Amateur Wedding Photographer (Again)

Bismillahirrahmanirrahim..

Definisi ‘amatir’
Indonesian to Indonesian
noun
1. kegiatan yg dilakukan atas dasar kesenangan dan bukan untuk memperoleh nafkah, msl orang yg bermain musik, melukis, menari, bermain tinju, sepak bola sbg kesenangan;
ama·tir-ama·tir·an a bukan sesuatu yg sesungguhnya; sifat amatir yg tidak murni

Kemarin persis, aku diamanahi sama kakak kelas beda fakultas untuk jadi wedding photographer. Sudah lama mintanya, cuma baru aku iyakan belakangan karena ternyata belum mulai kerja. Senang, karena aku juga suka motret begituan. Tapi was-was kalau sebagai dokumenter tunggal, karena dari segi alat dan kecakapan ya terbatas. Dan aku nggak jago jadi pengarah gaya sebenarnya. Lebih suka candid.

Biarpun begitu, dengan semangat, ba’da subuh aku berangkat ke Maos Cilacap. Sampai di sana, pengantin wanitanya malah masih sibuk ngurusin makanan -_-” hihi. Jadi aku bantuin dulu natain snack, abis itu bersama Mba Syifa yang didaulat jadi MUA, kami masuk kamar Mba Em buat memulai pekerjaan hari itu.

Karena konsepnya sederhana dan syar’i, aku juga nggak terlalu bisa ambil banyak gambar. Dan malahan ternyata ibunda sudah menyewa fotografer profesional, dengan ini jabatanku turun menjadi seksi dokumentasi, dengan ini aku menarik napas lega. Aku mengambil terutama dari sudut pandang mempelai wanita karena aku bebas keluar masuk 😀

Ehm, sedikit kecerobohan karena aku ternyata nggak bawa sling kamera or camera strap. Akhirnya aku pakai sling camera bag. Payah deh. Tapi paling engga kemampuanku agak meningkat karena aku sudah mulai mengatur supaya hasilnya baik, dan tempatnya pun nggak gelap, pencahayaan cukup.

Apa yang terjadi ketika bride and groom tidak suka bergaya di depan kamera? Hihi. Aku dan Mba Syifa serta jurkam mengarahkan gaya pada mereka, tapi mentok pada 3 pose, setelah itu minta stop. Lagipula yang difoto terutama keluarga, setelah itu mempelai ngider untuk menyambangi para tamu yang hadir, dan juga menunggu di pintu masuk.

Uhh.. pas bakda akad, Mba Em dijemput bapaknya. Udah dehh, aku ikut nangis di balik viewfinder karena pada nangis sekeluarga. Haruuu..

Sedikit obrolan dengan jurkam alias juru kamera.

JK : Gimana hasilnya? Bagus?

A : Hehe, biasa aja Pak.

JK : Berapa MP?

A : Cuma 10 Pak, kalo itu?

JK : 20. Hoo.. (Dari segi merk juga beda jauh yaa, spec lebih bagus dong)

A : Kayaknya tadi belum ikut potret ya? Nanti ya difoto, sekalian bawa kameranya.

Asiiikkkk. Akhirnya dipoto ama manten dan gandenganku si Alps. Nunggu hasilnya banget >,<

Ya, memang nggak banyak foto yang bisa kuambil. Siangnya aku mulai migrain (kurang olahraga nih). Setelah zuhur diimami pengantin wanita, aku dan adik-adik organisasi Mba Em mendandani pengantin seadanya karena MUA sedang keluar. Hihi. Lucu banget deh… Udah gitu nggak bisa ngehias kerudungnya, tamu udah pada dateng lagi, bubaarrr bubaar, wkwk.

Siangnya dijemput bapak, dan aku pulang. 3 gelas kopi untuk mengerjakan foto supaya bisa dicetak hari ini. Dan sudah selesai menghias dan menempel scrapbook sederhana di album putih yang cantik, tinggal dikirimkan. Meski nggak profesional, tapi aku suka pekerjaan ini 🙂

Dan aku banyak belajar juga dari kesempatan ini baik soal fotografi maupun yang lainnya *malu*. Terima kasih untuk Mba Em dan suami, beserta keluarga. Ini bukan yang terbaik, tapi ini tulus karena cintaku buat Mba Em. Barakallah… Dan terima kasih doa-doanya kemarin 😀 Ditunggu ya, insyaAllah.. Ditunggu albumnya maksudnya.

SONY DSC

The album

BW

Sebagian dari sedikit foto

Advertisements

16 thoughts on “Amateur Wedding Photographer (Again)

Komen dong yuukkkzz :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s