[FF] Neurolove

“Mas, tolong jaga Eyang ya, malam ini Papa harus terbang ke Kalimantan, ngajar.”
Aku mengangguk. Eyang sakit, serangan stroke, lagi. Sejak 3 hari yang lalu aku dan Papa menunggui saat Eyang masuk ICU, dengan pakde dan bude yang masing-masing bertempat tinggal jauh dari rumah Eyang. Termasuk rumah kami, 6 jam perjalanan dari kota ini. Mama menunggui si bungsu yang sedang ujian akhir. Eyang kakung tinggal dengan seorang rewang di rumah besarnya, kekeuh tak mau kami ajak tinggal bersama. Sampai sore itu, di kamar mandi–setelah seharian mengutak-atik diesel–Eyang jatuh. Padahal kamar mandi sudah kami desain se-aman mungkin, dengan kloset duduk dan rail di tembok. Qadarullah.
Malam ini aku berjaga sendirian. Lewat 3 hari, orang-orang harus kembali bekerja, soal jadwal berjaga besok lagi dibincangkan katanya. Alhamdulillah Yangkung sudah bisa keluar dari ICU. Masih di kamar kelas 1 karena paviliun belum ada kamar kosong. Meski belum sadar penuh. Aku berkutat dengan sebuah buku yang sore tadi kubeli di gramedia. Malam makin larut, aku belum bisa tidur. Perawat sudah memberikan paket obat malam hari, mungkin setelah ini mereka pergi tidur. Lama-kelamaan aku tertidur dalam keadaan duduk.
Paginya setelah kuseka tubuh Yangkung, dan kumasukkan susu melalui nasogastric tube. Seseorang mengetuk pintu, berjas putih dengan sekantong alat kesehatan. Aku tersenyum. Ia minta izin memeriksa Yangkung, aku memersilahkannya. Kuperhatikan seksama.
“Bagaimana keadaannya?”
“Kesadarannya belum baik. Tapi tingkat kesadarannya sudah meningkat, dibandingkan sewaktu di ICU kemarin.”
“Kemarin Mbak juga yang meriksa di ICU?”
Ia mengangguk sambil tersenyum, “Jangan lupa berdoa ya Mas, boleh juga dilatih menelan, jangan melulu pakai tube.”
“Bagaimana?”
“Suapi pakai sendok, sedikit-sedikit. Ajak ngobrol juga, hehe.”
“Berpengaruh?”
“InsyaAllah. Oya, karena suhu tubuhnya masih cukup tinggi, boleh kompres dengan air hangat atau air biasa.”
Aku mengangguk.
“Ya, begitu dulu, makasih Mas.” Ia mengundurkan diri.
Sebetulnya aku masih ingin ngobrol lama, seharian tanpa teman ngobrol sangat membosankan. Tapi segera aku mengambil kompresan, lalu mengajak Yangkung ngobrol mengenai masa kecilku.
Paviliun sudah ada kamar. Sore ini bisa segera dipindahkan. Hm, berarti dia sudah tidak follow up Eyang kan? Sayang sekali, pikirku sambil nyengir.
“Dimas, kok di sini? Sudah selesai ya?”
“Alhamdulillah, tinggal nunggu penempatan internship Tante.”
“Pingin di mana Dim?”
“Pengen di sini, hehe,” ujarku bercanda. Tak mungkin juga sih.
“Setelah itu ambil spesialis?”
“Pengennya, tapi mau nikah dulu, takut kesengsem dokter muda.”
“Lho, kasih kesempatan dokter muda liat residen ngganteng yang jomblo dong!” Sasya yang dokter muda di RS ini, putri Tanteku, berseru.
“Jarang ye? Kesian kamu. Lagi stase apa? Sibuk ya? Kok baru sempat ke sini?”
“Anak, jaga papan catur,” ia mengeluh.
“Kapan-kapan aku ikut jaga ya, aku pengen jadi Sp.A.”
“Siap Mas Ganteng!”
“Btw kamu ada temen lagi stase saraf ya?”
Ia berpikir sekilas, “Ada. Kenapa? Kemaren ketemu ya? Ehem. Siapa? Siapa?”
Aku senyum kecil. “Ada deh.”
Biar saja deh, meskipun hanya sekilas, beberapa menit, aku mengaguminya dan merasakan sesuatu yang berbeda. Tapi belum masaku, aku harus menunggu beberapa waktu untuk merasa siap.
Advertisements

6 thoughts on “[FF] Neurolove

Komen dong yuukkkzz :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s