Guruku, Pahlawanku

Bismillahirrahmanirrahim…

Suatu saat aku sangat mengimpikan menjadi seorang guru meski tujuan dari pendidikan yang sedang kujalani adalah seorang dokter. Tapi bukankah kita akan selalu menjadi guru bagi anak-anak kita? Dan kita yang menentukan, guru seperti apa yang akan mendidik mereka di sekolah kelak.

Aku, sekitar 12 tahun yang lalu. Bocah culun yang bahkan menyeberang jalan sendiri saja tidak berani karena selama ini bersekolah di dekat rumah. Selama 6 tahun sebelumnya aku adalah anak penakut. Akankah 3 tahun itu aku berubah menjadi seorang pemberani? Di sekolah yang kecil ini?

Aku berdiri, di depan SMP-ku. Kecil, letaknya di gang. Bukan impianku untuk bersekolah swasta, dan di sekolah islam. Anak-anak pendaftar berkerudung. Aku? Berkaos dan celana pendek, kurasa, pergi mendaftar bersama ibuku dengan becak. Aku mencemooh. Tak pernah kubayangkan itu akan menjadi sekolah terindah sepanjang masa.

Aku berbaring, pura-pura sakit kepala. Aku memang sering pingsan, karena ternyata (setelah aku tahu sekarang) aku memiliki semacam hypotension postural yang bisa membuatku pingsan bila berdiri terlalu lama. Itu membuatku memiliki celah untuk berkata: aku sakit kepala. Aku tidak ingin berangkat sekolah. Guru SD-ku begitu menyebalkan. Kalau aku terlambat, aku akan dijemur di bawah tiang bendera. Dan sekarang aku bangun kesiangan, aku tidak harus berangkat kan? Aku kan sakit kepala!

Di SMP, aku sekelas dengan anak-anak perempuan, tidak ada laki-laki. Laki-laki berbeda kelas. Selama 3 tahun, aku bersama mereka. Mengikuti berbagai macam kegiatan, memperebutkan berbagai macam kejuaraan dalam lingkup sekolah. Kami rajin menyimpan piala bergilir karena kekompakan kami. Di sanalah aku belajar menjadi seorang pemberani. Bahkan aku-AKU-bermain drama konyol di hadapan seluruh adik kelas putri, berperan sebagai Ahat, dan masuk ruangan dengan kacamata hitam. Itu bukan aku, kurasa. Di deretan depan, ustadz-ustadz juri terpingkal melihat polah kami begitu pula para adik kelas kami. Selama beberapa saat ke depan, kami menjadi seleb sekolah.

Aku pingsan lagi. Di depan kelas, saat mengerjakan tugas dari guru killer itu. Tak berapa lama setelah ia mengetuk kepalaku dengan penghapus papan tulis. Lalu guru killer itu menggendongku ke UKS. Rasanya UKS sudah jadi tempat yang sering kusinggahi. Aku benci, aku benci. Bolehkah aku pindah sekolah?

Aku tidak pernah terlambat, aku berangkat pagi dengan semangat! SMP-ku bersistem full day school. Kami boleh pulang setelah shalat ashar berjama’ah, tapi bahkan aku dan teman-teman masih suka berada di sekolah sampai sore hampir habis. Guru-guruku kebanyakan pengajar muda, fresh graduate. Mereka guru-guru yang sangat baik! Tidak ada yang kuanggap killer, bahkan sekaliber Ust. M yang mengajar Tahfidz cukup keras. Aku datang pagi, kusalami semua ustadzahku. Kadang saat kami punya tugas menghafal kosakata inggris, dengan rajin aku menghadap di depan gerbang dan mulai melafalkan hafalanku.

“Aku nggak mau berangkat!” Aku mengurung diri di kamar mandi. Aku sudah terlambat. Lagi-lagi aku bangun kesiangan. Aku tidak mau dihukum, lebih baik aku tidak berangkat.

