Movie – Insidious

Bismillahirrahmanirrahim..

Segelas kopi hangat pereda sakit kepala dan 2 potong cokelat.

Yuk nonton Insidious 2 !

Wih, pada rame mau nonton Insidious 2, bentuknya yang pertama aja gak ngerti! Napsu juga kagak. Pada dasarnya aku nggak hobi nonton horor, apalagi movie horor indonesia yang kalo ditonton berubah jadi komedi. Beberapa kali nonton ya selalu bareng. Atau kadang donlod doang, ga tersentuh karena males banget nonton sendirian.

Nah di tengah kebosanan yang melanda, nemu file Insidious di komputer yang abis dipindah-pindahin file ama adek. Yaudah, kupindah aja ke tab. Giliran mau nonton (siang-siang dong) eh kaga ada subtitle-nya. Akhirnya awalnya nonton tanpa pake subtitle. Ya apa daya, meski film horor kebanyakan jejeritan doang, tapi tetep ga seru kalo ga baca teks. Akhirnya sorenya baru donlod subtitle.

Karena ada keperluan, malemnya baru ngelanjutin bagian akhir. Padahal bagian akhir ini yang paling seru dan ‘harusnya’ menyeramkan. Udah deh, kupaksain, abis penasaran, lagian yang awal-awalnya nggak nakut-nakutin amat. Udah siap pake headset, kiranya mau nyeremin, volume dimatiin, wkwkw. Nonton gaya apaan noh!

Pas bagian akhir dong… Udah seneng tu arwah pada balik ke tubuhnya lagi… ternyata… Ah susah untuk dikatakan. Harus ditonton sendiri! Asli. Terngiang-ngiang mulu tu nenek-nenek -_- Dan aku kebangun-bangun, begitu mengawali tidur tu muka si nenek nongol lagii…

 

Dan aku pengen nonton sekuelnya, di bioskop…

Movie – Love 911

Bismillahirrahmanirrahim…

Ah.. beberapa hari ini maraton nonton film-film yang didownload dari youtube. Berawal dari Rectoverso, My girl and I, yang terakhir Love 911. Yang terakhir ini termasuk dalam jajaran film yang nggak kulewatkan tiap detiknya kecuali untuk adegan ++ nya.

Awalnya hampir aja kumatiin karena kupikir ini salah satu film mellow yang digabung action. Nggak semua film action dan super mellow kusuka, tapi setelah muncul adegan Mi Soo yang cantiknya super dan berperan sebagai dokter aku memutuskan melanjutkan nonton.

Ceritanya sangat sangat sangat keren. Dibuat apik, ya seperti kata pepatah, sebuah buku yang mudah dibaca butuh penulisan yang sulit.

Tokoh utamanya Kang-Il, cowok bertubuh atletis yang bekerja sebagai firefighter. Biasanya aku nggak suka nih sama cowok tubuhnya kekar. Dia pernah ditinggal mati istrinya, sejak itu sikapnya jadi dingin.

Secara nggak sengaja, Mi Soo si dokter cantik ini melakukan misdiagnosis yang bikin dia dapat hukuman. Ada kemungkinan dia dicabut izin sebagai dokternya. Tapi bisa dapat keringanan kalau dia bisa bikin Kang-Il menggugat suami pasiennya yang pemarah dan pernah mukul Kang-Il sewaktu di RS. Mi Soo berusaha supaya Kang-Il mau melaporkan suami pasiennya. Kang-Il nggak peduli, meski Mi Soo menggoda dengan cara apa pun.

Dasarnya Mi Soo emang preman, dia terlibat perkelahian dan harus bayar denda mahal. Untuk terbebas dari denda, selama ia diliburkan dari RS ia melamar menjadi petugas sukarela yang membantu 911 crew alias Kang-Il cs. Karena stenosis di pembuluh darah otak Mi Soo, dia jadi sering pingsan dan selalu Kang-Il yang nolongin.

Ada banyak adegan keren, kayak pas Mi Soo pingsan di ruangan gas karena penyakitnya. Kang-Il sadar kalau di mobil Mi Soo nggak ada, dia putar balik dan mendapati Mi Soo pingsan. Tapi ruangan itu keburu ditutup dari pusat, dikunci, dan pendingin dijalankan. Mereka berdua hampir mati beku!

 

Banyak tindakan heroik Kang-Il yang dipaparkan di sini. Lucu kalau sudah Mi Soo yang pinter banget ngarang cerita dan ceplas-ceplos. Kang-Il juga anak kecil banget kalau sudah nangis inget mendiang istrinya. Tipe suami yang sayaaaang banget sama istri.

