(Cerita Mini) Zombigaret is My Middle Name

 

Fara masih duduk di sana, di samping gundukan tanah basah bertabur kembang. Sementara aku yang seharusnya ada di sampingnya untuk mengusap punggungnya, malah di sini menikmati aroma daun pandan yang seperti mengikutiku sejak tadi.

“Mas, rokoknya udah aku buang!”

Tanganku yang sejak tadi mencari-cari seketika berhenti. Kupandangi wajah istriku yang memasang wajah jahil, untuk melunakkan hatiku. Tapi aku tetap tak terima. Ini entah kali ke berapa dia melakukan itu. Oke, dia sedang hamil. Tapi bukannya aku sudah membuat kesepakatan untuk tidak merokok di dalam rumah? Masih kurangkah itu Sayang?

Aku berjalan cepat, melewatinya. Pergi keluar dari rumah. Kupacu motor bututku, aku harus mengisapnya! Bisa gila kalau tidak. Istriku memang tidak tahu kalau aku sedang suntuk. Pekerjaan menumpuk, dimarahi bos, tagihan kredit rumah. Masa bodo! Yang jelas aku harus merasakan kenikmatan saat ini juga.

Dan di sinilah aku, duduk sendirian di depan kios rokok. Sedang membakar gajiku sehari. Ah, nikmat. Nikmat! Istriku nggak akan paham karena dia sendiri belum pernah coba. Tapi sebusuk-busuknya aku, aku juga nggak akan rela kalau dia ikut mengisap asap yang kusemburkan. Yah, nikmatilah sekarang, sepuasnya.

“Bau rokok.” Istriku mengusap perut buncitnya lalu memanyunkan mulutnya saat aku pulang.

“Yayaya, aku mandi.”

Dia menghela napas berat. Aku hanya diam, tidak ingin menambah keruh. Emosi ibu hamil, tahu sendiri kan? Aku nggak akan menanggapi. Yang penting hasratku merokok hari ini kesampaian. Sisa rokok aku sembunyikan di bawah jok motor.

Selama aku mandi, istriku merepet soal uang kredit rumah, ganti motor, uang lahiran. Gustiiii, inikah rasanya jadi suami? Banyak betul sih yang harus dikeluarkan, dipikir aku ini mesin pencetak uang? Oke, aku tahu dia hanya menyindir. Dia sedang menyindirku kalau selama ini aku hanya membuang uang yang seharusnya untuk membayar kebutuhan primer. Untuk apa lagi? Merokok.

Bukan hanya sekali aku mencoba berhenti merokok. Mulai dari puasa, sampai menghabiskan berkantong permen mint untuk menghilangkan asam di mulutku. Maki saja orang-orang di kantor yang masih setia dengan gembolan rokoknya. Mana mungkin aku hanya mengisap asap dari mereka saat jam makan siang. Tentu saja aku harus menghormati mereka, dengan ikut merokok. He.

Terima kasih kepada bapakku yang mengenalkanku pada rokok. Ah, juga teman-teman kuliah, yang membuatku mengenal si teman terbaik menggarap skripsi. Toh ini bukan narkoba, atau miras. Ya kan?

Saski menyodorkan payung ke atas kepala ibunya. “Bu, ayo pulang. Hujan.”

Ibunya masih bertahan, tangannya bahkan mulai mengais tanah merah basah di depannya tempat suaminya terbaring untuk selamanya. Hanya tinggal mereka berdua di pemakaman. Dino, calon suami Saski yang akan menikahinya 7 hari lagi, sudah di balik kemudi sejak tadi. Akhirnya Saski sedikit memaksa ibunya, ditariknya lalu dituntunnya pelan ke mobil.

“Tinggal 7 hari sebelum pernikahanmu, Nak. Kenapa begini cepat?” Suaminya memang sudah berjuang selama 7 bulan terakhir. Kanker paru-paru, end stage. Tapi dia terlihat begitu sehat mempersiapkan pernikahan putri tunggalnya, jadi mengapa? Fara kembali menangis, air matanya mengalir deras meski tak ada suara keluar dari bibirnya.

Maafkan aku Fara, seandainya aku menurutimu, sejak dulu…

Aku pergi. Bersamaan dengan meluncurnya mobil yang membawa istriku, anakku, dan calon suaminya menembus derasnya hari hujan. Wangi pandan masih mengitariku. Tuhan, bolehkah aku meminta waktu lebih? Untuk menikahkan putriku, untuk menunggui kelahiran cucu pertamaku, untuk hidup menemani Fara istriku tercinta?

Oke, aku tahu ini terlambat. Aku tak perlu jawaban. Zombigaret is my middle name.


 

Zombigaret adalah manusia yang terlalu banyak merokok sehingga badannya jadi rusak dan dia jadi zombi. Zombigaret: zombi karena sigaret.

Tulisan ini diikutsertakan pada Lomba Menulis Zombigaret. Doakan menang ya! 🙂

Ayo kita kampanyekan Anti-Rokok, keep healthy ^^ Quit smoking, NOW.

Advertisements