Travel – Museum BRI, Happy Day!

Bismillahirrahmanirrahim…

Horee! Hari ini syenang syekali (gaya dr Joy di Film Arisan 2). Akhirnya bisa ke Museum BRI. Ckck, sudah berapa tahun menghuni Purwokerto kok belum pernah ke Museum Bank yang asalnya dari kota ini sih?

Hari Kamis, aku ngajakin my partner in crime buat main ke museum. Karena setahunya jumat tutup, maka kami berangkat sabtu (hari ini). Kami janjian di sana. Jam 9 aku berangkat dari rumah, dan mendapati sepi yang mencekam. Tutup sodarah! Aku tanya ke twitter, dan ternyata emang tutup T_T. Padahal katanya ada ruangan bawah tanahnya…

Yang penting semua terjawab saat pintu tertutup, huwe..

Tapi hal itu tidak menyurutkan semangat kami buat main. Aku sudah nyiapin bento isi sushi dan onigiri buat si dia, dan sebotol air. Aku juga bawa Alph untuk kuajak jalan-jalan (meski strap-nya lagi ilang, hik). Jadi kami serasa kembali ke masa lampau karena arsitekturnya memang Belanda punya. Berasa ke Vredebrug lagi.

Pokoknya keliling poto sampe mabok, setelah memakan sushi. Istirahat makan onigiri, trus cabut. Kami ke Rumah Cahaya buat ngembaliin bukunya mba Avis, terus naro 1 copy Ginger Love di sana. Abis itu makan bakso malang di Sorpelem. Lanjut ke alun-alun buat nunggu seseorang, panas bukan main. Sambil liat anak main layangan (keinget main layangan di sawah). Pulang dengan bahagia. Alhamdulillah for today.

Beach. Karangbolong-Pasir

Bismillahirrahmanirrahim…

Yum, maghrib tadi baru sampai rumah setelah seharian dari pagi nyasar di pantai Karang Bolong dan pantai Pasir Kebumen. Sengaja sih, sekalian pulangnya mampir ke rumah Mbah di Nusawungu.

Sejak ke Menganti, si bapak googling map dan ngeliat ada pantai di Pasir. Akhirnya destinasi wisata kali ini ke sana. Karena kebelet pee, akhirnya mampir dulu ke pantai Karangbolong khawatir di Pasir nggak ada toilet umum. Dan ternyata, karangbolong rame, dan ok… cuma gitu-gitu aja. Mana airnya kotor, karena muara sungai-sungai. Cuma ada karang-karang bolong doang. Buatku yang sangat sering ke pantai selatan, itu biasa banget.

Akhirnya lanjutkan perjalanan ke tujuan. Dan seperti apa tampaknya? Hanya kecil saja, dibatasi bukitan dan… tepi pantainya penuh dengan kapal nelayan. TPI (Tempat Pelelangan Ikan) yang bau dan cuma ada sedikit ikan. Well, di sana cuma ada pemandangan para nelayan dan kapalnya yang sedang merapat. Sebentar saja, lalu cabs.

Karena hitungannya sudah masuk Kebumen, perjalanan jadi makin lama. Kami mampir dulu di RM BR (samarin deh), yang di parkirannya penuh dengan mobil. Ramai berarti apa coba kalau RM? Ya kita masuk yah, padahal pengennya ke RM Padang aja biar cepet dan enak pula. Kami pesen paket-an 5 orang. Selain lama (karena banyak yang pesen) sejujurnya kecewa sama rasanya (harusnya ga boleh bilang ga enak ya, hehe) tapi beneran deh.. hampir hambar..

Abis itu, lanjut ke pantai Jetis (dulu pantai ini destinasi wisata banget buatku, sepi soalnya). Dulu pernah sekali, musim bintang laut, ada di pantai ini. Sekarang pantainya ramai, ada kolam renang dan warung-warung makan. Kami sih nggak ke situ. Tujuan kami ke TPI, Jetis, yang lumayan besar memang. Ramai banget deh! Harga melonjak. Udang besar, satu kilonya 70ribu. Terus beli rajungan (sejenis kepiting), dan ikan bogo laut, terus ikan asin pastinya.

Cabuttt, lanjut ke tujuan terakhir : rumah embah. Cuma sebentaran, metik-metik cabe, hahaha. Karena gerimis dan udah sore, kamu pulang deh ashar. Yeah, lumayan deh perjalanan kali ini. Pelajaran yang dipetik: aku sudah bosan laut standar, jadi Menganti dengan karang dan bintang laut dan bulu babi-nya masih lebih baik dari pasir dan laut. Sekian.