Pokoknya tiap scene yang dibuat aku suka. Karakter yang dibangun juga bagus banget. At all, I love this film and the ost. OST nya aku jadiin backsound blog ini 😀 Love, love.

Movie – Sayonara Bokutachi No Youchien

Bismillahirrahmanirrahim

Hari ini aku menonton salah satu movie Jepang lagi, hasil adikku donlod. Yeay, senang karena yang main si Rin-chan di Usagi Drop.

Film ini bercerita tentang 5 bocah TK yang kabur dari TK waktu Bu Guru sedang merokok di gudang. Anak-anak ini ingin menuju ke RS tempat salah satu teman mereka yang sedang sakit dan dalam kondisi dying. Guru-guru awalnya sengaja tidak memberitahu kondisi Hiromu yang sedang sakit, tapi ternyata bocah-bocah itu sudah tahu dan mereka berjanji untuk tidak akan menangis.

Perjalanan dimulai sejak mereka berlima masuk stasiun dan naik kereta. Saat tiba di stasiun berikutnya, Takumi sakit perut, jadi mereka turun untuk menunggu Takumi yang masuk toilet. Setelah itu naik kereta lagi,

Nah, pas mau naik kereta, mereka menghitung butuh uang berapa untuk naik kereta berikutnya karena harga tiket per orang 1100 Y. Yui, anak perempuan cantik itu mengulurkan uang 10.000 Y yang di-wow-i oleh teman-temannya, mereka bilang, “papanya Yui kaya sih.” Takumi, yang dalam cerita sedang dalam kondisi emosi tidak stabil karena ditinggal ibunya pergi, berkata, “Papanya Yui mengelola hotel untuk orang dewasa. Kata mamaku.”

Yui nangis. Saat itu kereta sudah mau berangkat, teman-teman yang lain berkata, “Takumi! Minta maaf!” Takumi menolak sambil merobek peta menuju RS, dan tidak mau naik ke kereta. Saat semua temannya sudah di kereta dan Takumi masih di luar , malah Yui yang mengajaknya naik, “Yasudah, ga apa-apa, ayo naik.”Takumi menurut, tapi Yui turun lagi untuk mengambil sobekan peta, tapi kereta terlanjur tertutup. Perjalanan Yui hanya sampai situ.

Berikutnya mereka turun lagi di stasiun berikutnya karena Kana (Mana Ashida) melihat anak kucing yang terlantar. Anak kucing itu dibawa orang homeless dan membuat Kana dkk mengikuti untuk memastikan si orang itu tidak memakan si kucing. Lucu banget deh ini. Kana dkk malah sampai makan jagung rebus yang diberi si homeless ini, sampai mereka ketakutan karena diceritain tentang magic.

Setelah itu perjalanan dilanjutkan, mulai dari ketinggalan kereta, main layangan, lalu Shun si gendut itu marah karena Takumi mencelanya tidak akan bisa menjadi pemain sepakbola karena terlalu gemuk. Shun pergi ke pos polisi, saat teman-temannya mengejar dan memandanginya, Shun menyilangkan tangan di depan dada dan menahan mereka supaya tidak mendekat. Mereka melanjutkan perjalanan.

Tersisa Kana, Takumi, dan Miko si taat peraturan, mereka pergi ke mini market karena kelaparan. Miko yang sejak pergi selalu memandangi poster tentang penculikan anak, makin ketakutan setelah mendengar siaran berita di radio. Dia takut diculik. Akhirnya dengan mengingat-ingat nomor telepon ibunya, ia menelepon di warung dan berpisah dengan Kana dan Takumi.

Kana dan Takumi berlari mencari Miko, sampai mereka sadar Miko sudah di dalam mobil polisi. Mereka harus menghindari mobil polisi yang berseliweran! Mereka sembunyi, tapi akhirnya Takumi menyerah, ia akan menjadi umpan polisi supaya Kana bisa melanjutkan perjalanan dengan bus. Akhirnya Takumi pun dibawa polisi.

Kana melanjutkan perjalanan sendirian dalam bus, dalam ketakutan. Sampai ia turun di tengah jalan dan menangis karena melihat bunga persembahan di pinggir jalan. Tiba-tiba Bu Gurunya memeluknya dari belakang, dan mereka pergi ke RS. Di RS Kana masuk ke kamar Hiromu. Hiromu senang Kana datang. Kala itu, menjelang perpisahan TK, dan kemungkinan Hiromu tidak akan hadir. Berbekal latihan di TK, Kana membuat pesta perpisahan TK di kamar Hiromu dan mereka bernyanyi bersama.

