Start

The scariest moment is always just before you start. Stephen King

 

Bismillahirrahmanirrahim

Waktu itu malam hari. Besoknya kalau nggak salah hari terakhir OPSPEK. Dan siapapun tahu, puncaknya ‘itu’ akan terjadi. Aku ketakutan. Mencoba tanya sana-sini tapi tak berbuah hasil. Akhirnya karena terlalu capek, aku tertidur.

Paginya, kami semua dikumpulkan dalam 1 ruangan. Per 3 orang (kalau nggak salah) dipanggil keluar. Aku tahu, itulah saatnya. Kami hanya harus menunggu giliran.

Aku. Dipanggil. Begitu keluar ruangan, mataku ditutup slayer. Diarahkan ke sana, ke sini, naik, turun, meloncati selokan, dll. Saat ditanya, “Kamu tahu mau ke mana?”

Aku. Yang meski tak yakin, tapi sadar bahwa harus ada jawaban atas pertanyaan komdis itu menjawab, “Kamar.. mayat?”

“Oooh! Jadi kamu mau ke sanaa?”

Hah, jangan-jangan gara2 jawabanku itu aku akan dibawa ke tempat itu. TIDAAAK!

Setelah menunggu sambil gugup. Aku dibawa di depan sebuah ruangan. Aku disuruh membuka slayer saat sudah diberi aba-aba. Di tanganku tergenggam senter kecil yang entah menyala atau tidak.

Begitu pintu dibuka, yang ada hanya gelap. Aku didorong, dan aku sadar harus menyalakan senter. Ternyata di sanalah aku. Di laboratorium anatomi yang ditutup kain hitam. Dengan deretan kadaver (mayat yang diawetkan) untuk menguji mental kami siang itu. Detik itu juga aku menyadari harus melawan rasa takut dan terus berjalan supaya dapat segera keluar. Setelah mengerjakan perintah dan melewati kadaver-kadaver tadi dengan hati yang dikeraskan seperti batu, akhirnya aku keluar dengan selamat. Tugasku selesai.

Ternyata aku bisa.

Begitu pula ketika tiba waktu memasuki masa koas. Akan memasuki stase besar. Akan melewati ujian dengan dokter killer. Semua diawali dengan ketakutan. Hal itu terjadi juga saat akan memulai Insternship kemarin. Rasa sayang akan meninggalkan kebebasan, rasa malas karena jarak, rasa takut karena keterbatasan kemampuan, rasa sedih karena waktu bertemu keluarga akan berkurang.

Semua membuat jetlag. Jaga pertama. Berkumpul jadi sebuah labil emosisasi (eh). Padahal, sepenuhnya aku tahu. Bahwa itu hanya akan terjadi di awal. Saat kamu memasuki dunia baru. Orang-orang baru. Kebiasaan baru. Yang nantinya secara progresif akan melebur dan menjadi suatu habits yang mudah dilakukan. ITU (sambil nunjukin telunjuk a la MT)

Advertisements

10 thoughts on “Start

Komen dong yuukkkzz :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s