Pejuang Jalanan

Bismillahirrahmanirrahim

Aku suka naik kereta. Bisa nggak bosan memandangi pemandangan di luar sana. Perjalanan Pwt-Jgj biasanya habis dengan memandangi jalanan di luar, sisanya membaca, kalau keretanya ga goncang keras. Makanya lebih mengasyikkan naik kereta siang hari.

Selama bolak-balik Jkt-Pwt selalu ambil kereta pagi. Sebagian besar perjalanan dihabiskan dengan memandang ke luar, tidur kalau sudah bosan, lalu mencermati rumah-rumah lagi, jembatan, dll. Mengasyikkan.

Naik kereta banyak mereduksi ketegangan otot leherku. Aku kurang suka perjalanan darat, agak parno memang, hehe. Dan salah satunya kalau melewati palang pintu kereta api.

Di Jkt aku tinggal di daerah Cempaka Putih, dan sering melewati St. Pasar Senen di mana aktivitas kereta cukup padat. Pintu palang sering buka tutup. Kadang lucu, kami sudah menunggu lama, ternyata yang lewat cuma kepalanya saja. Lalu kami ngakak pada omelan temanku.

Di Pwt juga rumahku nggak jauh dari stasiun dan pintu palang kereta, tiap kali lewat sana selalu waspada tengok kanan-kiri. Waktu kemarin pulang dari rumah Embah di perbatasan Clp-Kbmn, selalu melewati palang pintu kereta api. Jalanan padat, cukup padat. Agak merayap. Dan mobil kami sedang melewati jalan palang kereta api, mengantri untuk bisa maju ke depan saat pintu palang mulai turun akan menutup.

Seraaaaam. Bagaimana kalau. Ah, parno. Bapak selaku pengemudi (ceila) banting setir ke kiri dan menyusup ke depan selama ada tempat kosong.

“Cepat maju Pak, kasihan yang di belakang.”

Mobil di belakang sudah melewati palang, tapi masih di atas rel kereta. Petugas pintu membantu mengatur jalanan. Ambulans yang tadinya masih ada di luar palang dipersilahkan masuk. Ternyata memang jauh sebelum kereta datang, palang sudah diturunkan.

Tapi tetap seram kan. Lalu bagaimana dengan cerita mobil-mobil yang menerobos palang pintu kereta lalu terseret? Jadi mereka tetap asyik menerobos meski palang sudah turun lama? Hmm..

NB : Tadi siang dapat sms dari Kemkominfo, kalian dapat juga? Soal jangan menggunakan HP di jalan. Kemarin aku liat Pak Pol*s* dengan seragamnya, dengan bermobil pribadi sedang menggunakan HP. Bagaimana ya? Kalau aku sih nggak berani sama sekali.

Advertisements

6 thoughts on “Pejuang Jalanan

  1. saya jarang naik kereta *nggak ada yang nanya*

    kemana2 seringan naik motor, dan nggak bisa nerima telepon sambil ngendarai motor, soalnya stangnya harus di pegang kiri kanan, salah sedikit bisa berhenti tiba-tiba 😀

  2. aku juga dari dulu serem kalo nglewatin rel kereta
    tapi semenjak sering naik bis yang ngelewatin St. Senen, sekarang malah aku suka sebel kalo kendaraan yg kutumpangi ga cepet2 nerobos rel (soalnya di senen itu lamaaaa nutupnya. udah nungguin lama2, nanti baru sebentar palangnya udah diturunin lagi)

Komen dong yuukkkzz :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s