Tumpeng

Bismillahirrahmanirrahim

Ceritanya hari ini khadimat bikin tumpeng buat nyenengin tukang-tukang yang lagi garap. Padahal aku pengen banget motong tu tumpeng, haha. Tapi apa daya, yang ada kebagian lauk-lauk-nya aja secukupnya. Seneng ngeliat tumpeng deh, bangga banget sama warisan budaya ini. Kamu? Mau ga tumpengnya? 😀

Advertisements

Travel – Museum BRI, Happy Day!

Bismillahirrahmanirrahim…

Horee! Hari ini syenang syekali (gaya dr Joy di Film Arisan 2). Akhirnya bisa ke Museum BRI. Ckck, sudah berapa tahun menghuni Purwokerto kok belum pernah ke Museum Bank yang asalnya dari kota ini sih?

Hari Kamis, aku ngajakin my partner in crime buat main ke museum. Karena setahunya jumat tutup, maka kami berangkat sabtu (hari ini). Kami janjian di sana. Jam 9 aku berangkat dari rumah, dan mendapati sepi yang mencekam. Tutup sodarah! Aku tanya ke twitter, dan ternyata emang tutup T_T. Padahal katanya ada ruangan bawah tanahnya…

Yang penting semua terjawab saat pintu tertutup, huwe..

Tapi hal itu tidak menyurutkan semangat kami buat main. Aku sudah nyiapin bento isi sushi dan onigiri buat si dia, dan sebotol air. Aku juga bawa Alph untuk kuajak jalan-jalan (meski strap-nya lagi ilang, hik). Jadi kami serasa kembali ke masa lampau karena arsitekturnya memang Belanda punya. Berasa ke Vredebrug lagi.

Pokoknya keliling poto sampe mabok, setelah memakan sushi. Istirahat makan onigiri, trus cabut. Kami ke Rumah Cahaya buat ngembaliin bukunya mba Avis, terus naro 1 copy Ginger Love di sana. Abis itu makan bakso malang di Sorpelem. Lanjut ke alun-alun buat nunggu seseorang, panas bukan main. Sambil liat anak main layangan (keinget main layangan di sawah). Pulang dengan bahagia. Alhamdulillah for today.

Cook – Karambi Udang

Bismillahirrahmanirrahim…

Yeay. Masak di hari pertama tahun 2013 (musti ngebiasain lagi nulis tahun yang baru). Belom punya kalender pula nih, biasanya mah pake kalender anak islam, moga-moga ada lagi di Gramedia.

Kemarin tuh liat WP-nya Ima, baru masak Karambi Udang, aku sendiri baru tau ada resep beginian katanya resep masakan padang. Dan kesukaan Ima, berarti enak kaan? Kebetulan lagi punya udang tuh, jadi ngga mikir lama lagi tinggal beli bahan yang dibutuhin terus dimasak deh. Mau liat resepnya juga? Mampir nih ke rumah Ima. Nggak persis sama, masaknya. Karena nggak pake daun kunyit, dan pakenya parutan kelapa bukan ampas, trus nggak diulek bareng bumbunya, trus minyaknya juga nggak terlalu banyak (kalo banyak pastinya lebih enak dan keluar rasanya). Tapi aku yakin rasanya nggak jauh beda, hihi. Baru nyicip dan enaakk. Abis bosen nggak sih masak udang gitu-gitu doang? Makasih Imaaa…

Ayo dicicipin! 😀

WP - Karambi Udang

WP – Karambi Udang

 

Beach. Karangbolong-Pasir

Bismillahirrahmanirrahim…

Yum, maghrib tadi baru sampai rumah setelah seharian dari pagi nyasar di pantai Karang Bolong dan pantai Pasir Kebumen. Sengaja sih, sekalian pulangnya mampir ke rumah Mbah di Nusawungu.

Sejak ke Menganti, si bapak googling map dan ngeliat ada pantai di Pasir. Akhirnya destinasi wisata kali ini ke sana. Karena kebelet pee, akhirnya mampir dulu ke pantai Karangbolong khawatir di Pasir nggak ada toilet umum. Dan ternyata, karangbolong rame, dan ok… cuma gitu-gitu aja. Mana airnya kotor, karena muara sungai-sungai. Cuma ada karang-karang bolong doang. Buatku yang sangat sering ke pantai selatan, itu biasa banget.

Akhirnya lanjutkan perjalanan ke tujuan. Dan seperti apa tampaknya? Hanya kecil saja, dibatasi bukitan dan… tepi pantainya penuh dengan kapal nelayan. TPI (Tempat Pelelangan Ikan) yang bau dan cuma ada sedikit ikan. Well, di sana cuma ada pemandangan para nelayan dan kapalnya yang sedang merapat. Sebentar saja, lalu cabs.

