I’m the co-pilot, Captain! :D

Bismillahirrahmanirrahim…


Siang tadi, setelah nambal gigi, aku yang berharap sangat banyak bisa donor darah akhirnya harus kecewa setelah darahku mengambang di cairan cupri sulfat. Setelah sebelumnya ditolak karena tensi rendah. Dan sebelumnya lagi ditolak karena Hb rendah–dibekali suplemen. Jangan-jangan aku cacingan. Tapi kalo diliat dari bentuk tubuh gini sih gak mungkin cacingan.

NAH. Kali ini pun, aku harus menelan ludah dan ngiri ngeliat temenku lolos seleksi, halah. Aku jadi merasakan gimana irinya orang ga bisa donor… sediih. Padahal aku udah olahraga, tidurnya juga kurang dari jam 12 malem (jam 12 kurang). Sarapan udah. Aku sampe minta diperiksa pake alat, tapi alatnya rusak T_T”’ yey.

Temenku lolos dalam keadaan mepet. Dia agak-agak mirip sama aku. Kayaknya mengidap hipotensi ortostatik, walaupun kami belum pernah iseng meriksa tensi waktu lagi berdiri. Padahal waktu dibilang dia tensi-nya 100/70 mmHg aku udah agak seneng karena ditemenin ditolak, eh ternyata dia dibebaskan dari segala tuntutan. Tapi memang dia golongan darahnya AB, lumayan kan buat nambah stock.

Pasnya lagi, pas diambil darah, dia mengalami apa yang aku alami juga sebelumnya. Yaitu, ketidaknyamanan penusukan, haha. Jadi si jarum ditusuk terlalu dalam, jadi darah tersendat dan macet di tengah jalan, trus harus ditarik dan diperbaiki. Itu sakit loh pemirsa. Seselesainya, aku bertanya bolak-balik sama temenku, “pusing nggak?” Dia jawabnya enggak.

Oke, karena dia emang udah laper banget dari sebelum donor, akhirnya kami buruan pulang. Di mobil mulailah serangan dia. Keluar keringat dingin, akral dingin, lemes, pucet. Halah, langsung kukasi minum susu coklat hasil dia donor. Angkat kaki tinggi-tinggi. Salahnya aku, malah dia kupaksa makan biskuit coklat, padahal lagi lemes-lemesnya (kaya nggak pernah ngerasain aja gitu).


Setelah dia bilang baikan, dan aku pastikan berkali-kali, akhirnya kami meninggalkan PMI. NAH, pas di lampu merah dengan keadaan jalan menanjak dan di belakang ada motor + truk, dia merasakan gejala selanjutnya. Aura dan gelap. “Aduh, gelap nih, aduh, aduh, kok gelap sih?”

HOAAAA. Aku yang kemampuan nyetirnya setinggi kecambah itu sibuk mikir antara:
-Akankah pilot mampu bertahan sampai ke seberang?
-Haruskah aku menggantikan?
-Keluar dan minta tolong supir truk

Aku pilih yang kedua. Hal yang paling aku nggak suka adalah berhenti di tanjakan. Belum dapet feeling dan ini mobil orang yang beda sama punya sendiri. Oke, well! Kami tukeran, dan lampu hijau berubah lagi jadi merah sementara sahut-sahutan klakson di belakang berbunyi. Yang paling aku takutin itu munduuurrr. Oke, mesin mati. Terus aku nyalain lagi + mantra rahasia untuk menjalankan mobil itu. Jalan, yey! Akhirnya kami selamat. THE END.
Advertisements

26 thoughts on “I’m the co-pilot, Captain! :D

  1. berry89 said: “Aduh, gelap nih, aduh, aduh, kok gelap sih?”

    berasa deja vu…sementara temenku tereak-tereak “Mbak jangan nutup mata! Pokoknya jangan merem!”huehue… kenangan lama~

  2. sahabatry said: Ya ampun temenmu kok bisa gitu ya….Kasiaaannpadahal biasanya aku klo abis donor, langsung nyetir motor biasa#smangat donor lagi ya

    kondisi mba, aku aja pernah pingsan abis donor, hahaha lupa abis begadangaku tadi donor doong, yeyyy

  3. berry89 said: kondisi mba, aku aja pernah pingsan abis donor, hahaha lupa abis begadangaku tadi donor doong, yeyyy

    ya ampuuun, nak filly kok bisa pingsan to…#Alhamdulillah, akhirnya ya. Tadi kuliat sepintas QNmu 🙂

Komen dong yuukkkzz :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s