The Author

Bismillahirrahmanirrahim…

Barusan main ke Gramed, berhubung Toga Mas tutup >,< hiiiikkkks, srooottt. Terus melintas ide ini, hehehe, tapi diedit.

Mata Nicha yang memerah akibat paparan AC masih asyik menjelajahi tiap buku di toko buku ini. Banyak buku baru, banyak buku lama berwajah baru.

“Itu bagus.” Sebuah suara bas terdengar dari belakang.

Nicha berpaling. Siapa dia? Wajahnya bertanya.

“Ya, beli dong.”

Atas dasar apa dia paksa aku beli ini?

“Kalau aku nggak mau?”

“Sebutkan alasannya.”

“Cover, aku kurang suka. Jenis kertas, aku lebih suka yang ringan. Harga, terlalu mahal untuk buku setipis ini.”

“Mana komen soal isinya? Mentingin penampilan rupanya?”

“Itu daya tarik pertama, setelah itu baru baca sinopsisnya.” Nicha membalik buku di hadapannya. “Hmm, kamu harus lihat buku ini….” Mata Nicha mencari-cari, “Yah, ini dia.” Nicha menyodorkan sebuah buku manis dengan judul romantis.

“Oke, tapi ini bukan tipe-ku. Dan satu lagi, buku itu tentang motivasi, bukan romantika like this book.” Ia memutar-mutar buku di tangannya.

“Motivasi juga bukan tipe-ku, jadi kenapa aku harus beli?”

“Karena kamu bisa dapat tanda tangan dan foto dengan penulisnya langsung.”

“Oya? Harus?” Nicha hampir berpaling. “Oya! Kamu juga bisa dapat itu semua kalau beli buku yang kamu pegang.”

“Oya?” Alis si cowok itu mengangkat. “Mana? Aku akan beli.”

“Buat apa? Nggak akan kamu baca kan?”

“Yang penting aku beli. Dan kamu juga harus beli buku itu, supaya nanti aku bisa tanda tangan dan foto bareng kamu.”

Beberapa detik lewat dengan cengiran si cowok, dan akhirnya tawa keras Nicha. “Oke deal, seketika itu juga aku bisa tanda tangan di buku itu dan foto bareng kamu.”

Lalu mereka tertawa bersama.

