Tentang Dunia Maya

Bismillahirrahmanirrahim…

 

Suatu kali saya menulis di status FB saya.

Kalau tiap komen cuma dibalas like.. lain kali kasih like aja cukup ya 🙂 #padahalpinginsilaturahim

Kontan, kolom komen yang biasanya sepi, menjadi ramai, pro dan kontra, padahal saya tidak berharap begitu. Hal seperti ini mengingatkan saya pada masa kejayaan MP. Apa yang mendasari saya menulis demikian? Sebetulnya saya sedang sedih. Setiap kali saya komen di status beliau, senantiasa dibalas like. Sementara beliau masih bisa membalas yang lain.

Sudah beberapa lama saya jarang sekali berinteraksi di FB. Malas. Malas mendapat notif, malas juga harus membalas komen. Karena itu saya sudah jarang menulis status untuk menghindari risiko itu. Jarang mengomentari. Tapi saya menyadari, jalinan silaturahim yang tidak dipupuk lama-lama akan memudar. Bukan tidak mungkin saya akan dilupakan oleh teman-teman yang dulu amat sering berkomunikasi di dunia maya. Karena satu-satunya jalan untuk tetap kontak adalah via FB, saya pun berusaha mengomentari status teman-teman, meski komen saya sepele barangkali.

Lalu saya menangkap sharing-an ini.

Seringkah kamu merasa: Banyak status di Facebook yang sesuai banget dengan hal-hal yang kamu alami? Kalimat-kalimatnya seperti menyindirmu, mengingatkanmu, menasehatimu?

Padahal si penulis status itu sama sekali tidak kenal denganmu. Dia tentu saja tidak mempersembahkan status itu untukmu. Tapi kenapa semuanya terasa serba kebetulan?

Sahabatku,
Tak ada yang kebetulan di muka bumi ini. Allah punya banyak sekali cara untuk mengingatkan kita. Mungkin status-status yang terasa seperti menyindirmu itu merupakan salah satu caraNya.

Wallahualam

NB: Saya juga sering lho… mengalami seperti itu  ~ Via Jonru

Kok pas sekali ya? Hehe. Kadang saya juga begitu. Tapi kata-kata Jonru ini bijaksana. Kita diingatkan, dengan berbagai macam cara, salah satunya demikian.

Lalu hari kemarin, saya beberapa kali terbakar.

Malam tanggal 26 nov. saya jaga malam IGD, teman jaga saya berkata dengan muka sedih, menyodorkan BBnya, “Lihat, banyak yang menghujat.” (redaksinya tidak begitu, hanya saya pertegas). Ini soal mogok kerja para dokter.

“Alhamdulillah status dan timeline twitter saya aman dari hujatan.” (redaksi tidak persis) Saya jawab dengan riang.

Namun paginya, beberapa (hanya beberapa, sungguh) teman di twitter mulai menyuarakan dan meng-RT status maupun berita yang saya sendiri tidak tahu kebenarannya.

Sempat Mas Priyo bertanya pada saya, “apa betul akan ada mogok kerja para dokter? atas dasar apa?” Saya tidak bisa menjelaskan. Tidak pula memberi link, karena saya sendiri dalam kondisi tidak membaca link tersebut, tidak ingin memberi berita yang tidak jelas. Saya tidak mengikuti berita secara detil. Tidak mau. Saya sarankan googling (maap ya Mas hehe).

Saya sendiri baru hari sebelumnya tahu bahwa akan ada mogok kerja. Tentu ini dengan prasyarat tertentu. Yang saya baca, IGD, ICU dan kegawatdaruratan tidak boleh ditinggalkan. Bahkan Puskesmas pun tetap berjalan, yang saya baca. Ya, hanya seperti hari minggu atau hari libur saja. Pada hari H, kebetulan saya jaga malam. Jadi saya kurang tahu persis keriweuhan IGD seperti apa.

Sebagai dokter, saya dan teman-teman juga memikirkan, bagaimana kondisi para pasien yang tidak tahu akan aksi ini? Ternyata, poliklinik tetap berjalan, dengan bantuan pada dokter umum senior juga beberapa dr spesialis, para pasien tetap tertangani. IGD pun tetap berjalan seperti biasa. Dokter spesialis tetap visit. (Namun beberapa media lebih suka melaporkan yang negatif, sudah pasti).

Saya yang awalnya diam. Hanya trenyuh melihat beberapa twitter yang cukup membuat pedih (ceilah). Herannya, teman-teman yang menulis status demikian adalah orang yang selama ini saya perhatikan twitnya. Mengapa saya perhatikan? Karena.. yah.. sentilan-sentilunnya dalam dunia twitter kadang cukup membuat geregetan. Jadi saya tidak heran kalau pada hari H, beliau mengungkapkan kekecewaannya, lagi.

Saya pun sekarang tidak ingin membela diri. Mengatakan, “Kalau tidak percaya/butuh dokter silahkan di dukun.” Saya hanya ingin bercerita, di dunia maya, ada banyak hati manusia. Saat kita mengungkapkan kekesalan pada sebagian oknum, ada hati yang terluka di baliknya. Bahkan menasehati pun ada adabnya. Saya pun belajar. Bahkan saya yang sudah menyadarinya pun, barangkali sering salah. Setiap beberapa waktu, saya selalu membaca ulang status-status saya, untuk saya hisab. Saya harus tahu, apakah status yang saya tulis itu sopan, baik, menyakitkan, atau tidak. Yang saya temukan sih, status saya sangat tidak penting, hehe.

Eniwei, ini hanya curhatan saya sih. Mungkin saja banyak kontra. Tapi begitulah. Menurut saya, keharmonisan dunia maya hanya kita yang bisa menjaganya. Mungkin saja saya terlalu peka, terlalu menye-menye, yang kalau membaca komentar ketus langsung sedih. Hehe.

Salam ukhuwah teman. Mohon maaf bila salah. Love u all, because Allah…

Advertisements