Her Special Day

Bismillahirrahmanirrahim…

Hari Sabtu, 12 Januari 2013 adalah hari indah buat sahabatku tercinta. Hari itu dia melangsungkan akad setelah beberapa bulan sebelumnya berta’aruf dengan seorang ikhwan. Sayangnya, hari itu aku sedang di jogja untuk Try Out, sehingga di hari bahagianya aku tidak bisa berada di sana. Sedih sih, tapi mau gimana lagi?

Alhamdulillah di hari berikutnya, pelaksanaan Walimah aku bisa datang. Sabtu sore aku pulang dari Jogja naik kereta, pagi ahad aku dan teman-teman yang sudah didaulat untuk tugas khusus berangkat setengah 6 ke lokasi. Sekitar jam 7 kurang kami sampai di rumahnya, geliat kesibukan sudah dimulai. Sang pengantin sedang didandani di dalam kamarnya yang indah dengan tumpukan kado-kado besar. Kami (berempat) menunggu di depan untuk giliran didandani.

Satu-persatu dari kami didandani. Inti dari dandan adalah pasrah. Untungnya kali ini, mukaku tidak terlalu parah dalam hal didandani alias tidak terlalu menor. Yeay.

Setelah selesai didandani, kami semua berganti rok duyung. Yang tadinya kukira menggunakan jarit (nyamping) yang memang cocok untuk ukuran postur besar, ternyata tidak. Memang sih, sepanjang sejarah pernikahan di mana aku jadi penjaga buku tamu selalu pakai rok batik duyung. Dan hei, dari yang mereka bawa dengan corak serupa itu tidak ada yang cukup! Bagaimanaa iiniii~ Salon pasti berpikiran semua penjaga tamu pastilah bertubuh semampai. Tidak dong, buktinya aku sudah 2 kali jadi penerima tamu dalam tubuh yang tidak semampai.

Untungnya kebaya yang digunakan cukup di aku. Tapi, salon begitu ngotot untuk memakai kamisol, padahal sepertinya nggak ada kamisol yang cukup buat aku. Yeaw, kami harus ambil kamisol di salon yang jaraknya jauh dari rumah. Saatnya pakai kerudung! Jadi saat ketiga temanku sudah hampir sempurna dandanannya aku masih paka rok biasa, manset berbalut kemeja, dan wajah coreng moreng.

Saat giliranku, waktu sudah mepet.  Aku minta kerudungku dipanjangkan, supaya lengen tales bogorku tidak melambai kemana-mana. Tapi pegawai salon yang bertugas mendadaniku mulai cemberut. Tidak rela dandananku tidak serupa dan sama cantiknya dengan yang lain. Aku sudah menyiapkan kerudung warna sama untung membuatnya segera menyelesaikan tugasnya. Meski lengan tales bogorku masih nongol dan ber-say helo.

Belum selesai sampai di situ. Kami berempat harus ke salon untuk mencarikan rok yang cukup dan kamisol yang pas. Dan, yang ada di salon hanya asisten salon yang nggak ngerti apa-apa. Aku hampir mencari dan mengerjakan sendiri apa yang ku butuhkan sampai-sampai bajuku ketinggalan di salon (tepok jidat). Buru-buru naik ke mobil dan segera berangkat ke gedung lokasi pernikahan.

Pengantin sudah jalan masuk! Jam mulai walimah sudah berdentang, dan kami masih di mobil dengan buku tamu! Dan aku belum pakai rok karena harus dipakaikan salon. Mau tak mau, aku pakai sendiri rok-nya (rok yang cukup, dan berwarna berbeda dengan yang lain) dengan resleting yang rusak, harus dipeniti baik-baik.

Kami langsung jaga gawang. Padahal aku belum lama bertemu dengan pengantin. Dan harus cukup puas bertemu nanti-nanti saat tugas kami selesai. Sesi foto-foto! Angkatan kami naik semua ke panggung, kami ikut dong 😀 Setelah itu foto kami berempat + pengantin. Maaaaf ya sayang, gara-gara aku jadi nanti fotonya ada rok yang selen 😀

Setelah itu aku berpelukan dengan sahabatku. Interaksi yang cukup lama yang pertama kali terjadi pada hari itu. Langsung nangis deh. Hampir susah berhenti. Ikut bahagia, bahagiaaaaa banget. Baru pernah sampai begitu deh, secara aku nggak bisa nangis di depan orang kecuali keluarga.

Hun, aku bahagia untukmu. Barakallah, smoga pernikahan ini selalu dirahmati Allah. Menjadi keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah. Aamiin.