[FF] Neurolove

“Mas, tolong jaga Eyang ya, malam ini Papa harus terbang ke Kalimantan, ngajar.”
Aku mengangguk. Eyang sakit, serangan stroke, lagi. Sejak 3 hari yang lalu aku dan Papa menunggui saat Eyang masuk ICU, dengan pakde dan bude yang masing-masing bertempat tinggal jauh dari rumah Eyang. Termasuk rumah kami, 6 jam perjalanan dari kota ini. Mama menunggui si bungsu yang sedang ujian akhir. Eyang kakung tinggal dengan seorang rewang di rumah besarnya, kekeuh tak mau kami ajak tinggal bersama. Sampai sore itu, di kamar mandi–setelah seharian mengutak-atik diesel–Eyang jatuh. Padahal kamar mandi sudah kami desain se-aman mungkin, dengan kloset duduk dan rail di tembok. Qadarullah.
Malam ini aku berjaga sendirian. Lewat 3 hari, orang-orang harus kembali bekerja, soal jadwal berjaga besok lagi dibincangkan katanya. Alhamdulillah Yangkung sudah bisa keluar dari ICU. Masih di kamar kelas 1 karena paviliun belum ada kamar kosong. Meski belum sadar penuh. Aku berkutat dengan sebuah buku yang sore tadi kubeli di gramedia. Malam makin larut, aku belum bisa tidur. Perawat sudah memberikan paket obat malam hari, mungkin setelah ini mereka pergi tidur. Lama-kelamaan aku tertidur dalam keadaan duduk.
Paginya setelah kuseka tubuh Yangkung, dan kumasukkan susu melalui nasogastric tube. Seseorang mengetuk pintu, berjas putih dengan sekantong alat kesehatan. Aku tersenyum. Ia minta izin memeriksa Yangkung, aku memersilahkannya. Kuperhatikan seksama.
“Bagaimana keadaannya?”
“Kesadarannya belum baik. Tapi tingkat kesadarannya sudah meningkat, dibandingkan sewaktu di ICU kemarin.”
“Kemarin Mbak juga yang meriksa di ICU?”
Ia mengangguk sambil tersenyum, “Jangan lupa berdoa ya Mas, boleh juga dilatih menelan, jangan melulu pakai tube.”
“Bagaimana?”
“Suapi pakai sendok, sedikit-sedikit. Ajak ngobrol juga, hehe.”
“Berpengaruh?”
“InsyaAllah. Oya, karena suhu tubuhnya masih cukup tinggi, boleh kompres dengan air hangat atau air biasa.”
Aku mengangguk.
“Ya, begitu dulu, makasih Mas.” Ia mengundurkan diri.
Sebetulnya aku masih ingin ngobrol lama, seharian tanpa teman ngobrol sangat membosankan. Tapi segera aku mengambil kompresan, lalu mengajak Yangkung ngobrol mengenai masa kecilku.
Paviliun sudah ada kamar. Sore ini bisa segera dipindahkan. Hm, berarti dia sudah tidak follow up Eyang kan? Sayang sekali, pikirku sambil nyengir.
“Dimas, kok di sini? Sudah selesai ya?”
“Alhamdulillah, tinggal nunggu penempatan internship Tante.”
“Pingin di mana Dim?”
“Pengen di sini, hehe,” ujarku bercanda. Tak mungkin juga sih.
“Setelah itu ambil spesialis?”
“Pengennya, tapi mau nikah dulu, takut kesengsem dokter muda.”
“Lho, kasih kesempatan dokter muda liat residen ngganteng yang jomblo dong!” Sasya yang dokter muda di RS ini, putri Tanteku, berseru.
“Jarang ye? Kesian kamu. Lagi stase apa? Sibuk ya? Kok baru sempat ke sini?”
“Anak, jaga papan catur,” ia mengeluh.
“Kapan-kapan aku ikut jaga ya, aku pengen jadi Sp.A.”
“Siap Mas Ganteng!”
“Btw kamu ada temen lagi stase saraf ya?”
Ia berpikir sekilas, “Ada. Kenapa? Kemaren ketemu ya? Ehem. Siapa? Siapa?”
Aku senyum kecil. “Ada deh.”
Biar saja deh, meskipun hanya sekilas, beberapa menit, aku mengaguminya dan merasakan sesuatu yang berbeda. Tapi belum masaku, aku harus menunggu beberapa waktu untuk merasa siap.

cerita | hujan 2

bismillah…


Hari ini kulihat senyum cerah di wajahmu

Tahukah kau betapa aku rindu?

Senyum yang tak pernah ku lupa sejak awal kita bertemu?

Izinkan aku, setiap hari mengukir senyum di bibirmu

Bumi, untuk Terra

…….

Terra sudah siap dengan barang bawaannya yang sudah disortir oleh Bumi. Ini pengalaman pertamanya naik gunung, dengan berbekal izin yang susah payah ia dapatkan. Tidak terlalu banyak, barang bawaannya, karena notabene dia perempuan.

Bumi dengan carrier bag pinjamannya yang besar, mulai memandu Terra yang berjalan di tengah-tengah pendaki. Jam 10 malam mereka memulai pendakian setelah bersiap-siap dan beristirahat sejak jam 8 malam, supaya esok subuh bisa mencapai puncak.

Sesekali gerimis menyambangi mereka, tetapi tubuh-tubuh dengan ponco yang terus bergerak ke puncak.

Gigi Terra gemeretak, dia tidak ingin mengeluh, terus saja berjalan dipandu Bumi. Sebelum ini dia sudah dititipi pesan untuk selalu menghindari keluhan. Lagipula sebelum pendakian ini Terra rajin melakukan treadmill. Tapi Bumi sepertinya sadar, ia meminta istirahat sebentar, mengambil termos air di carrier-nya. Menuangkan kopi panas ke tutupnya, menyerahkannya pada Terra.

……….

