tapi…. i don’t know.. selalu dilakukan

  7. alvast said: dan lagi sbnre filly ga usah ngelakuin RJP jg gpapa, slh satu indikasi tdk melakukan RJP kan jika keluarga menolak atau jika px sdang diterapi pnyakit stad. Terminal hehehe..

    iya deh yang udah ikutan ACLS ;ptapi kami selalu disuruh ngelakuin mas… terutama sama perawat.. tahu sih, nggak pengaruh banyak, tapiiii… tahu kan? begitu deeehhh, hwhwhw

  8. alvast said: dan lagi sbnre filly ga usah ngelakuin RJP jg gpapa, slh satu indikasi tdk melakukan RJP kan jika keluarga menolak atau jika px sdang diterapi pnyakit stad. Terminal hehehe..

    innaa liLLAAHi wa innaa ILAIHI rooji’uun…

Komen dong yuukkkzz :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s