Karena hitungannya sudah masuk Kebumen, perjalanan jadi makin lama. Kami mampir dulu di RM BR (samarin deh), yang di parkirannya penuh dengan mobil. Ramai berarti apa coba kalau RM? Ya kita masuk yah, padahal pengennya ke RM Padang aja biar cepet dan enak pula. Kami pesen paket-an 5 orang. Selain lama (karena banyak yang pesen) sejujurnya kecewa sama rasanya (harusnya ga boleh bilang ga enak ya, hehe) tapi beneran deh.. hampir hambar..

Abis itu, lanjut ke pantai Jetis (dulu pantai ini destinasi wisata banget buatku, sepi soalnya). Dulu pernah sekali, musim bintang laut, ada di pantai ini. Sekarang pantainya ramai, ada kolam renang dan warung-warung makan. Kami sih nggak ke situ. Tujuan kami ke TPI, Jetis, yang lumayan besar memang. Ramai banget deh! Harga melonjak. Udang besar, satu kilonya 70ribu. Terus beli rajungan (sejenis kepiting), dan ikan bogo laut, terus ikan asin pastinya.

Cabuttt, lanjut ke tujuan terakhir : rumah embah. Cuma sebentaran, metik-metik cabe, hahaha. Karena gerimis dan udah sore, kamu pulang deh ashar. Yeah, lumayan deh perjalanan kali ini. Pelajaran yang dipetik: aku sudah bosan laut standar, jadi Menganti dengan karang dan bintang laut dan bulu babi-nya masih lebih baik dari pasir dan laut. Sekian.

Weekly Photo Challenge : Green

Bismillahirrahmanirrahim…

Pertama kali ikutan WPC, hihi. Mungkin ada beberapa yang udah pernah diposting di Photoblog jadi watermark-nya bukan haya najma’s tapi gapapa, pengen nyobain Gallery 😀 Please enjoy the fresh green 🙂

All about green 🙂

Guruku, Pahlawanku

Bismillahirrahmanirrahim…

Suatu saat aku sangat mengimpikan menjadi seorang guru meski tujuan dari pendidikan yang sedang kujalani adalah seorang dokter. Tapi bukankah kita akan selalu menjadi guru bagi anak-anak kita? Dan kita yang menentukan, guru seperti apa yang akan mendidik mereka di sekolah kelak.

Aku, sekitar 12 tahun yang lalu. Bocah culun yang bahkan menyeberang jalan sendiri saja tidak berani karena selama ini bersekolah di dekat rumah. Selama 6 tahun sebelumnya aku adalah anak penakut. Akankah 3 tahun itu aku berubah menjadi seorang pemberani? Di sekolah yang kecil ini?

Aku berdiri, di depan SMP-ku. Kecil, letaknya di gang. Bukan impianku untuk bersekolah swasta, dan di sekolah islam. Anak-anak pendaftar berkerudung. Aku? Berkaos dan celana pendek, kurasa, pergi mendaftar bersama ibuku dengan becak. Aku mencemooh. Tak pernah kubayangkan itu akan menjadi sekolah terindah sepanjang masa.

Aku berbaring, pura-pura sakit kepala. Aku memang sering pingsan, karena ternyata (setelah aku tahu sekarang) aku memiliki semacam hypotension postural yang bisa membuatku pingsan bila berdiri terlalu lama. Itu membuatku memiliki celah untuk berkata: aku sakit kepala. Aku tidak ingin berangkat sekolah. Guru SD-ku begitu menyebalkan. Kalau aku terlambat, aku akan dijemur di bawah tiang bendera. Dan sekarang aku bangun kesiangan, aku tidak harus berangkat kan? Aku kan sakit kepala!

Di SMP, aku sekelas dengan anak-anak perempuan, tidak ada laki-laki. Laki-laki berbeda kelas. Selama 3 tahun, aku bersama mereka. Mengikuti berbagai macam kegiatan, memperebutkan berbagai macam kejuaraan dalam lingkup sekolah. Kami rajin menyimpan piala bergilir karena kekompakan kami. Di sanalah aku belajar menjadi seorang pemberani. Bahkan aku-AKU-bermain drama konyol di hadapan seluruh adik kelas putri, berperan sebagai Ahat, dan masuk ruangan dengan kacamata hitam. Itu bukan aku, kurasa. Di deretan depan, ustadz-ustadz juri terpingkal melihat polah kami begitu pula para adik kelas kami. Selama beberapa saat ke depan, kami menjadi seleb sekolah.

Aku pingsan lagi. Di depan kelas, saat mengerjakan tugas dari guru killer itu. Tak berapa lama setelah ia mengetuk kepalaku dengan penghapus papan tulis. Lalu guru killer itu menggendongku ke UKS. Rasanya UKS sudah jadi tempat yang sering kusinggahi. Aku benci, aku benci. Bolehkah aku pindah sekolah?

