[Cerita] Berlin, Aku Pulang

kita tak pernah tahu, di mana tulang rusuk itu berada..
Aku berjalan cepat, udara dingin menembus jaket tebalku. Barusan Ayah menelepon, segera pulang, katanya. Aku menolak, aku sudah cinta Berlin. Ah tidak, sebenarnya aku pun rindu Indonesia, penolakanku hanya kamuflase.
Aku pergi ke negara ini sejak 4 tahun lalu, saat ide mengenai pemberontakan yang tertahan membuncah. Sejak aku kecil, Ayah, yang seorang dokter spesialis bedah saraf sudah memutuskan akan jadi apa aku nantinya. Aku harus jadi salah satu dari sedikit residen bedah saraf di FKUI. Titik.
Awalnya aku seperti kerbau yang dicucuk hidung. 4 tahun lalu puncaknya, aku tidak mendaftar kedokteran, aku memilih Berlin meski tidak akan ada uang saku dari Ayah. Beasiswa, kerja part time, dan sripilan uang yang Ibu kirimkan membuatku memulai gaya hidup sangat sederhana di sini. Tapi itu pilihanku.
“Dirga, kalau ibu minta kamu pulang, maukah?” Kali ini ibu.
Dan di sinilah aku pagi ini, untuk terbang ke Frankfurt dilanjutkan 15 jam berikutnya terbang ke Indonesia.
Indonesia. Aku memang tidak mengiyakan akan pulang, jadi taksi biru ini membawaku ke rumah tepat dini hari. Di depan rumah aku menelepon Pak Yus, supir kami, untuk membukakan pintu.
15 jam bukan waktu yang sebentar, tubuhku kaku tapi aku belum ingin tidur. Ku seduh kopi sementara Pak Yus masih tak percaya aku sedang ada di dapur rumah kami. Aku kurusan, katanya. Tentu saja, aku turun 8 kilo dari bobotku yang 75.
Sampai ayam berkokok, aku masih belum tidur. Sahut-sahutan adzan yang aku rindu menelusup, membuat bulu kuduk meremang. Aku memutuskan berwudhu dan menuju masjid kompleks. Udara Indonesia. Inhale, exhale. Kabut menyentuh kulitku. Dulu ini terasa dingin, tapi sekarang tidak terlalu.
Masih sama. Jumlah manusia yang shalat subuh di masjid masih sama, sedikit. Kali ini aku begitu menikmati shalat subuh pertamaku setelah tiba di Indonesia, sampai sebuah tepukan menyadarkanku.
“Dirga?”
Aku memutar seluruh tubuhku, mm… “Fauzan?”
Yang kupanggil Fauzan memelukku tiba-tiba, erat. “Pergi ke Berlin tidak pamit itu cuma kamu.”
“Maaf Zan, waktu itu aku sedang labil.” Aku terkekeh. Mataku menelusuri wajah bersih Fauzan dan janggutnya yang ditumbuhi berlembar jenggot. Ia teman baikku, tinggal di permukiman kecil di samping kompleks. Teman sejak SD. “Apa kabarmu Zan?”
“Alhamdulillah baik, aku sekarang mengajar di SMP Islam. Dan aku sudah menikah.” Ia masih sama seperti dulu, sedikit suka pamer meski masih wajar dan selalu hal baik yang ia pamerkan.
Mataku membola. “How?”
“Dan aku punya anak laki-laki yang lucu.”
Geez. Tiba-tiba aku merasa iri. Selama di Berlin aku tidak pernah memikirkan cinta. Sama sekali. Dan Fauzan kembali meracuniku dengan caranya sendiri.
“Aku harus ke rumahmu. Masih yang dulu?”
Uzan menggeleng. “Nggak jauh sih dari rumah ibu…. Kalau dari rumah yang dulu, kira-kira 5 rumah ke kiri. Rumah mungil dengan pagar hijau. Kamu harus mampir kalau sudah tidak lelah.”
Tahu saja ia, aku sudah mulai menguap beberapa kali. “InsyaAllah, aku main.”
“Kalau begitu aku pulang Ga, harus siap-siap mengajar. Aku ada di rumah di atas jam 3 sore, nomorku masih yang dulu kalau kami masih menyimpan.”
Aku mengangguk-angguk. “Masih dong.”
Uzan berjalan ke rumahnya yang berlawanan arah dengan rumahku. Matahari mulai mengintip, aku membuka pintu rumah. Nissan Ayah terparkir di halaman, mesin masih panas.
“… kraniotomi, anak pejabat, ugal-ugalan di jalan… biasa.” Rupanya Ayah baru kembali dari Rumah Sakit, operasi cito.
“Assalamu’alaikum!”
“Wa’alaikumussalam… Dirgaa!” Ibu setengah berlari menghampiriku, memelukku, dan menciumku. Tentu Pak Yus sudah cerita kalau aku pulang.
Aku mencium tangan ibu, lalu menuju ayah. “Yah, apa kabar?”
“Hmm, baik. Kamu? Bagaimana kuliahmu?” Ayah masih menyimpan kecewa, tapi ada gurat rindu juga di wajahnya. Sementara ibu masih menempel saja, jemarinya mengusap-usap rambut bergelombangku.
“Hampir selesai, ingin lanjut S2 lalu bekerja di sana.”
Ibu tiba-tiba berhenti mengusap rambutku. “Ibu nggak mau kamu ke sana lagi. Sudah cukup 4 tahun ini kami berdua saja di rumah, Ga.”
“Kamu selesaikan saja S1 kamu, cari kerja di sini, S2 di sini.” Ayah berkata tanpa penekanan. Mungkin sudah bosan dengan gaya bicaranya dulu yang selalu penuh tekanan.
Aku tidak berdebat lagi. Itu bisa dipikirkan nanti. Yang jelas sekarang aku harus sarapan dan istirahat.