Jam-jam itu adalah jam yang paling meresahkan, mengerikan. Hujan terus mengguyur, membuat mereka tidak berani bergerak.

Gigi Terra gemeletuk, ketakutan dan kedinginan. Dia sama sekali tidak menduga ini akan terjadi, dan tidak berani berpikir yang tidak-tidak.

Dua jam kemudian tim SAR tiba, hujan mulai merintik menjadi gerimis lalu hilang. Mereka berusaha mengangkat Bumi.

“Terra, Terra…. Bumi… udah nggak ada….” Dika berbisik pada Terra yang menutup matanya, tidak berani mengetahui kenyataan. Tangan Dika mengangsurkan segenggam gelang perak berbandul bintang milik Terra.

“Dika, jangan bohong, Dik, jangan bohooong!”

…………….

dan hujan,

Bumi…
yang mempertemukan kita,
yang memisahkan kita


2 Maret 2010

without editing

cerita | hujan

bismillah..


dan hujan

Bumi…
yang mempertemukan kita,
yang memisahkan kita
Genangan air berkecipak, sepasang sneakers hitam memainkannya. Sesosok berseragam abu-abu putih memayungi diri dengan tas selempang hitamnya. Mencapai halte, ia mengibaskan tangan dan rambut basahnya. Mendesah pelan sembari memandang langit.
Mata coklat muda Terra mengayun ke sosok yang akhirnya menjadi teman menunggu bis-nya. Tak sengaja mengarah ke badge nama bordir di dada laki-laki itu. Bumi Dirgantara. Imajinasinya yang kadang berlebihan membuatnya mengikik.
Mendengar kikik halus, Bumi menoleh heran, mengernyit bingung. Kenapa?
AH! Terra sadar sepasang mata sedang memandanginya. “Oh, maaf, cuma… nama kita sama.”
Kembali, Bumi mengernyit. Ia memandang badge Terra.
“Ya, Terra itu bumi, jadi nama kita sama.” Terra tersenyum.
“Ah.” Bumi mengiyakan, lalu ujung matanya menangkap sosok bis yang ditunggunya. “Bis-ku,” ia mengedik.
Terra mengangguk, “Sampai ketemu lagi.”
dan hujan

Bumi…
yang mempertemukan kita,
yang memisahkan kita

-Terra-

backsound : Set Fire to The Rain -Adele

random story | bintang

bismillah…

waktu itu masih SD,

aku telepon Bapak
“Pak, aku mau CD Petualangan Sherina.”
Pulangnya, Bapak udah bawa, kalau nggak salah harganya dulu 19.000
Sepertinya sejak saat itu aku suka bintang…
-Capella-
Bintang-bintang di langit, menyimpan sejuta misteri, berkedip-kedip…
waktu itu aku lulus kuliah
lalu aku bertemu denganmu
sejak saat itu, aku tahu kaulah bintangku…
-Andromeda-
inspirasi: (mba) Fajar