Aku tidak pernah terlambat, aku berangkat pagi dengan semangat! SMP-ku bersistem full day school. Kami boleh pulang setelah shalat ashar berjama’ah, tapi bahkan aku dan teman-teman masih suka berada di sekolah sampai sore hampir habis. Guru-guruku kebanyakan pengajar muda, fresh graduate. Mereka guru-guru yang sangat baik! Tidak ada yang kuanggap killer, bahkan sekaliber Ust. M yang mengajar Tahfidz cukup keras. Aku datang pagi, kusalami semua ustadzahku. Kadang saat kami punya tugas menghafal kosakata inggris, dengan rajin aku menghadap di depan gerbang dan mulai melafalkan hafalanku.

“Aku nggak mau berangkat!” Aku mengurung diri di kamar mandi. Aku sudah terlambat. Lagi-lagi aku bangun kesiangan. Aku tidak mau dihukum, lebih baik aku tidak berangkat.

Bersepeda pulang-pergi, dan tak sabar menunggu hari esok. Itu semua tak lain karena ustadz dan ustadzahku yang begitu sabar. Tidak pernah kami mendapat marah tanpa alasan. Bahkan ketika kami tak sengaja membuat marah salah satu ustadz kami, sorenya kami menyewa angkot dan berkunjung ke rumahnya untuk minta maaf. Suatu saat kami protes, PR kami terlalu banyak, kadang hampir semua guru memberi kami tugas. Setelah itu mereka membuat kebijakan, maksimal 2/3 PR sehari.

Teman seperjuangan, 3 tahun bersama

Tidak, tidak semua guru di SD-ku membuatku tidak mau sekolah. Hanya di kelas 3 dan 5 aku dipertemukan dengan guru yang kurang aku sukai. Sampai aku, yang notabene sangat patuh pada peraturan, memaksa tidak masuk sekolah beberapa kali karena ketakutan. Di kelas-kelas lain, semua berjalan begitu baik karena mereka guru-guru yang baik. Tapi kesan tidak menyenangkan membuat masa itu bukan masa yang aku kenang dengan baik.

Aku mulai mencintai menulis saat SMP. Kami tergabung dalam klub Majalah Dinding. Bahkan aku mendapat award Penulis Produktif (hanya produktif saja dihargai). Ustadz/ah kami bukan guru, mereka teman. Mereka akan mengunjungi rumah kami kalau merasa perlu. Aku mulai menemukan kesukaanku saat SMP. Dan tentu saja, sejak saat itu aku memutuskan berhijab. Kesedihanku saat pertama kali menginjakkan kaki di sana, hilang tak berbekas. Aku merasa beruntung.

Dan, di akhir masa SMP-ku aku lulus dengan nilai yang memuaskan. Sebelumnya kami diharuskan mengisi lembaran, ingin melanjutkan ke manakah kami setelah itu? Sebetulnya seandainya SMA dengan yayasan yang sama dengan SMP-ku sudah akan dibuat, tapi bukan saat kami lulus. Jadi kami memutuskan memilih SMA Negeri. Aku memilih salah satu SMA Negeri favorit. Aku ingin masuk ke sana. Titik. Dan untuk kali itulah, aku merasakan sebuah keinginan yang begitu besar, yang baru pernah kurasakan. Aku masuk SMA yang kuinginkan.

Seseorang belajar dari kesalahan. Aku belajar dari kesalahan salah seorang guruku. Kemarahan sama sekali tidak berguna. Bahkan belakangan ini seorang dokter spesialis bedah yang menjadi favorit kami, berpesan padaku dan seorang temanku.

“Saat nanti kamu punya anak, kamu akan belajar, bahwa kemarahan sama sekali tidak berguna.”

Senakal-nakalnya anak-anak, ancaman bukan cara yang baik untuk mendidik. Ikuti alurnya, ikuti pikiran anak-anak. Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang mengutamakan keinginan anak-anak, aku pikir. Kita sebagai guru, berusaha mengajarkan mereka untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Hukuman tentu boleh, namun bukan dalam bentuk kekerasan fisik maupun mental. Guru yang cerdas adalah guru yang turut membentuk kepribadian murid-muridnya, membangun dan mengembangkan kesukaan mereka. Guru yang baik, adalah mantan murid. Ia tahu pasti, apa yang ia inginkan ketika menjadi seorang murid.

Kepada seluruh ustadz dan ustadzahku di SMP Al-Irsyad Purwokerto, kuucapkan, kalian pahlawanku. Terima kasih.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Gerakan Indonesia Berkibar, semoga turut memberi masukan untuk dunia pendidikan di Indonesia.