Sore ini aku mengabarkan pada Fauzan akan main ke rumah. Aku penasaran seperti apa istrinya, seperti apa anaknya, dan tinggal di rumah seperti apa. Meski ia sahabat baikku, kadang ia menjadi satu-satunya yang kuanggap saingan. Ia pintar, dan selalu juara kelas. Aku selalu di bawahnya. Hanya sekali aku melampauinya, kelas 1 SMA, saat itu ia kena cacar tepat di musim ujian. Dan sekarang dalam hal rumah tangga, ia mendahuluiku, lagi-lagi.
“Assalamu’alaikum.” Aku mengetuk pintu kayu setengah terbuka itu. Ada motor tua yang masih sedikit berderak, tanda baru tiba dari perjalanan panjang.
“Wa’alaikumussalam warahmatullah.” Suara wanita muda mendekat, membukakan pintu. Wanita berjilbab ungu tua, mungkin ini istri Fauzan. Ah, untuk selera, dia juga tak bisa diragukan.
“Maaf, apa Fauzan ada di rumah?”
“Oh, ada, silahkan masuk dulu. Kebetulan Mas Fauzan sedang di belakang, silahkan duduk.” Wanita itu terus memandang lantai.
Wanita berjilbab ungu itu kembali masuk, agak lama barulah Fauzan keluar dengan wajah segar. Baru mandi rupanya. “Maaf lama, Ga.”
“Nggak apa-apa. Rumahmu nyaman Zan.”
“Kecil.”
“Nyaman itu nggak bisa dinilai dari besar-kecilnya.”
Uzan nyengir. Tak lama seorang wanita yang berbeda keluar membawa nampan berisi 2 cangkir teh dan setoples jajanan. Apa ini? Jangan-jangan istri Fauzan dua?
“Ini istriku, Zan. Mi, ini sahabat terbaik abi, baru pulang dari Berlin.”
Istri Uzan mengangguk sembari tersenyum. Manis juga. Agak mirip dengan wanita yang membukakan pintu.
“Mana anakmu Zan? Aku harap ia mirip umi-nya.” Aku tak sabar membandingkan anak Uzan dengan bapaknya.
Fauzan terkekeh. “Kebetulan kalau sekarang sih masih mirip abinya.” Ia berjalan ke kamar, lalu kembali dengan membopong bayi usia 6 bulan yang gemuk dan super gembil.
“Subhanallah, mirip kamu!” Aku memainkan telunjukku di jemari gemuk anak Fauzan. “Namanya?”
“Iqbal.”
“Haloo Iqbaaal,” tanganku sedikit gemetar saat mengusap kepala plontosnya. Ia begitu ringkih.
“Sebentar, tadi yang berjilbab merah marun itu kan istrimu. Lalu yang membukakan pintu, mm yang berjilbab ungu itu siapa? Mereka tampak tak terlalu jauh beda, Zan.” Jemariku masih digenggam Iqbal, aku menikmatinya dan senang.
“Adik kembar istriku.” Lalu ia tersenyum jahil. “Nggak identik.”
“Oh.” Aku hanya ber-oh. Tapi otakku memutar kembali adegan saat ia membuka pintu. Argh, apa ini?
“Kamu menetap di sini atau akan kembali ke Berlin?”
“Seminggu saja di sini, lalu kembali untuk wisuda. Selanjutnya aku belum tahu akan bekerja di sana atau kembali ke sini. S-1 masih kurang buatku.”
“Kamu masih saja obsesif. Nikah dulu saja lah.”
“Belum ada calon.”
“Mau kucarikan?”
“1 minggu tidak akan cukup Zan, sebelum ini aku belum pernah memulai.”
“Belum memulai sudah pesimis?”
“Coba saja ajukan seseorang buatku, kamu pasti tahu menikah itu proses. Dan butuh waktu lama.”
“Oke. Tunggu kabar dariku.” Fauzan tentu lebih tahu seperti apa wanita yang bisa memenuhi kriteriaku.
Ini aku. Sudah kembali ke Berlin sejak sebulan yang lalu. Udara masih dingin meski di depanku ada kopi panas pekat. Aku sedang skype-ing dengan Uzan, istrinya, dan dia.
Malam ini aku tak juga lelap, padahal suhu pemanas sudah pas dan kasur empuk menunggu. Barusan aku berdoa, untuk ketiga kalinya aku bertanya dan dijawab dengan hal yang sama. Apakah ada jalan semudah ini?
“Bu, sampaikan ke Ayah. Kalau tidak setuju, mungkin akan jadi kali kedua aku membangkang.” Darah Medan rupanya masih cukup merajai. Aku masih suka memberontak meski aku tahu itu tidak baik.
“Kamu tahu nggak, punya 2 orang laki-laki dengan watak yang sama sepertinya penyebab uban ibu melebihi nenek-nenek.”
Aku terkekeh. “Itu hanya masalah gen, Bu. Jangan dicabut, hehe.”
“Tapi kamu harus tahu Ga, selama ini Ayahmu selalu bangga setiap bercerita tentangmu. Ia bertingkah seolah pilihanmu ke Berlin itu salah hanya saat kamu ada di rumah, kamu tahu kan?”
Aku mengangguk meski tahu ibu tak melihat.
“Ya sudah, nanti ibu akan cerita ke Ayah. Dan, bilang ke dia, ibu ingin ketemu.”
Aku mengangguk lagi. Kumatikan ponsel setelah bersalam.
Sepanjang hari aku hanya berdiam diri di Al-Falah. Bertemu kawan yang berbeda tiap jam. Mengobrol seru dengan beberapa kenalan. Membuatku sedikit melupakan ketegangan yang sedang kurasakan.
Nak, ibu dan ayah sudah ketemu dg dia. Ibu suka. Ayah juga. Segera saja kalau sdh siap.