[Cerita] Berlin, Aku Pulang

kita tak pernah tahu, di mana tulang rusuk itu berada..
Aku berjalan cepat, udara dingin menembus jaket tebalku. Barusan Ayah menelepon, segera pulang, katanya. Aku menolak, aku sudah cinta Berlin. Ah tidak, sebenarnya aku pun rindu Indonesia, penolakanku hanya kamuflase.
Aku pergi ke negara ini sejak 4 tahun lalu, saat ide mengenai pemberontakan yang tertahan membuncah. Sejak aku kecil, Ayah, yang seorang dokter spesialis bedah saraf sudah memutuskan akan jadi apa aku nantinya. Aku harus jadi salah satu dari sedikit residen bedah saraf di FKUI. Titik.
Awalnya aku seperti kerbau yang dicucuk hidung. 4 tahun lalu puncaknya, aku tidak mendaftar kedokteran, aku memilih Berlin meski tidak akan ada uang saku dari Ayah. Beasiswa, kerja part time, dan sripilan uang yang Ibu kirimkan membuatku memulai gaya hidup sangat sederhana di sini. Tapi itu pilihanku.
“Dirga, kalau ibu minta kamu pulang, maukah?” Kali ini ibu.
Dan di sinilah aku pagi ini, untuk terbang ke Frankfurt dilanjutkan 15 jam berikutnya terbang ke Indonesia.
Indonesia. Aku memang tidak mengiyakan akan pulang, jadi taksi biru ini membawaku ke rumah tepat dini hari. Di depan rumah aku menelepon Pak Yus, supir kami, untuk membukakan pintu.
15 jam bukan waktu yang sebentar, tubuhku kaku tapi aku belum ingin tidur. Ku seduh kopi sementara Pak Yus masih tak percaya aku sedang ada di dapur rumah kami. Aku kurusan, katanya. Tentu saja, aku turun 8 kilo dari bobotku yang 75.
Sampai ayam berkokok, aku masih belum tidur. Sahut-sahutan adzan yang aku rindu menelusup, membuat bulu kuduk meremang. Aku memutuskan berwudhu dan menuju masjid kompleks. Udara Indonesia. Inhale, exhale. Kabut menyentuh kulitku. Dulu ini terasa dingin, tapi sekarang tidak terlalu.
Masih sama. Jumlah manusia yang shalat subuh di masjid masih sama, sedikit. Kali ini aku begitu menikmati shalat subuh pertamaku setelah tiba di Indonesia, sampai sebuah tepukan menyadarkanku.
“Dirga?”
Aku memutar seluruh tubuhku, mm… “Fauzan?”
Yang kupanggil Fauzan memelukku tiba-tiba, erat. “Pergi ke Berlin tidak pamit itu cuma kamu.”
“Maaf Zan, waktu itu aku sedang labil.” Aku terkekeh. Mataku menelusuri wajah bersih Fauzan dan janggutnya yang ditumbuhi berlembar jenggot. Ia teman baikku, tinggal di permukiman kecil di samping kompleks. Teman sejak SD. “Apa kabarmu Zan?”
“Alhamdulillah baik, aku sekarang mengajar di SMP Islam. Dan aku sudah menikah.” Ia masih sama seperti dulu, sedikit suka pamer meski masih wajar dan selalu hal baik yang ia pamerkan.
Mataku membola. “How?”
“Dan aku punya anak laki-laki yang lucu.”
Geez. Tiba-tiba aku merasa iri. Selama di Berlin aku tidak pernah memikirkan cinta. Sama sekali. Dan Fauzan kembali meracuniku dengan caranya sendiri.
“Aku harus ke rumahmu. Masih yang dulu?”
Uzan menggeleng. “Nggak jauh sih dari rumah ibu…. Kalau dari rumah yang dulu, kira-kira 5 rumah ke kiri. Rumah mungil dengan pagar hijau. Kamu harus mampir kalau sudah tidak lelah.”
Tahu saja ia, aku sudah mulai menguap beberapa kali. “InsyaAllah, aku main.”
“Kalau begitu aku pulang Ga, harus siap-siap mengajar. Aku ada di rumah di atas jam 3 sore, nomorku masih yang dulu kalau kami masih menyimpan.”
Aku mengangguk-angguk. “Masih dong.”
Uzan berjalan ke rumahnya yang berlawanan arah dengan rumahku. Matahari mulai mengintip, aku membuka pintu rumah. Nissan Ayah terparkir di halaman, mesin masih panas.
“… kraniotomi, anak pejabat, ugal-ugalan di jalan… biasa.” Rupanya Ayah baru kembali dari Rumah Sakit, operasi cito.
“Assalamu’alaikum!”
“Wa’alaikumussalam… Dirgaa!” Ibu setengah berlari menghampiriku, memelukku, dan menciumku. Tentu Pak Yus sudah cerita kalau aku pulang.
Aku mencium tangan ibu, lalu menuju ayah. “Yah, apa kabar?”
“Hmm, baik. Kamu? Bagaimana kuliahmu?” Ayah masih menyimpan kecewa, tapi ada gurat rindu juga di wajahnya. Sementara ibu masih menempel saja, jemarinya mengusap-usap rambut bergelombangku.
“Hampir selesai, ingin lanjut S2 lalu bekerja di sana.”
Ibu tiba-tiba berhenti mengusap rambutku. “Ibu nggak mau kamu ke sana lagi. Sudah cukup 4 tahun ini kami berdua saja di rumah, Ga.”
“Kamu selesaikan saja S1 kamu, cari kerja di sini, S2 di sini.” Ayah berkata tanpa penekanan. Mungkin sudah bosan dengan gaya bicaranya dulu yang selalu penuh tekanan.
Aku tidak berdebat lagi. Itu bisa dipikirkan nanti. Yang jelas sekarang aku harus sarapan dan istirahat.
