Sad Friday

Bismillahirrahmanirrahim

Pagi itu paska jaga malam, dijemput bapak ke RS. Agak lama keluar RS karena kepater di apotik, cari infusan buat Simbah yang sedang sakit tapi nihil. Sudah menyiapkan waktu pagi-siang untuk tidur, siang untuk pergi. Sekitar jam 10-an dibangunkan dering telepon. Ibu yang nelepon. Katanya mau ngomong sama aku. Aku masih ngantuk, biasanya ibu cuma titip pesen masakan, jadi aku ga juga mendekat ke telepon. Tapi begitu khadimat bilang, “Pripun? Mbah ninggal?”

Dengan gerakan cepat aku bangkit dan menyambar gagang telepon. “Apa bu?” “Mbah meninggal, bapak ga bisa dihubungin.”

Sudah sekitar 1 bulan lebih simbah kakung drop. Hepar. Pastinya aku sendiri belum tau, karena nggak pernah lihat hasil pemeriksaan yang sudah-sudah. Yang jelas ada ascites (cairan di rongga perut) yang mengindikasikan kurang protein. Sudah masuk asupan albumin yang harganya lebih dari 1 jt untuk membantu mengurangi bengkak. Di ginjal pun ada batu. Sebesar apa juga tidak tahu.

Simbah itu pendiam. Super pendiam. Hanya sekedarnya bicara, kadang nyeletuk guyon. Tapi selalu memperhatikan, si ini kuliah di mana, sudah selesai atau belum. Jarang mengeluh sakit. Sejak adiknya meninggal Simbah mungkin mulai memikirkan sakitnya, mulai menurun semangatnya.

Aku mencoba menelepon bapak. Simbah ini bapaknya bapak. Niatnya sore ini bakal jenguk Simbah lagi. Diangkat.

“Pak lagi apa?” Karena aku tahu bapak sedang ada acara, makanya baru bisa ke Clp sorean.

“Lagi laporan.”

“Laporan apa?”

“Laporan mbah meninggal.”

Oh jadi sudah tahu. Lalu bagaimana?

“Nanti langsung ke Clp.”

“Emang bisa nyetir sendiri? Ngga pinjem sopir aja?”

“Bisa.”

Nggak lama bapak pulang, dengan wajah biasa. Syukurlah. Bapak masih kuat rupanya. Setelah semua siap kami berangkat. Masih bisa ngobrol dan bercanda seperti biasa. Itu artinya ikhlas kan? Begitu sampai di rumah persemayaman simbah, acara sudah dimulai. Bapak melewati banyaknya orang yang sedang melayat, tipikal orang desa. Hari itu jumat, dan gerimis. Aku pegangi lengan bapak. Dulu waktu adiknya meninggal, karena sedang berada di luar, hanya bisa menangis di telepon. Kali ini ia bisa menyambangi.

Tanpa bersalaman dengan siapapun, bapak langsung masuk barisan yang sedang berdoa. Aku menyalami semua yang ada di ruangan. Wajah sedih yang wajar. Saat Simbah putri kami peluk pun akhirnya pecah tangisnya, meski tidak sekeras dulu ketika anak perempuannya pergi. Aku ikut menangis. Lalu berdoa.

Hujan makin deras. Makam sudah siap. Aku ikut rombongan, menuju pemakaman. Diiringi hujan deras, kami mengantar Simbah kakung. Baju hitamku basah. Tanah basah.

Ya Rabb. Sekiranya Simbah banyak kesalahan, semoga Engkau berkenan menghapuskannya. Menerangi kuburnya. Melapangkan kuburnya. Menjauhkan dari siksa kubur. Memberikan surga baginya.

Allahummaghfirlahu, warhamhu, wa’afihi wa’fu’anhu..

Advertisements

8 thoughts on “Sad Friday

  1. Allahummaghfirlahu, warhamhu, wa’afihi wa’fu’anhu..

    turut berduka cita ya say, aku selalu terharu dan merinding kalau mendengar ada yang wafat di hari Jum’at. Itu cita-citaku.

Komen dong yuukkkzz :D

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s