Aku berulang kali memastikan sms ibu. Ayah juga. Ibu tidak bicara lebih banyak, tapi itu sudah cukup.
Dan di sini aku sedang duduk menahan debar yang berlomba. Ku ulangi lagi hafalanku semalam. Ayah duduk di sampingku. Ku amati sejak kemarin, ayah benar-benar tulus menyambut rencanaku. Semalam beliau berkata, lakukan apapun yang ku inginkan selama itu baik. Aku terkejut tapi senang.
Ayah menggeser duduknya. “Kalau nanti anakmu laki-laki, jadi dokter spesialis bedah saraf ya!”
“Ayaah… ia akan jadi apa yang ia mau.”
Lalu ayah menghela nafasnya, pasrah. Segera prosesi itu dimulai. Setelah ini, aku resmi menjadi suami Alia. Adik kembar dari istri Fauzan. Seorang dokter gigi.
“Semoga anakmu sehat semua, laki-laki dan perempuan. Yang laki-laki dia akan jadi dokter spesialis bedah saraf, yang perempuan akan jadi apa yang ia mau.” Ayah merasa itu sudah adil, tapi aku tergelak di tengah deru ketegangan. Ayah tak cepat putus asa.
Ini Rumah Sakit. Alia akan melahirkan. Doakan ia dan anak-anakku sehat.
malam ahad, ruang hijau
hanya fiksi
Advertisements