Sore ini aku mengabarkan pada Fauzan akan main ke rumah. Aku penasaran seperti apa istrinya, seperti apa anaknya, dan tinggal di rumah seperti apa. Meski ia sahabat baikku, kadang ia menjadi satu-satunya yang kuanggap saingan. Ia pintar, dan selalu juara kelas. Aku selalu di bawahnya. Hanya sekali aku melampauinya, kelas 1 SMA, saat itu ia kena cacar tepat di musim ujian. Dan sekarang dalam hal rumah tangga, ia mendahuluiku, lagi-lagi.
“Assalamu’alaikum.” Aku mengetuk pintu kayu setengah terbuka itu. Ada motor tua yang masih sedikit berderak, tanda baru tiba dari perjalanan panjang.
“Wa’alaikumussalam warahmatullah.” Suara wanita muda mendekat, membukakan pintu. Wanita berjilbab ungu tua, mungkin ini istri Fauzan. Ah, untuk selera, dia juga tak bisa diragukan.
“Maaf, apa Fauzan ada di rumah?”
“Oh, ada, silahkan masuk dulu. Kebetulan Mas Fauzan sedang di belakang, silahkan duduk.” Wanita itu terus memandang lantai.
Wanita berjilbab ungu itu kembali masuk, agak lama barulah Fauzan keluar dengan wajah segar. Baru mandi rupanya. “Maaf lama, Ga.”
“Nggak apa-apa. Rumahmu nyaman Zan.”
“Kecil.”
“Nyaman itu nggak bisa dinilai dari besar-kecilnya.”
Uzan nyengir. Tak lama seorang wanita yang berbeda keluar membawa nampan berisi 2 cangkir teh dan setoples jajanan. Apa ini? Jangan-jangan istri Fauzan dua?
“Ini istriku, Zan. Mi, ini sahabat terbaik abi, baru pulang dari Berlin.”
Istri Uzan mengangguk sembari tersenyum. Manis juga. Agak mirip dengan wanita yang membukakan pintu.
“Mana anakmu Zan? Aku harap ia mirip umi-nya.” Aku tak sabar membandingkan anak Uzan dengan bapaknya.
Fauzan terkekeh. “Kebetulan kalau sekarang sih masih mirip abinya.” Ia berjalan ke kamar, lalu kembali dengan membopong bayi usia 6 bulan yang gemuk dan super gembil.
“Subhanallah, mirip kamu!” Aku memainkan telunjukku di jemari gemuk anak Fauzan. “Namanya?”
“Iqbal.”
“Haloo Iqbaaal,” tanganku sedikit gemetar saat mengusap kepala plontosnya. Ia begitu ringkih.
“Sebentar, tadi yang berjilbab merah marun itu kan istrimu. Lalu yang membukakan pintu, mm yang berjilbab ungu itu siapa? Mereka tampak tak terlalu jauh beda, Zan.” Jemariku masih digenggam Iqbal, aku menikmatinya dan senang.
“Adik kembar istriku.” Lalu ia tersenyum jahil. “Nggak identik.”
“Oh.” Aku hanya ber-oh. Tapi otakku memutar kembali adegan saat ia membuka pintu. Argh, apa ini?
“Kamu menetap di sini atau akan kembali ke Berlin?”
“Seminggu saja di sini, lalu kembali untuk wisuda. Selanjutnya aku belum tahu akan bekerja di sana atau kembali ke sini. S-1 masih kurang buatku.”
“Kamu masih saja obsesif. Nikah dulu saja lah.”
“Belum ada calon.”
“Mau kucarikan?”
“1 minggu tidak akan cukup Zan, sebelum ini aku belum pernah memulai.”
“Belum memulai sudah pesimis?”
“Coba saja ajukan seseorang buatku, kamu pasti tahu menikah itu proses. Dan butuh waktu lama.”
“Oke. Tunggu kabar dariku.” Fauzan tentu lebih tahu seperti apa wanita yang bisa memenuhi kriteriaku.
Ini aku. Sudah kembali ke Berlin sejak sebulan yang lalu. Udara masih dingin meski di depanku ada kopi panas pekat. Aku sedang skype-ing dengan Uzan, istrinya, dan dia.
Malam ini aku tak juga lelap, padahal suhu pemanas sudah pas dan kasur empuk menunggu. Barusan aku berdoa, untuk ketiga kalinya aku bertanya dan dijawab dengan hal yang sama. Apakah ada jalan semudah ini?
“Bu, sampaikan ke Ayah. Kalau tidak setuju, mungkin akan jadi kali kedua aku membangkang.” Darah Medan rupanya masih cukup merajai. Aku masih suka memberontak meski aku tahu itu tidak baik.
“Kamu tahu nggak, punya 2 orang laki-laki dengan watak yang sama sepertinya penyebab uban ibu melebihi nenek-nenek.”
Aku terkekeh. “Itu hanya masalah gen, Bu. Jangan dicabut, hehe.”
“Tapi kamu harus tahu Ga, selama ini Ayahmu selalu bangga setiap bercerita tentangmu. Ia bertingkah seolah pilihanmu ke Berlin itu salah hanya saat kamu ada di rumah, kamu tahu kan?”
Aku mengangguk meski tahu ibu tak melihat.
“Ya sudah, nanti ibu akan cerita ke Ayah. Dan, bilang ke dia, ibu ingin ketemu.”
Aku mengangguk lagi. Kumatikan ponsel setelah bersalam.
Sepanjang hari aku hanya berdiam diri di Al-Falah. Bertemu kawan yang berbeda tiap jam. Mengobrol seru dengan beberapa kenalan. Membuatku sedikit melupakan ketegangan yang sedang kurasakan.
Nak, ibu dan ayah sudah ketemu dg dia. Ibu suka. Ayah juga. Segera saja kalau sdh siap.