Bersepeda pulang-pergi, dan tak sabar menunggu hari esok. Itu semua tak lain karena ustadz dan ustadzahku yang begitu sabar. Tidak pernah kami mendapat marah tanpa alasan. Bahkan ketika kami tak sengaja membuat marah salah satu ustadz kami, sorenya kami menyewa angkot dan berkunjung ke rumahnya untuk minta maaf. Suatu saat kami protes, PR kami terlalu banyak, kadang hampir semua guru memberi kami tugas. Setelah itu mereka membuat kebijakan, maksimal 2/3 PR sehari.

Teman seperjuangan, 3 tahun bersama

Tidak, tidak semua guru di SD-ku membuatku tidak mau sekolah. Hanya di kelas 3 dan 5 aku dipertemukan dengan guru yang kurang aku sukai. Sampai aku, yang notabene sangat patuh pada peraturan, memaksa tidak masuk sekolah beberapa kali karena ketakutan. Di kelas-kelas lain, semua berjalan begitu baik karena mereka guru-guru yang baik. Tapi kesan tidak menyenangkan membuat masa itu bukan masa yang aku kenang dengan baik.

Aku mulai mencintai menulis saat SMP. Kami tergabung dalam klub Majalah Dinding. Bahkan aku mendapat award Penulis Produktif (hanya produktif saja dihargai). Ustadz/ah kami bukan guru, mereka teman. Mereka akan mengunjungi rumah kami kalau merasa perlu. Aku mulai menemukan kesukaanku saat SMP. Dan tentu saja, sejak saat itu aku memutuskan berhijab. Kesedihanku saat pertama kali menginjakkan kaki di sana, hilang tak berbekas. Aku merasa beruntung.

Dan, di akhir masa SMP-ku aku lulus dengan nilai yang memuaskan. Sebelumnya kami diharuskan mengisi lembaran, ingin melanjutkan ke manakah kami setelah itu? Sebetulnya seandainya SMA dengan yayasan yang sama dengan SMP-ku sudah akan dibuat, tapi bukan saat kami lulus. Jadi kami memutuskan memilih SMA Negeri. Aku memilih salah satu SMA Negeri favorit. Aku ingin masuk ke sana. Titik. Dan untuk kali itulah, aku merasakan sebuah keinginan yang begitu besar, yang baru pernah kurasakan. Aku masuk SMA yang kuinginkan.

Seseorang belajar dari kesalahan. Aku belajar dari kesalahan salah seorang guruku. Kemarahan sama sekali tidak berguna. Bahkan belakangan ini seorang dokter spesialis bedah yang menjadi favorit kami, berpesan padaku dan seorang temanku.

“Saat nanti kamu punya anak, kamu akan belajar, bahwa kemarahan sama sekali tidak berguna.”

Senakal-nakalnya anak-anak, ancaman bukan cara yang baik untuk mendidik. Ikuti alurnya, ikuti pikiran anak-anak. Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang mengutamakan keinginan anak-anak, aku pikir. Kita sebagai guru, berusaha mengajarkan mereka untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Hukuman tentu boleh, namun bukan dalam bentuk kekerasan fisik maupun mental. Guru yang cerdas adalah guru yang turut membentuk kepribadian murid-muridnya, membangun dan mengembangkan kesukaan mereka. Guru yang baik, adalah mantan murid. Ia tahu pasti, apa yang ia inginkan ketika menjadi seorang murid.

Kepada seluruh ustadz dan ustadzahku di SMP Al-Irsyad Purwokerto, kuucapkan, kalian pahlawanku. Terima kasih.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Gerakan Indonesia Berkibar, semoga turut memberi masukan untuk dunia pendidikan di Indonesia.

Advertisements

8 thoughts on “Guruku, Pahlawanku

  1. Alhamdulillah, bisa belajar dari kesalahan orang lain, dengan begitu tidak perlu menyakiti anak/orang lain.

    Saya sependapat dengan quote ini:

    “Saat nanti kamu punya anak, kamu akan belajar, bahwa kemarahan sama sekali tidak berguna.”

    Terimakasih inspirasinya. Semoga menang juga ya, mbak Haya. aamiin.

  2. Aku rasa semua anak pernah mengalami hal ini, yaitu “nggak suka dengan gurunya” karena bermacam hal. Tapi mereka tetap pengajar, ingin memberikan yang terbaik untuk anak-anak didiknya 🙂

Komen dong yuukkkzz :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s