Keranda Dilapis Kain Hijau

Bismillahirrahmanirrahim….
Dulu, waktu belum koass, yah, setidaknya waktu komuda lah, yang sudah mulai berkeliaran di RS tapi masih ngintil koass beneran, aku tau kalau bangsal kelas III merupakan pengirim pasien IPJ (Instalasi Pemulasaran Jenasah) yang cukup rajin.
Aku bertanya, pada sahabatku yang perawat, “Sering ya, orang meninggal di sana?” “Iya.” “Kamu nggak takut?” “Udah biasa.” Ya, perawat memang ditakdirkan lebih dulu siap berhadapan dengan pasien *karena masa belajarnya lebih singkat*. Dan tugas siswa *pelajar perawat* memang selain hal remeh temeh baik itu mengirimkan air hangat, sampai ganti infus *bayangkan berapa banyak orang yang minta ganti infus* juga ‘menyiapkan’ pasien yang sudah meninggal untuk dikirim ke ‘belakang’.
Pertama kali jaga, pertama kali aku mengalami hal itu, harus RJP pada pasien yang plus *meninggal. Pukulan telak, di jam 3 pagi. Aku bersepeda ke IGD untuk minta tanda tangan dokter umum dengan hati tak karuan. Bahkan aku belum bisa berdamai dengan suara keranda yang didorong. Keranda yang khas, sampai aku hafal bapak-bapak pegawai IPJ yang dengan setia mendorong keranda bertutup kain hijau.
Sejak saat itu, aku sering bertemu muka dengan keranda bertutup kain hijau. Baik dalam keadaan masih kosong, maupun telah terisi. Memang benar, keranda itu lebih banyak mampirke bangsal kelas III, karena rata-rata penghuninya merupakan pasien dengan penyakit stadium terminal. Maka, ucapan pagi buta saat kami akan memulai follow up di bangsal itu, seperti, “Hei, pasienmu plus!” Hanya bisa dijawab dengan innalillah dan mulut menganga untuk pasien yang sebelumnya terlihat baik-baik saja. Atau mengangguk mengerti, karena memang pasiennya sudah sangat jelek keadaannya, tinggal menunggu waktu. Ada ketidakrelaan, tapi, Allah sang penentu waktu untuk pergi.
Setiap kematian adalah pengingat.
Advertisements

26 thoughts on “Keranda Dilapis Kain Hijau

  1. berry89 said: iya maayy?heehe, kadang memang koassnya, tapi lebih sering perawatnya..

    siapa saja yang berbaju/berjas putih yang pasien lihat.. hehehe.. berhubung koas selalu diminta standby di meja “batu” bangsal.. mau tidak mau.. walaupun bukan stase di bangsal itu, mungkin hanya lewat. ngak mungkin menolak.. ^^

  2. berry89 said: hehehe… nggak cuma malam ah maayyy… siang-malam, haha

    salah tulis. maksudnya keluhan ganti infus, keluhan yang paling nyebelin… hehhee… tapi mau bagaimana lagi.. pas dicek..ternyata cairannya masih banyak dan mungkin masih bisa bertahan 1 jam..:D 😀 :Dtidur diulang dari awal lagi deh..hehhehee 😀

  3. aya06fkuh said: siapa saja yang berbaju/berjas putih yang pasien lihat.. hehehe.. berhubung koas selalu diminta standby di meja “batu” bangsal.. mau tidak mau.. walaupun bukan stase di bangsal itu, mungkin hanya lewat. ngak mungkin menolak.. ^^

    sering dipanggil ‘sus’ gak may? hehe…bener banget may, kita memang berada di garis depan.. ;d tapi biasanya pas di interna ini, mereka mintanya pas kami lagi ngisi status atau memang perawat dan siswa lagi keliling, jadi sekalian 😀

  4. aya06fkuh said: salah tulis. maksudnya keluhan ganti infus, keluhan yang paling nyebelin… hehhee… tapi mau bagaimana lagi.. pas dicek..ternyata cairannya masih banyak dan mungkin masih bisa bertahan 1 jam..:D 😀 :Dtidur diulang dari awal lagi deh..hehhehee 😀

    hihihi… padahal udah mimpi sampe mana ya may? ;p

  5. iwananashaya said: bila MALAIKAT MAUT MENJEMPUT…

    aku juga sedih kalo ngedenger berita kematian..perasaannya sangat g kebayang..waktu itu ngeliat didepan mata proses kematian, ya Allah.. hati bergidig.. kalau seperti itu, aku ingin segera pergi saja, tak ingin menyaksikan lebih lama lagi..

  6. imadr said: aku juga sedih kalo ngedenger berita kematian..perasaannya sangat g kebayang..waktu itu ngeliat didepan mata proses kematian, ya Allah.. hati bergidig.. kalau seperti itu, aku ingin segera pergi saja, tak ingin menyaksikan lebih lama lagi..

    masa-masa ingin kabur… apalagi kalau yang meninggal masih usia produktif

  7. akuai said: aku pernah mampir sebentar ke ‘belakang’. Ga horror juga ternyata. Bareng2 sih. Hehe..

    apa? Kalo baca ceritamu (atau ludi), jadi ingat masa2 waktu aku di RS juga. Lumayan 2 mingguan mengamati suasananya. Hoho.

  8. akuai said: apa? Kalo baca ceritamu (atau ludi), jadi ingat masa2 waktu aku di RS juga. Lumayan 2 mingguan mengamati suasananya. Hoho.

    kalo nggak ada keharusan, aku males.. 😀

  9. berry89 said: Memang benar, keranda itu lebih banyak mampirke bangsal kelas III, karena rata-rata penghuninya merupakan pasien dengan penyakit stadium terminal.

    Berarti bahwa rakyat jelata masih diabaikkan oleh negara.

  10. mmamir38 said: Berarti bahwa rakyat jelata masih diabaikkan oleh negara.

    justru mereka yang jelata nggak terlalu diabaikan Opa, yang diabaikan kan yang kemampuannya rata-rata… yang sakit terus jadi miskin.. tapi kalau dibandingkan negara lain sih jauh

Komen dong yuukkkzz :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s