Aku berulang kali memastikan sms ibu. Ayah juga. Ibu tidak bicara lebih banyak, tapi itu sudah cukup.
Dan di sini aku sedang duduk menahan debar yang berlomba. Ku ulangi lagi hafalanku semalam. Ayah duduk di sampingku. Ku amati sejak kemarin, ayah benar-benar tulus menyambut rencanaku. Semalam beliau berkata, lakukan apapun yang ku inginkan selama itu baik. Aku terkejut tapi senang.
Ayah menggeser duduknya. “Kalau nanti anakmu laki-laki, jadi dokter spesialis bedah saraf ya!”
“Ayaah… ia akan jadi apa yang ia mau.”
Lalu ayah menghela nafasnya, pasrah. Segera prosesi itu dimulai. Setelah ini, aku resmi menjadi suami Alia. Adik kembar dari istri Fauzan. Seorang dokter gigi.
“Semoga anakmu sehat semua, laki-laki dan perempuan. Yang laki-laki dia akan jadi dokter spesialis bedah saraf, yang perempuan akan jadi apa yang ia mau.” Ayah merasa itu sudah adil, tapi aku tergelak di tengah deru ketegangan. Ayah tak cepat putus asa.
Ini Rumah Sakit. Alia akan melahirkan. Doakan ia dan anak-anakku sehat.
malam ahad, ruang hijau
hanya fiksi

[Prosa] Kalah

sepoi melambai mesra

sejuk wangi hujan terasa
sebuah buku setengah terbuka
alunan instrumentalia
sepasang mata kalah akhirnya
tertanda,
perindu malam
semalam bulan manis tersenyum,
ada terang di sampingnya
ku kata itu planet
ia ngotot itu bintang
tapi kurasa itu mars,
menurutmu?