Waktunya perpisahan, fax datang dari ibu Hiromu. Bu Guru menangis membacakan fax itu. Apa isi suratnya? Nonton saja ya 🙂

Ya seperti biasa, film-film jepang bisa membawa nuansa kesedihan yang pekat. Jadi kali ini aku juga mengalirkan air mata. Tapi kelucuan-kelucuan yang mereka buat. Kecerdasan Mana Ashida yang cantik, membuatku kaaguum. Keren as always.

 

Habibie & Ainun

Bismillahirrahmanirrahim…

Kebetulan aku nggak terlalu kepingin nonton ini film tadinya karena denger katanya ngantrinya wow banget, apalagi pas musim liburan kan. Meski pas nonton trailernya, penasaran karena Reza mainin Habibie mirip banget. Cuma mikir ntar-ntar aja nontonnya (walaupun kadang pas udah nongol di tipi ga mesti nonton juga, paling ga gaul acara tipi soalnya). Akhirnya pas kemaren si hunbun ke RS buat ngasi coba kebaya penerima tamu, diajakin deh tuh sekalian. Tadinya dia mo nonton sendirian, saking ga ada temen nonton. Yowes, aku akhirnya nonton juga, lagian waktunya pas banget, pas jumatan pasti sepi.

Bener aja, sampe sana, longgaarrr, kosong malah soalnya udah pada masuk studio, hahaha. Udah mulai bok. Langsung aja si hunbun beli tiket, aku beli snack. Masuk pas adegan ‘gula jawa berubah jadi gula pasir’. Di awal aku lebih sering ketawa, di tengah merinding, di belakang udah mulai nahan nangis. Sebenernya aku gampang banget nangis, terutama kalo soal ‘family’, tapi kalo di depan orang-orang kadang ngampet gitu. Udah hampir berhasil, eh mrembes juga deh pas Habibie bacain surat di akhir itu… *Surat atau bukan sih itu.

Keren. Aku bilang. Pulangnya kami berdua naik becak dong, udah kayak Habibie Ainun. Sweetttt… Terus kami berpisah di RS. Di rumah aku pamer abis nonton (bahkan dibayarin, haha, makasi banget ya buk). Akhirnya malemnya si ibu sama adek nonton juga. Pertama kalinya nonton berdua mereka. :O

Dan aku baru sadar kalo inisial mereka sama dengan Hanan – Azi. Lnggeng-langgeng ya Nan, Zi 😀

Cinta Suci Zahrana

Bismillahirrahmanirrahim…

Kemaren diajakin nonton CSZ di bioskop, malem2. Berhubung males keluar malem, aku ngehubungin anak-anak Chortle buat nonton CSZ siang ini. Ada yang yes, ada yang nggak langsung yes. Aku bilang, ini bukan soal film-nya, ini soal ngumpulnya. Yes, rite, aku merindukan ngumpul bareng nonton bioskop. Secara lazim, aku lebih suka nonton di rumah, tapi nggak kali ini. Aku pengen ngumpul.

Dua di antara mereka bukan penyuka film menye-menye, sementara yang satunya rela menonton untuk kedua kalinya demi nonton bareng. “Aduh, sinetron amat sih.” “Aduh, aku bakal ngantuk nih di dalem, kenapa nggak nonton Batmaaan.” “Kenapa nggak nonton Arthur?” Aku cuma cengar-cengir, apalagi pas ditodong bayar, secara aku yang ngajakin. Tapi mereka tetep dateng buat nonton bareng. This movie is not their genre, but they not directly rejected my appeal.

Kalau dilihat secara profesional, tentu film ini bukan film yang ‘sangat bagus’, tapi menurutku, dengan menontonnya bisa memacu industri perfilman untuk mereduksi film-film kualitas moral rendahan (sorry for saying that). Melihat antusiasme penonton, menyenangkan juga. Dan di akhir cerita, meski aku sudah pernah baca novelnya (bukan novelnya sebenernya, tapi noveletnya) aku tetep merasakan rasa merinding. Cuma agak sayang karena bang habib (The author) membunuh 3 orang sekaligus, hampir mirip dengan KCB kan, membunuh tokoh juga. Dan aku suka bu nyaiii, xixi. Adem banget deh kayaknya. Dan aku juga suka baju-bajunyaa, ada jilbab yang cantik banget jugaa, 😀 Cuma kebanyakan jilbabnya pendek deeh…

the ending: “Boleh aku mencium kamu?” “Jangan, aku malu pada langit, pohon, dan burung-burung.” Milleerrr, you’re not romantic, actually 😀