20 thoughts on “[Cerita] Berlin, Aku Pulang

  1. jaraway said: iyaa.. ke.. id twitter-e @arifuzan hahaha.. iyo iki maca seminggu langsung ketebak.. si jilbab ungu.. hahay

    kenapa dudu arifauzan? ;pseminggu opo?ihihiy, iki cerita maksa, kudune dawa tapi ndang pingin rampung

  2. dysisphiel said: kenapa dudu arifauzan? ;pseminggu opo?ihihiy, iki cerita maksa, kudune dawa tapi ndang pingin rampung

    ga iso id kuwi.. mbuuh.. pas dhe’e gawe ditolak id kuwi.. =))iku lhoo seminggu ning indonesia njuk rep balik berlin

  3. jaraway said: ga iso id kuwi.. mbuuh.. pas dhe’e gawe ditolak id kuwi.. =))iku lhoo seminggu ning indonesia njuk rep balik berlin

    oo, wis dinggo kali yaah?wkwkwk, aduh, aku juga pingin ming berlin

  4. Kewl. Kewl. Kewl. Predictable sih yang dgn siapa menikahnya, tapi tetep aja … kewl!Tapi aku ga suka bagian Indonesia, umi, abi, dan menikahnya. Terlalu yah gitu deh. Ahaha sensifitas pribadi. :pBang, kalau bisa ditambahin gambaran aktivitas/kegiatan kedokteran, atau transportasi, atau kehidupan mahasiswa kedokteran di Berlin, selain setting dan cuaca, atau detil kecil yang lain kayaknya akan lebih dapet. (:Tapi yang ini pun juga udah jauh lebih matang. Tenin. Tinggal sering2 nulis aja. 😀 Cerita pendek tentang dunia kedokteran masih dikit.

  5. malambulanbiru said: Kewl. Kewl. Kewl. Predictable sih yang dgn siapa menikahnya, tapi tetep aja … kewl!Tapi aku ga suka bagian Indonesia, umi, abi, dan menikahnya. Terlalu yah gitu deh. Ahaha sensifitas pribadi. :pBang, kalau bisa ditambahin gambaran aktivitas/kegiatan kedokteran, atau transportasi, atau kehidupan mahasiswa kedokteran di Berlin, selain setting dan cuaca, atau detil kecil yang lain kayaknya akan lebih dapet. (:Tapi yang ini pun juga udah jauh lebih matang. Tenin. Tinggal sering2 nulis aja. 😀 Cerita pendek tentang dunia kedokteran masih dikit.

    iya neng, pinginnya lebih detail, Dirga ini kuliah teknik penerbangan sebenernya, di Univ.Tekn.Berlin, tapi belum bisa cerita lebih banyak, itu bikinnya juga langsung di MP, hwhwTenin itu apa neng?

Komen dong yuukkkzz :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s